SEBARIS KALIMAT YANG DATANG; LANGIT GUGUR

Dewi Airlangga (71)

Langit gugur
Permadani hati menggempur
Malaikat-malaikat turut tersenyum
Angin seakan berhenti
Awan hitam kabur gesit
Nyanyian alam hampir memecah waktu
Lucut luka-luka
Air mata bukan lagi arti sebenarnya
Bertahun-tahun apalah artinya
Sajak-sajak yang melankolis
Mula-mula tersenyum manis
Dewi Airlangga...
Aku melupakan takdir selanjutnya
Sampai disini jiwa telah bersukur sempurna
Aku melupakan harapan selanjutnya
Sampai disini jiwa telah bersukur sempurna

Sebaris kalimat yang kau perikan
Luapan kebahagian yang kugenggam

Ingin berpura-pura biasa
Tapi bagaimana getir cinta padam begitu saja
Ingin berpura-pura sederhana
Tapi bagaimana panorama eksotis dibiarkan saja
Ingin berpura-pura tak ada apa-apa
Tapi bagaimana bidadari harapan diacuhkan begitu saja

Sebaris pesan yang kau perikan
Luapan puisi yang membuatku tak sadar

Tak sudi tangan ini diam sedetik-pun
Kuabadikan lagi kisah roman berkepanjangan
Tak sudi hati ini berbohong sedikit-pun
Kuurai kalimatmu dalam sejagat keistimewaan
Tak sudi mata ini mengering tanpa perlawanan
Kubesarkan namamu dalam keanggunan

Dewi Airlangga
Seperti terkata sebelum langit gugur
“Bukan apa-apa, hanya mengikuti keinginan hati yang harus bagaimana. Setiap ketetapan adalah takdir, setiap langkah adalah harapan. Setiap harapan hanya ada seorang pecundang yang bisa-nya diam. Tak ingin harapan, karena harapan mula-mula tak terdefenisikan. Ini hanya cerita perjalanan. Entah sampai dimana, mungkin esok jalan sudah tiada, mustahil kembali, sebab jalan sebelumnya adalah milik para pencerita selanjutnya.”
Maka ada-ku adalah sama
Sampai Tuhan yang akan memutuskan
Kaisar Air Mata akan bagaimana
Dewi Airlangga akan bagaimana

Jangan ada yang menangis
Jangan ada yang ber-belas kasih
Jangan ada yang berdalih menolong air mata
Jangan ada yang mendefinisikan derita
Jangan ada yang mengurai sesederhana pecundang
Jangan ada yang mencibir harapan
Jangan ada yang mengacuhkan mimpi
Jangan ada yang menghitam-hitam-kan cinta
Sebab, Kaisar Air Mata telah melaluinya
Jika tak percaya maka jangan bertanya pada Dewi Airlangga
Tanyakan pada ritme sajak yang aku-pun tak percaya

Terima kasih Tuhan
Ada alur kebijaksanaan
Dimana teka-teki ini bukan perjudian
Selalu ada pemenang
Tak ada selendang kekalahan
Adanya adalah pecundang
Bisu dengan harapan
Bisu dengan kejujuran

Terima kasih Dewi Airlangga
Ada alur kebijaksanaan
Dimana cara-caramu bukan kekejaman
Selalu ada pemenang
Tak ada selendang kekalahan
Adanya adalah pecundang
Bisu dengan jawaban
Bisu dengan kejujuran


Jambesari Bahagia, 05 Agustus 2015

No comments:

Post a Comment