SURAT ANAK BUAH ANGIN PADA PARA PENGATUR ANGIN

Kepada para pengatur angin, pada segenap poros yang kau kuasai, tapi tak benar-benar kau kuasai. Bawalah aku, pada lelah tangan, lelah kaki, menunjuk inginku, melangkahi setapakku. Usap peluhku wahai para pengatur angin, jangan biarkan ia gugur tanpa keikhlasan, jangan biarkan ia amis yang sia-sia, jangan biarkan ia najis dengan debu-debu yang kalian bawa, apalagi sampai kau tak hiraukan sama sekali, maka jangan harap peluhku berlinang lagi. Bukan! Bukan!, ini bukan suara getir anak manja yang merengek, meminta-minta keharmonisan arah terjang yang selalu sesuai harapan, ini hanya bisikan kompas anak gembalaan masa lalu yang ingin kalian sadar, ada gemetar asa, ada percikan api di hutan kemarau yang hampir kebakaran, mohon angin paham, kapan menghembuskan asa, kapan berhenti mengoyak kesetanan. Takut kebakaran, hutan tak akan lagi rindang, meski musim hujan kembali datang.

Salam Hormat
Anak Buah Angin

21 Oktober 2015

TIDAK, TIDAK KEBETULAN

Pada kitab alam yang semua bukan kebetulan. Datang dari arah-arah "kejutan", mula-mula, tanpa sadar ia menyinggung alam kita, bukan kebetulan, lagi terkatakan, bukan kebetulan. Ia adalah kitab alam, kita patut mengkaji/mengaji, apa sebenarnya maksud, apakah penyia-nyia-an belaka, saya tegas katakan, TIDAK. Ada rentetan kode-kode yang jauh lebih pelik dari De Davinci Code, bukan soal angka saja, soal makna yang kejanggalannya jauh lebih rapi, seolah kita tak menyadarinya, bahkan kita sering menafikan kejanggalan itu. Entah bagaimana, contoh sederhana, apakah kita pernah berfikir tentang "manusia-manusia" yang menjadi lawan interaksi kita saban harinya, apakah mereka kebetulan, sekali lagi saya katakan, TIDAK. Ada kajian komprehensif yang mestinya kita uraikan dari subjektifitas-subjektifitas, bukan sekedar manusia dalam contoh, lebih luas lagi, lebih pada dimensi-dimensi yang lebih "tak kita kenali", abstraksi, ilusi, metafisik hingga yang fisik (meski yang fisik saja sudah mampu membuat kita terpukau). Maka berfikirlah.

Cogito, selamat pagi para manusia. Otak kita bukan area parkir roda-roda tak berguna.

SURAT KEPADA SAHABAT

Catatan Se-paragraf untuk yang Berbekas

Percayalah, luas geografis yang kau itari tak jauh lebih indah dari kamarku. Maka kesinilihan, aku akan memperlihatkanmu yang mirip pantai Lovina, yang mirip rerentuhan kabut di Bromo, yang mirip gemuruh auangan mobil-mobil beken di metropoitan, yang sehangat kopi jalanan di; akh; aku malas menyebutnya lagi, yang mirip hujan tanpa henti di Jawa bagian barat sana, yang mirip senja tempat kita bercumbu karya, yang mirip suasana perang emosi dialektik kaum laga, yang hampir sama persis dengan galeri permata yang kita-pun tak pernah disana. Percayalah sahabatku, ini ajakan rindu, di hampir separuh malam yang keadaanku hanya ditemani nada-nada rapi dari Simbada lirih, di hampir pucatnya mata menyelesaikan tuntutan para penunjuk kuasa, bukan kesepian, camkan, bukan kesepian, aku tak pernah kesepian, ada banyak penduduk selalu gaduh di desa Ro'sun Kecamatan Qalbon, transaksi pasar, pesta foya-foya, pun gaduh-gaduh religius yang sering mencuat ke arah langit lewat pengeras suara yang sengaja dikeraskan. Aku hanya rindu, bukan kesepian.

Salam Lagi Para Sahabat

*tak usahlah berkomentar, tak usahlah berjempol biru ke-kanak-kanak-an, cukup kau paham, cukup kau tahu, ada rindu dari tempat yang tak terdeteksi GPS.

