SALAM FACEBOOKER; COGITO


Tanpa ada acara panjang lebar. Langsung pada inti tujuan penyampaian. Sebentar, sepertinya butuh latar, biar catatan ini lebih bernuansa teatrikal. Lebih menarik pada “konspirasi” yang kesekian.

Latarnya begini, satu sudut pentas hidup adalah kebosanan, satu sudut lagi adalah kesepian, satu sudut lagi “tanpa alasan”, satu sudut lagi adalah “penuh alasan”. Pada atas-belakang lampu sorot fokus arah depan, sembari gonta-ganti warna sesuai pengaturan awal. Pada depan-bawah terdapat lampu terang yang acap kali menyilaukan aktor pentas yang sedang “berlaga” teatrikal.

Sudah, anggap catatan tentang latar sudah pantas dipaham. Sekarang beralih fokus pada kata “Facebooker”  yang disebut pada judul. Facebooker, secara definisi linguistik sudah pasti adalah mereka para manusia yang doyan main Facebook. Wajah dibukukan, mungkin begitu bahasa sederhananya. Ditarik dari bahasa sederhana tersebut, maka “saya” tanpa ragu menyebutkan, “konspirasi telah dimulai”. Sebab, pada Facebook kita hanya membukukan wajah. Apalah arti wajah, ia bisa memalsukan ekspresi, memalsukan imotikon. Bahkan, tangan yang seharusnya tak ikut campur kini ikut-ikutan (bukan tempatnya wahai tangan), disini  tempatnya wajah.

Sukar dipaham catatan ini bukan?. Memang dibuat se-sukar mungkin. Karena memang demikian memahami “dunia” yang serba sukar dipaham ini. Jangan pernah mendikte, mem-fix-kan status disini, sebab telah tersebut awalnya tadi, “Konspirasi telah dimulai”

Dan, ingat, penting sekali. Tak semua konspirasi adalah “value of” ke-negatifan. Konspirasi disini lebih pada pemilihan kata yang nantinya juga patut untuk diinterpretasi ulang lewat nalar-nalar yang lebih komprehensif terhadap keseluruhan “Wajah yang telah dibukukan”.

Perlu adanya penelitian “angka paling sering muncul” pada sebuah Buku Wajah. Bahkan untuk wajah yang garis-garis-nya tak se-masif garis-garis wajah “penggila Facebook” lainnya. Bukan sebuah tolak ukur pasti, bahwa yang diam berkarakter penonton, bukan berarti yang celometan berkarakter badai menghantam se-enaknya. Lagi dan lagi, konspirasi dimulai. Yang diam bukan berarti pula seorang yang anti-mainstream, yang ramai bukan berarti pula seorang narsisme yang dibaptis di gereja penuh harap penghormatan.

Luar biasa sekali kegaduhan di dunia yang satu ini. Wajah konspirasi yang sebenarnya menjadi parameter paling genik. Paling menarik untuk dikaji sedemikian rupa, apalagi sampai dimasukkan angka – berteori –, dan sang pencatat masih belum bisa. Dan disini pencatat bisa menjadi bisa. Dan (lagi) sangat mudah sekali. Sebab ini “Konspirasi”.

Ingin menjadi Fotografer, unggahlah tipikal ramai seorang Fotografer; Ingin menjadi Dokter, unduhlah foto-foto kesehatan di website sebelah, ungguh sebagai garis wajah, jadilah Dokter; Ingin menjadi Penulis beken seperti anggapan mereka pada “wajah” saya (toh sebenarnya tidak: penjelas), tinggal berpuisi layaknya penyair kelas Nasional, membuat catatan seperti ini, copas kata-kata mutiara dari sebelah, lalu menjadilah penulis. De el el (de el el –pun kini telah turut serta konspirasi, penuh misteri, mengikuti contoh sebelumnya).

Melayang-layang, terbang, ayo ikut berpetulang pada ajaran “Habermas”. Cogito.... Cogito.... Cogito.... No Parking Mind Area. Integrasikan pengalaman sebagai buah tanda untuk hidup yang akan mula-mula tak ada di dunia. Kapan, sekarang-pun bisa. Mati, menuju kehidupan selanjutnya, dunia yang baru. Maksudnya?.

Salam Facebooker

06 September 2015

2 comments: