SI DINAMIS MENCOBA MENJELASKAN KEDINAMISANNYA


Semakin jelas jika keseluruhan diri adalah si dinamis, hingga perlu adanya reflektor yang seharusnya dibuat ketika sedang berada pada titik tertinggi kebaikan dan kebenaran pribadi. Targetnya adalah melampaui dan juga sebagai tangga percepatan kala kembali pada titik yang paling rendah, bahkan di bawah titik paling rendah, atau boleh jadi; kosong.

Ditarik dari apa yang sedang dicoba untuk dijelaskan. Ada pengalaman-pengalaman tertumpuk berantakan, lalu rapikan sesuai kanalnya masing-masing. Jangan sampai ada campur aduk dari pengalaman-pengalaman yang justru menyesatkan pada titik yang ada kalanya hanya tipu muslihat keinginan (ego-diri) dan setan. Perlu kejernihan. Hingga kembali lagi, perlu adanya reflektor pada paragraf awal, sebab kejernihan kadang juga tipuan.

Agaknya memang sulit dijelaskan hasil pengalaman ini. Kegaduhan telah membawa pada titik "nista" (silahkan menurut persepsi masing-masing), lalu bagaimana mungkin secepat putaran bumi atas-bawah, perlu ada penggerak. Dan kadang bahkan sering, seolah-olah telah kembali ke atas, padahal tidak. Contohnya begitu.

Silahkan dipahami. Pengalaman antar individu berbeda. Maka dari itu, jelaslah keseluruhan diri adalah dinamis. Entah bagaimana takaran dinamis dibedakan antar pribadi-pribadi yang dengan perubahan ruang atom-pun telah membawa pada perubahan signifikan. Agak sulit diterka, apalagi tanpa teori. Meski kadang si dinamis yang satu ini mulai tak mempercayai teori yang dibuat oleh seorang pribadi saja. Alasan jelas pada penjelasan dari awal.

Bersambung...07.00 WIB
Lanjutan...07.75 WIB

Sekarang, kerucutkan pada waktu. Dalam bidang ilmu fisika, pada setiap formula yang menetapkan s (waktu) sebagai variabel akan selalu ada perubahan ketika mula-mula variabel tersebut berisikan nilai 0,000001 (bahkan dibawahnya). Hal ini searah dengan perubahan ruang atom yang telah disebutkan diatas. Dan seakan ada keselarasan antar individu bahwa perubahan adalah hasil pergeseran dari dua hal tersebut, yakni ruang dan waktu.

Lalu, apakah setiap perubahan yang sama dari dua hal tersebut akan menghasilkan perubahan yang sama terhadap individu yang berbeda. Anggap saja perubahan dua hal tersebut telah sama pada semua detailnya.  Berikut jawaban sementara, “tidak akan sama”. Karena ada perubahan-perubahan lain telah terjadi pada titik sebelumnya (anggap saja masa lalu) yang hal ini mempengaruhi pelbagai fenomena-fenomena tiap individu setelahnya.

Sederhananya, sesama apapun kita sekarang, maka kita tak akan pernah sama karena formula yang kita pakai sekarang “kebetulan sama” tapi merupakan turunan dari formula yang berbeda-beda. Kalau sudah demikian, apakah harus ada formula hidup yang menjadi ketetapan dan harus diajarkan sebagai falsafat “pemerkosa” terhadap individu-individu yang secara ukuran angka umur jauh dibawahnya.

Jadi, dari apa yang sebenarnya ingin mengungkap kedinamisan ini adalah bagaimana memahami secara komprehensif, bahwa ada banyak faktor yang sebenarnya belum diketahui. Boleh disebut satu atom, padahal dunia ini terbentuk dari “tak terhingga” atom, lalu bagaimana membuatnya sama. Dan demikian adanya tentang waktu. Hingga perlu pemahaman diri sendiri tentang dinamisnya diri sendiri. Bagaimana ia berubah, bagaimana ia kembali, bagaimana ia beralih dari “galau” menuju “memukau”. Bagaimana ia berubah dari “bajingan” menuju “religius-kebahagiaan”. Bagaimana ia berubah dari “setan” menuju “malaikat”. Sebab disanalah letak istimewa kita, si dinamis ciptaan Sang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.

Dan tak perlu ada kekangan pada setiap individu yang kebetulan kedinamisannya “sedikit dipengaruhi kedinamisan kita”.  Biarkan ia lahir dari formula-formulanya sendiri. Biar mereka turut serta belajar, bagaimana memahami kedinamisan mereka sendiri. Seperti formula kebanyakan soal fisika, “angin diabaikan”, “hambatan diabaikan”, keduanya adalah kita; biarkan mereka melawan.

Sedikit bias, sepertinya sudah tak mengerucut lagi. Kini diperjelas dengan korelasi antar dinamis yang sejatinya tak perlu dibahas pada catatan ini. Tapi, sebentar, ini justru pertanda kedinamisan yang cukup kongkrit. Awal niat catatan adalah tentang dinamis per-individu saja, bersambung pada sekitar jam 07.00 wib, hal ini karena si dinamis sang penulis ingin berangkat pada ruang yang berbeda (kerja). Lalu pada waktu yang pergeserannya tak sampai satu jam, yakni pada jam 07.75 wib catatan dilanjutkan. Dan beginilah hasilnya, ruang dan waktu, pergeseran atom dan s dengan isi variabel beda telah menghasilkan nalar yang berbeda. Struktur catatan, hierarki penataan, atau bahkan “mindset” tentang dinamis telah menuju pada formula baru yang lebih rumit.

Dan berhenti saja. Takut-takut sang pembaca telah sampai berhasil “diperkosa” oleh catatan yang hanya secuil saja dari jajaran atom-atom yang mula-mula berbentuk garis lengkung, garis lurus; vertikal; horizontal, warna dan disembunyikan oleh layar datar yang mungkin akan dikeluarkan oleh para pembaca yang berhasil “diperkosa” formula acak-acak-an.

09 September 2015

No comments:

Post a Comment