SUA ALGHORIZM

Kru LPM Alghorizm, 2014.
*(Istimewa untuk LPM Alghorizm STT Nurul Jadid, tempat aku belajar banyak hal, utamanya tentang Jurnalis.)

Sebentar wahai aku
Jangan ada bisik konspirasi hati
Tenang

Sebentar wahai aku
Jangan ada drama nista tentang kerinduan
Jujur

Sebentar wahai aku
Jangan ada distorsi histori pada rangkai kata
Adanya

Sudah, nafas normal mendayu-dayu
Sekarang silahkan mulai wahai aku

Sepetikan tentang Alghorizm
Dan aku yang dididik silam

Alghorizm adalah meriam luncur
Aku dihentakkan
Menuju
Langit itu luas
Hingar bingar kesombongan
Alam menantang
Kegaduhan berkoar-koar
Bising sekali kebodohan

Sudahlah
Melayang
Dibunuh musim hujan
Dibunuh musim kemarau
Hingga tak ada musim
Aku duduk pada sebuah ruang
Bias nama
Bias judul sebuah kumpulan kertas
Diberi tinta
Aku tak paham

Lalu
Mata kupandangkan pada sekitar
Semakin luas
Semakin tak sampai dimata
Alghorizm buatku tak berkedip
Sampai-sampai
Kering
Cekung si kelopak
Pedih si kornea
Indah sekali

Aksara-aksara mulai gila
Memaki objek-objek semula kerdil
Cepat
Lekas
Dihantam semua geng bajingan
Mereka bertangan setan
Berkepala malas
Dengan punggung tanpa beban
Kurang ajar
Alghorizm mengajakku tauran

Lagi
Gencatan tak bisa dinafikan
Aku rindu

Selepas hujan
Disinilah aku
Diundang
Celoteh buah pena saudara
Alghorizm berkabar duka
Mauku mengajak dansa
Tapi bagaimana
Kaki telah sejengkal langkah
Bagaimana
Aku berhutang banyak
Kopi tak bayar
Berbatang-batang rokok-pun demikian
Apalagi gerimisnya
Kini ladangku mulai subur
Bibitnya
Disini telah menunjukkan keindahan
Bagaimana
Lalu
Apa cukup do’a

Tidak
Tak cukup
Kuhadiahkan saja
Berpita merah
Berkotak emas
Di dalamnya adalah bukti
Alghorizm tak pernah ingkar janji
Didikannya adalah ajaran sakti
Bisa terbang
Bisa berkelahi
Bisa meremukkan perisai mimpi
Bisakah
Hidup tak perlu tanya ini
“Tuhan tak sedang berjudi”
Ingatku di Alghorizm kalimat ber-kutip terperi

Jambesari, 23.02 WIB, 29-08-2015
Rindu pada manusia-manusia dalam foto, khususnya "semua" yang ada dibarisan depan :)

2 comments: