PEMUDA PINGGIRAN CERITANYA

Dua sahabat se-permain-an
Diam-diam aku iri - aku terkesima, aku salut, aku bangga - kepada dua sahabat se-permain-an ini. Merekalah sang penantang impian yang sebenarnya. Merekalah manusia-manusia yang tercipta dari getir-getir bencana alam, bencana sosial, bencana ekonomi berbasis kepentingan. Mereka semangat, mereka lepas dari bumi ke langit (Bondan).

Baju putih bernama Labibul Wildan, dengan tas slempang yang selalu dibawa kemana-mana. Isinya adalah batu-batu akik dan "embanan"-nya. Saban malam ia kesana-kemari di usia mudanya, menagih uang piutang dari setiap pelanggannya. Mari lihat dari sudut pandang berbeda. Berfikir. Dia adalah rahasia aliran sungai yang menuju pada ketinggian (Bondan).

Baju biru bernama Abdullah, sang hamba Allah, manusia paling kreatif dari pinggiran Jambesari (desa gue Bung). Pekerjaan yang paling inti adalah sebagai pencuci motor dan mobil. Tapi jangan heran, dia juga pengusaha Play Station, pembangkit usaha keluarga yang kini juga menghampar setiap hari sebuah lapak Sosis dan Jendol. Dan belakangan, kreatifnya kumat lagi, adalah neon-neon rusak menjadi mangsanya. Di-repair, di-mainkan, hingga menjadilah ia uang-uang yang berserakan. Mari lihat dari sudut pandang berbeda. Dia juga adalah rahasia aliran sungai yang menuju pada ketinggian (Bondan lagi).

Pengambil foto bernama Ahmad Taufiq, diam-diam ia menegaskan, peluh mereka adalah peluh yang lepas dari bumi menuju langit. Kemudian dibawa hujan, menjadilah rahasia aliran sungai yang menuju pada ketinggian.

29 Agustus 2015

No comments:

Post a Comment