PUISI KETIKA DOSA

Sebelumnya
Jangan tanyakan dosa apa
Lebih baik kau tak tahu
Lebih baik aku tak memberi-tahu
Lebih baik dosa begitu saja
Ada pada tangan yang menatap atap
Pada sekitar lima jam selanjutnya

Kepada yang bernama sesal
Sudah sering kali
Tapi mata buta berkali-kali
Seakan menantang
Seakan mempermainkan
Seakan melarikan pada
Ya.. dosa
Ya.. manusia

Menggerutu sudah kerja rutin
Ketika pulang pada malaikatnya batin
Sempat tertawa lucu-lucu bagaimana
Meski dosa bukan komedi primer kehidupan
Seakan lucu-lucuan
Seakan cubit-cubitan
Seakan hiburan
Ya... dosa
Ya... hiburan

Serius
Dengan hati yang dibius
Dosa seakan mula-mula berjalan mulus
Setelahnya pembenaran diri
Digotonglah dosa pada dinamisnya hati
Malu-malu pada kucing
Kucing tak paham
Akhirnya aku seringai sendirian

Benar sudah
Dosa pasrah pada definisi
Cukup tahu
Ada angin silahkan melaju
Pada arah-arah nafsu
Astaghfirullah
Sujud hamba kotor ini
Membawa dosa dalam puisi
Ampuni main-main hati

14-10-2015

MIMPI DALAM SANGKAR

Pipit kecil dilahirkan di tengah sawah
Bersama musim kering
Tiada petani berpeci mengkilat
Tiada kuli pikul mengenakan kemeja unggul
Bersama beliung
Diterpa penyakit kuning
Tikus-tikus melubangi pinggiran sawah
Memakan akar-akar tanam
Pipit untung tak turut dimakan
Sebelum dibawa pulang pada sangkar
Kecil diapit rumput-rumput kering
Dedanuan tak hijau
Kerap jatuh ditumbangkan alam
Kemudian dipaksa terbang
Mengitari langit-langit diatas bumi bernama
Hujan petir terik
Musim-musim yang pelik
Sampai mendengarkan nyanyian sufi
Menonton pewayangan para komedian
Politisi hingga drama kolosal para pakar
Pipit manggut-manggut heran
Sebab ternyata
Sawahnya pun sangkarnya
Tak pernah disajikan pertunjukan sedemikian rupa
Hingga pulang tanpa pakan
Hingga pulang bermandikan peluh
Yang disembunyikan pada balik bulu-bulunya
Pada balik otot-otot sayapnya
Ia mengerang dalam sangkar
Pulas yang sadar
Ingin terbang
Atau mungkin ingin berlakon lampau
Menirukan tokoh pertunjukkan
Dari langit yang semula ia pandang
Gemetar
Lalu diubahlah sangkar
Dengan dekorasi pentas berapi
Biar peluh-pun menjadi-jadi
Sukur hingga sampai mengairi
Sawah yang masih seperti semula
Kering tanpa mata air
Yang selalu mengharap hujan mula-mula
Sedang pipit tak mengharap hujan
Takut latar apinya padam
Begitu mimpinya pada sangkar

11 Oktober 2015

KEPADA ANGGUN RINDU

Dewi Airlangga (83)

Segar
Rambut yang jatuh dari terjun
Pelangi pada senyum
Dibentur surya
Silau sayang

Jangan bernyanyi dulu
Biarkan sepi
Cukup terdengar hilir nafasmu
Mata kian hitam
Tak kedip berair
Mapan sayang

Jangan keburu senja
Silaumu akan lenyap
Pelangimu berangkat
Pada hutan-hutan
Di jemari kerinduan
Anggun sayang

Jangan sembunyi
Aku tak menyakitimu
Dipipimu aku teduh
Dari hujan kesesatan
Sebab kejujuran sayang

Lepaskan merpatimu
Tapi jangan aku
Sebab aku adalah langit
Singgah dimanapun kumau
Sedekat apapun itu
Diatas bumi
Tak menyentuh sayang

Jangan tersipu
Ini bukan godaku
Lentik khayalan menggelitik
Pada gencar jiwa
Yang akut terpana
Padamu sayang

Bumi Kaisar Air Mata, 10 Oktober 2015

PASCA BANGUN PAGI INI; CATATAN COGITO

Segera kulampiaskan seringai hati pada sekutu diri sendiri,tentang yang dititipkannya do’a pada alam, gambar, catatan, gerak organ, fikiran dan apa saja yang semoga saja lebih mendekakan diri pada Tuhan – meski disebut oleh Hakikater (kosa kata asal untuk menyebut para pencari hakikat) bahwa Tuhan telah dekat pada kita –. Karena cakap sekali perkataan Emha Ainun Nadjib cocok di hati “setiap yang mendekatkan diri pada Tuhan maka itulah kebaikan”.

