SEHARI MENUJU DUA TAHUN

Dewi Airlangga (78)

Esok kita akan berjumpa di Banyuangga
Dibawah terik langit sengit yang manis
Kita akan saling lontar basa-basi
Anggap pernah bersua berkali-kali

Esok kita akan saling beradu tema
Kau dengan keramahan tanya-tanya
Sedang aku menunjukkan tiket Bromo sebelumnya
Dengan sedikit gugup yang disembunyikan

Esok kita akan berjumpa dengan awal kisah
Dua tahun silam esok itu digambarkan
Bentang waktu yang amat panjang bukan
Meski kadang terasa kilat menyambar

Esok kita akan tiba di kecamatan Lumbang
Memainkan peran sebagai nasib yang ditetapkan
Kau yang kupasrahkan dari ketakutan
Lalu aku meluncur sendirian

Esok kita akan melangkahi pegunungan eksotis
Panoraman berhawa dingin dihinggapi milyaran kabut
Bersama kelakar jiwa-jiwa persaudaraan
Yang dengan mereka kita dinisbahkan

Esok kita akan meminang matahari terbit
Diatas puncak Bromo ia terbangun riang
Yang tanpa sadar cinta-ku turut terbangun gemetar
Lalu meminang harapan ke waktu berpulang

Esok kita akan menjumpai Gadjah Mada
Menengok goa tapanya di balik air terjun Madakaripura
Kita akan mengguyur raga dengan air bening dari ketinggian
Sembari diam-diam aku mencuri senyum keanggunan

Esok kita akan berpisah Dewi Airlangga
Pada pertigaan paling drama seantero hidup Kaisar Air Mata
Diam-diam aku bersedih lirih tanpa suara
Secepat itukah bahagia merajai kerajaan Mata-hati

Esok setelah esok hingga sekarang
Kini menancap seperti batu karang
Ombak tak mampu menggusurnya hingga pelaminan
Sebab kau ternyata tak sama merasakan yang kurasakan

Esok setelah esok setelah sekarang
Ada bukti-bukti terlantar pada jutaan persaksian
Dewi Airlangga telah menjadi keabsolutan makna
Dimana Kaisar Air Mata telah gagah mengusai aksara

Esok setelah esok setelah sekarang
Jangan tanyakan perihal penyesalan
Sebab penyesalan telah dibunuh dengan keikhlasan takdir
Sebab Tuhan tak sedang main-main

Setelah sekarang kita akan sadar wahai Dewi Airlangga
Ada hamparan hikmah yang kerap kali kita buta
Memandang cerita hanya sebagai nuansa
Padahal hakikatnya jauh dari tampaknya

Setelah sekarang kita akan bertemu lagi
Atau tidak sama sekali
Kita akan tetap begini
Atau akan berubah menjadi

Sudah bukan soal yang demikian terlontar
Takdir bukan permainan Tuhan
Mari kita anggap wajar sebagai kelas sekolahan
Pahami pelajaran lalu jadikan sandaran menuju masa depan

Bumi Kaisar Air Mata, 23 Agustus 2015

No comments:

Post a Comment