TENTANG UNGKAPAN “BIASA, BELUM BERKELUARGA”


Akhir-akhir ini, agaknya sering diciduk oleh ungkapan paling geli didengar. Seakan ada penindasan karakter kepada “saya” (bisa saja kalian), dianggap seperti mereka yang seakan-akan lebih atau paling pengalaman. Dan pengalaman itu mereka yakini akan juga terulang pada jalan hidup saya selanjutnya. Betapa sangat “intimidasi” bukan?.

“Biasa, belum berkeluarga”, begitulah ungkapan itu. Setiap ada sikap, prilaku, cara, mainstrem dan lainnya yang saya lakukan sering kali di-skak dengan kalimat tersebut. Kadang sampai mati langkah, kadang saya juga berusaha mencari jalan lewat pertanyaan-pertanyaan yang kemudian membuat geli untuk segera dibuktikan.

Sebuah contoh adalah tentang kesenangan jalan-jalan, baik malam minggu ataupun pada waktu-waktu senggang. Ketika saya menceritakan atau mungkin tak sengaja memberitahukan, si yang terhormat para orang tua, dengan nada sedikit mempecundangi mengatakan “Biasa, belum berkeluarga”. Hingga ada nalar-nalar nakal yang terjadi, apakah maksud mereka, apakah seberat itukah berkeluarga?, sehingga tak akan sering lagi atau bahkan tak akan ada jalan-jalan lagi ketika sudah menjalaninya. Atau, se-begitu indah-kah sebuah ikatan tersebut sehingga akan menjadikan lupa tentang indahnya jalan-jalan.

Dan ada contoh lagi yang agaknya lebih geli lagi. Contoh ini sedikit menyinggung garis ekonomi yang memang akan menjadi titik potong paling menyeramkan ketika dipertemukan dengan apapun “objeknya”, termasuk tentang berkeluarga, bahkan objek yang satu ini merupakan puncak dari keseraman tersebut. Contoh ini terjadi ketika saya berusaha menyongsong prinsip “anti-kapitalis mencari makna substantif”. Dan mula-mula ketika saya ada di salah satu lembaga pendidikan, saya berucap “aku tak memikirkan itu Pak, saya disini hanya mencari pengalaman dan pengabdian.”, secepat kilat kalimat sakral yang ada pada judul menyambar telinga. Hingga berkecamuklah batin ini untuk yang kesekian kalinya. Apakah maksudnya?, apakah saya akan menanggalkan prinsip saya yang mereka (sebagian) sebut “sok idealis” tersebut?, apakah akan begitu?, apakah berkeluarga akan merubah segala tatanan awal yang dikonstruksi penuh perjuangan?. Entahlah. Tanya ke tanya, saya belum membuktikannya.

Belum ada kesimpulan “konkrit” yang patut saya gambarkan pada catatan ini. Semuanya masih berjalan, semuanya masih pada jalur kebiasaan. Dan bukan menantang semua ke-geli-an yang sudah disebutkan. Catatan ini adalah bentuk penanda pada buku hidup yang selanjutnya akan berlanjut pada halaman lanjutan. Bagaimana kedepannya, saya akan membuka lagi catatan ini dan menjawabnya sendiri.

Dan pada intinya, saat ini, hanya usaha dan do’a. Yaa Allah, Ihdinas Siratal Mustaqim. Hanya pada Engkau kami memohon petunjuk, mohon tunjukkan jalan yang Engkau ridha’i. Bagaimana-pun nanti, semoga kalimat “Biasa, Belum Berkeluarga” ini mampu menjadikan hamba tetap pada jalan yang Engkau ridha’i. Amin.


Jambesari, Selasa, 01 September 2015

No comments:

Post a Comment