SURAT TERBUKA UNTUK PARA PAHLAWAN

Dari cucu kalian
Apa kabar para mendiang tanah harapan
Tenangkah melihat kibaran pusaka suci di jalan-jalan
Tenangkah kini ia terbang bersama mesin-mesin
Tenangkah melihat pelajar bergerak angkatan perang
Di jalan-jalan memeriahkan agustus-an
Tersenyumkah kini pawai di titik-titik kota
Tersenyumkan kini pagelaran bernuansa kenangan
Ada puisi-puisi menggema tengah malam
Ada pentas teater berperan kalian
Ada diskusi-diskusi mapan
Ada renungan-renungan
Ada nama kalian dielu-elukan sebagai pejuang

Dari cucu kalian
Ada bingkisan fatihah
Ada pemanjatan do'a sesuai agamanya
Senangkah kalian para darah yang rela mengucur tanpa ketakutan
Senangkah, kami harap kalian senang
Tenangkah, kami harap kalian tenang

Dari cucu kalian
Kami mengumbar kemerdekaan
Kami mengembirakan kesan
Kami bersenang-senang, tapi, tapi, tapi
Kami tak sanggup meneteskan air mata
Kami tak sanggup lekatkan kekhusuk-an
Kami mulai kehilangan maknanya
Kami hanya berteriak bagai pesta nostalgia

Dari cucu kalian
Kami ingin menangis juga
Tapi dari siapa kami belajar
Ayah-ayah kami masih sibuk kerja
Di ladang, di kantor, di jalanan, di kebun
Di laut bergelombang kematian
Di sungai, di mana-mana
Bahkan di trotor, bahkan di bawah jembatan
Kami ingin menangis juga
Tapi dari siapa kami belajar
Ibu-ibu kami masih sibuk kerja
Di depan kaca rias, di forum gosip tetangga
Di kantor karier, di dapur tanpa gas, tanpa minyak tanah
Di mana-mana, bahkan di pojok malam
Ayah Ibu Indonesia
Ajarkan kami menangis untuk Indonesia

Dari cucu kalian
Kami ingin menangis juga
Tapi kepada siapa kami belajar
Guru-guru kami sibuk semua
Menyusun silabus, dikekang batas waktu penerapan
Menyusun kurikulum coba-coba, tak sampai hatam disobek bersama
Mencari nafkah untuk keluarganya sendiri
Mengajar hanya segaris buku
Mengajar hanya segaris ancaman atasan
Mengajar hanya kisah bergedok pengabdian
Mengajarlah tentang tangisan Indonesia, guru
Kami juga ingin menangis
Merasakan hantaman bedil
Merasakan ledakan meriam di jantung terakhir
Kami juga ingin menangis
Tak ingin hanya bernostalgia
Seperti reuni anak sekolah dasar saja

Kepada siapa?
TNI atau Polri
Presiden atau Wakil Presiden
DPR atau MPR
Bupati atau Gubernur
Pak Camat atau Pak Kades
Pak RT atau Pak RW
Kepada siapa kami seharusnya belajar
Air mata kami mulai beku untuk Indonesia

Atau kepada anak Jalanan
Atau pada artis suara berlirik Indonesia jualan
Atau pada artis peran yang malah kadang membuat najis
Sejarah di bolak-balik
Prilaku berlagak baik
Hancur imajinasi cucu-cucu kalian
Nyatanya para lakon tak ber-nyata pejuang
Atau...
Kepada patung-patung kalian
Di pertigaan-perempatan Ibu Kota
Di kota-kota besar
Atau...
Kepada museum
Akh, semua kini semakin jenuh kami memandang
Tak ada yang sanggup mengajarkan kami menangisi Indonesia

Dari cucu kalian
Kami ingi menangis juga
Datanglah pada kami
Lewat jalan apapun adanya
Jika-pun hanya lewat mimpi silahkan kami sambut riang
Ajarkan kami menangis
Sebab yang ada kini hanya sumringah tuntutan libur panjang
Sebab yang ada kini turunan proyek yang harus dihabiskan
Sebab yang ada kini hanya hiburan berhijab hari kemerdekaan
Sebab yang ada kini sambutan-sambutan kepentingan
Datanglah pada kami, cucu-cucu kalian
Yang tak sempat mata melihat kalian berjuang mati-matian
Ajarkan kami menangis
Kepada Indonesia yang kini tinggal Bendera dan Nama

Pra Dirgahayu Indonesia ke 70, 14 Agustus 2015

No comments:

Post a Comment