Pun dikuatkan oleh salah satu tokoh, dengan latar keberagaman keluarganya yang menokohi simpul-simpul perbedaan, Gus Mus menyikapi dengan kebijaksanaan yang kebetulan juga cocok di hati, “intinya jangan pernah berhenti belajar” katanya. Entahlah, mau kusebut aku ini bentukan pemikiran orang atau bagaimana. Yang jelas ada sekian materi hidup yang mula-mula saja “pas” untuk dibungkus pada bekal perjalanan. Bahkan tak lekang waktu bersemedi dalam goa motivasi diri, Bondan amat sering hadir menyapa dengan kalimat senada berulang, seperti reff lagu-lagunya yang notabene seperti pecutan “menuju”, begini kalimat itu “Berangkat dari proses, berproses, menuju proses selanjutnya”.

Berangkat dari latar “bentukan” tadi. Pernah kemarin aku mendiskusikan panjang lebar bersama para pribadi berlatar beda-beda. Perbedaan paling mendasar adalah, semua dari mereka telah menyandang status “menikah” pada Kartu Tanda Penduduk mereka, sedang aku masih tetap tertera pada KTP yang bukan E-KTP, status: belum kawin. Kami mendiskusikan tentang pengalaman yang mengambil tema ketidak-adilan pernyataan yang menganggap bahwa yang belum menikah tak akan tahu apa-apa perihal sesuatu yang terjadi ketika telah menikah. Singkat cerita hasil diskusi, ternyata didapati bahwa semua bentuk pengetahuan harus berupa kesimpulan yang juga berkomposisi pengalaman pribadi, ia justru berangkat dari sekumpulan pengalaman orang lain yang dibungkus rapi pada kerangka berfikir yang progresif, dinamis, objektif. Bukan anggapan-anggapan pribadi yang saat itu justru membawa pada kesimpulan subjektif yang sifatnya palsu.

Nah, kembali pada latar “bentukan”, jika semua ini mampu dikristalkan menjadi sebuah kerangka nalar nakal sebagai makhluk natiq, maka apakah perlu lagi kita diam menyaksikan, hanya memahami batas-batas kita, tanpa melirik sedikit-pun pada sesuatu yang ada diluar batas (Masukkan juga pengalaman paragraf ke-tiga). Jika teringat masa-masa kuliah, kalimat yang pas pada fenomena ini adalah ungkapan spontan sahabatku “semakin orang itu mengerucut pada salah satu ilmu pengetahuan, maka ia akan semakin bodoh”, katanya, silahkan ditafsir sendiri bagaimana pemahaman anda.

Pada paragraf ini aku sedang tertawa. Apa sebenarnya yang kutulis. Apa yang sebenarnya hendak kusampaikan pada catatan ini. Ucapan selamat pagi saja, mungkin. Ajakan berfikir, mungkin. Menggoda “harim-harim” dunia maya, mungkin. Menginginkan perhatian saja, mungkin. Berfikir, pasti.

Salam Cogito dari Pedalaman Babatan Kyai Ronggo.

09-10-2015

AMNESIA YANG BELUM PULANG

Dewi Airlangga (82)

Amnesia masih bertamu
Pada dinding ia menyeduh teh
Sudah tak bisa dirinci
Apa ceritanya pada bilik ini

Pagi ke pagi lagi
Malam ke malam lagi
Kadang aku pura-pura tertidur
Malah ia mempersilahkan selimut

Bukan karena bosan
Bahkan aku terlelap dimanjakan
Tapi setengah sadar
Ketika hatiku tumpah
Deraslah air mata dikunyah sendiri

Amnesia pulanglah
Pergi pada artimu sendiri
Jangan menabiri nyataku
Air mataku kini tak mampu kucur lagi

08-10-2015

SAUDARAKU PERGI KE BALI; PEDALAMAN BAGAIMANA LAGI

Pagi ini
Mungkin harus menangis meski tanpa air mata
Kupendam saja pada ucapan bibirku yang kusam
Mata seorang saudara yang, entahlah
Aku belum paham

Mula-mula dari jendela
“Aku mau berangkat”
Dengan kopiah putih
Ber-tas kain parasit yang diselempangkan
Kaos putihnya yang kuhafal
Nada sedihnya yang kupaham
Tatapan sederhananya yang, entahlah
Aku belum paham

