WPAP DAN “THINKING”


Sedang ada pada kanal sebuah seni grafis. Adalah Wedha yang memprakarsainya. Semakin lepas pada lajur garis-garis lurus. Facet yang memikat,warna yang kaya raya penafsiran; redup bukan kesedihan; terang bukan kebahagiaan, ukurannya adalah kemiripan dan nilai estetik yang tak mudah dinilai dengan parameter global. Bukan menganggap yang lain tak paham, tapi lebih pada multi-sudut cara memaknai tiap-tiap langkah perjalanan. Lewat takaran warna, pola dan abstraksi sebuah karya. Opening Thinking.

Diberi nama Wedha’s Pop Art Portrait karena penemunya bernama Wedha. Ia adalah seorang pelukis yang “bosan dengan hal biasa” – kata sebuah cerita — hingga ia menemukan cara baru dalam melukis, yang lebih unik; menarik; ikonik dan tentunya mempunyai nilai seni yang eksotik. Different Thinking.

Tanpa ada “perintah” untuk mengikuti konsep yang ia pakai, cepat sekali konsep cara melukis ini menjadi familiar. Banyak yang berkaca pada Wedha, kini ia menjadi titik temu sebuah hasil lamunan nakalnya. Figure Thinking.

Lepas dari konsep tradisional dengan melukis manual. Tiba akhinya pada sebuah era digital –Teknologi Super— Dengan istilah yang lebih keren, Desain Grafis. Mula-mula saja si WPAP naik kelas, aliran Wedha semakin mudah ditiru, bukan merupakan hal yang sangat-amat sulit sekali. Sebab jika salah tinggal menekan tombol Ctrl+Z, atau ubah warna cepat-kilat tanpa mengaduk lagi komposisi cat lukis atau bahkan tak perlu lagi mengubah kanvas. Progress Thinking.

Sekarang, ada masalah yang lebih urgen untuk dibahas pada tulisan ini. Adalah tentang bagaimana sebuah proses yang lari dari kemustahilannya. Terjadi maka terjadi, apakah Wedha pernah berfikir sebelumnya jika hasil lamunan nakalnya akan menjadi kaca bagi para penerusnya. Sebelumnya ia pasti berfikir mustahil untuk menjadi patokan sebuah konsep seni yang satu ini (Jika tidak percaya silahkan tanyakan pada Wedha). Apalagi –katanya— sampai diakui dunia internasional sebagai seni digital asli produk Orang Indonesia. Benar-benar mustahil bagi Wedha pada jauh waktu sebelum WPAP menjadi Trending seperti saat ini.Value Thinking.

Pertanyaannya, adakah kita sadari bahwa masing-masing dari kita mempunyai kemustahilan –sama dengan Wedha, ia juga manusia bukan— yang kita fikirkan saat ini. Dan kita percayai bahkan yakini  jikalau hal itu benar-benar mustahil. Jika sudah sadar. Maka bersiaplah terpukau. Karena suatu saat Kemustahilan itu akan lenyap dari perpustakaan kata yang ada pada benak kita. Positively Thinking.

Pertanyaannya lagi, apakah semua kemustahilan itu akan lenyap. Jawabannya adalah sejarah hidup Wedha, silahkan dipaham. Sederhana, tapi justru pandangan tentang kemustahilan ini yang acap-kali menipu kita. Kita diberi satu warna keraguan, hingga tiada lagi ke-menawan-an komposisi warna acak (Jika kita acak). Ingat!, Penting!, yang acak justru akan lebih menarik dibandingkan dengan yang hanya satu warna (meski pada yang satu warna tanpa warna keraguan). Asal buang satu warna, keraguanaan. Let’s think(ing) it.

14 September 2015


Hasil "kanal" baru! :)







Entah lanjut "mengalir" apa tidak. Apa kata esok. Nikmati saja!







No comments:

Post a Comment