MUKA-KU-KU-BUKA

Semakin banyak coretan di muka-ku
Garis-garis halus mulai gampang dipandang
Semakin banyak noda hitam di muka-ku
Bintik-bintik kecil mulai subur berkembang
Semakin banyak lubang tertutup di muka-ku
Pori-pori berpeluh mulai tersumbat karang
Semakin banyak pedang hitam di muka-ku
Bulu-bulu tipis mulai menampakkan garang

Muka-ku di peristirahantan lajang
Entah garis-garis itu akan sampai dalam yang sangat
Entah bintik-bintik itu akan sampai kentara yang sangat
Entah pori-pori itu akan sampai rapat yang sangat
Entah bulu-bulu itu akan sampai putih yang sangat
Aku tak tahu dan tak mau tahu dan memang tak’kan tahu

Maka sebab tahu yang keadaannya begitu
Harap-harap cemas bersama garis-garis
Takut-takut garis hidup berbalik ke arah nahas
Harap-harap cemas bersama bintik-bintik
Takut-takut bintik keji semakin ramai di kertas duniawi
Harap-harap cemas bersama pori-pori
Takut-takut pori hikmah tersumbat serakah
Harap-harap cemas bersama bulu-bulu
Takut-takut bulu bersaksi tentang dosa setelah raga menjadi abu

Muka-ku di peristirahatan lajang
Mohon kau saksikan aku berdo’a di tengah siang
Di Jum’at sebelum dan sesudah mendengar Khotbah
Harap-harap-ku cemas-cemas-ku
Semoga garis segaris kebenaran
Semoga bintik disertai ketaqwaan
Semoga pori bersumber kemapanan
Semoga bulu disertai kebijaksanaa
Muka-ku ku-buka di bait-bait penuh do’a

Dan saksikan pula pemungkas do’a
“Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah
wa fil aakhirati hasanah
wa qinaa azaaban naar”
Sapu Jagat semoga dikabul Sang Maha Pemberi Rahmat
Muka-ku ku-buka penanda hamba bersujud penuh dosa


Sebelum dan sesudah Khotbah, Jum'at, 07 Agustus 2015

No comments:

Post a Comment