“Ke Bali”
Jelas aku dibantai
Hati gerumuh
Pedalaman runtuh
Sebab ia kehilangan lapak
Tanah sebagai bahan bata telah habis
Memaksa
Ia harus merantau lagi
Ke Bali
Begini di desa yang mirip pertiwi

Pedalaman
Bagaimana nasib dirantai
Tak berani melarikan pada seolah-olah kesalahan
Entahlah, bagaimana pedalaman dimaknai
Tak cukup sampai menggerutu
Bagaimana, kini sudah ke Bali

Berat
Sebab ia saudara yang sering berkopi segelas
Lepas mata saling tangkap
Kini ia benar-benar pergi
Selamat jalan saudara hati
Pada karya yang pernah dipinangkan
Aku akan mendoakan
Alam akan mendoakan
Semoga Tuhan melindungi perjalanan
Semoga Tuhan mengkabul yang hendak ia capai

06 Oktober 2015

SURAT KEPADA KAWAN; CATATAN SPONTAN

Wah, temen-temenku semakin keren-keren saja. Ada yang ke luar negeri, ada yang kerja pakai ID Card, ada yang open mic depan mahasiswa, ada yang open gallery art, ada yang nikah sama neng (putranya kyai) -otomatis murok :) -, ada yang buka distro, ada yang buka programming service, ada yang buka perguruan pancak silat, ada yang menjadi Traveler "gokil", ada yang... banyak dah, keren pokoknya. Tapi yang lebih keren, aku naksir sama semangat mereka yang tak lelah mengejar mimpi-mimpinya di bawah keterpurukan semua aspek hidupnya, mereka yang meluncur seperti mesin, mereka yang anti habis tekanan angin melangitkan peluru bedil, mereka yang berwajah kusam memegang cangkul; sabit; untuk membunuh sekian rumput liar melalui setapak jalan menuju keabsolutan tujuan yang ia rangkum pada otak tengah yang sejalan dada kiri, mereka... ya mereka.... ajarkan aku "keren" sepertimu, kawan!

Bukan peng-kotak-kotakan teman, ini lebih pada salam hangat seorang kawan pada ribuan coretan dinding sekolah (yang ber-ruang kelas ataupun tanpa) yang pernah kita "pelangikan". Biar ingat saja. Bukankah pernah kutulis sebelumnya "Sebait kita tak sama, tapi sajak tetap berjudul sama", dimana; bagaimana; seperti apa kita sekarang pada letak geografis yang beda, peran yang berbeda, maka hanya lambai kertas putih kusimbolkan. Aku rindu kawan. Kabarkan! Mimpi kalian yang sempat kudengar!

05 Oktober 2015

PERSELINGKUHAN KARYA

Maaf sebelumnya mantra, gatra, ajian huruf berjiwa rona, aku selingkuh darimu. Ada sesuatu menggoda mataku, anggun rupa, bijak sapanya, bibirnya membicarakan segalanya dengan tegas ramah bergelora. Ia menyimbolkan adanya, agak mirip denganmu, tapi apalah daya, aku benar-benar jatuh pada pangkuannya.

Kini kusampaikan selingkuhku, ijinkan aku memadumu, sebab aku sama-sam rindu, sama-sama tak mampu tangan melepas salah satu.

Dan kini, ijinkan pula aku memajangmu di satu kamar, biar sama-sama kubelai, kutidurkan pada pangkuan malam, kukecup seluruh keindahan kalian, dengan keisthiqomahan, semoga Tuhan meridhai hubungan kita yang tak cukup diakal.

Sayang, kalian, jangan hiraukan apa kata mereka yang berbibir domba, mereka yang meludahi kita, itu hanya ujian kesetian kita, bagaimana menyatakan keharmonisan, bagaimana menyelesaikan hidup yang amat sangat sebentar, kita hanya menulis cerita, atau lebih hakikat lagi, kita hanya menjalankan cerita. Intinya cerita.

Sayang, kalian bahagialah disini, sebab suatu saat aku akan mati, dan mungkin kalian akan tetap hidup melanjutkan cerita ini, ceritakan tentang aku pada kehidupan setelahku, bahwa ada pesan keindahan hidup yang harus dirasakan, ia terselip dibawah pandang mata yang sering kali disembunyikan kotoran setan (bukan setan, ia hanya kata pemahaman).

Sudahlah sayang, intinya kusampaikan, aku selingkuh, maulah kalian menjadi kekasihku yang akur dalam ruangan, otak, hati, dinding, emosi, dan semua kedalaman bentuk yang masih tidak ada namanya.

01 Oktober 2015