MIMPI DALAM SANGKAR

Pipit kecil dilahirkan di tengah sawah
Bersama musim kering
Tiada petani berpeci mengkilat
Tiada kuli pikul mengenakan kemeja unggul
Bersama beliung
Diterpa penyakit kuning
Tikus-tikus melubangi pinggiran sawah
Memakan akar-akar tanam
Pipit untung tak turut dimakan
Sebelum dibawa pulang pada sangkar
Kecil diapit rumput-rumput kering
Dedanuan tak hijau
Kerap jatuh ditumbangkan alam
Kemudian dipaksa terbang
Mengitari langit-langit diatas bumi bernama
Hujan petir terik
Musim-musim yang pelik
Sampai mendengarkan nyanyian sufi
Menonton pewayangan para komedian
Politisi hingga drama kolosal para pakar
Pipit manggut-manggut heran
Sebab ternyata
Sawahnya pun sangkarnya
Tak pernah disajikan pertunjukan sedemikian rupa
Hingga pulang tanpa pakan
Hingga pulang bermandikan peluh
Yang disembunyikan pada balik bulu-bulunya
Pada balik otot-otot sayapnya
Ia mengerang dalam sangkar
Pulas yang sadar
Ingin terbang
Atau mungkin ingin berlakon lampau
Menirukan tokoh pertunjukkan
Dari langit yang semula ia pandang
Gemetar
Lalu diubahlah sangkar
Dengan dekorasi pentas berapi
Biar peluh-pun menjadi-jadi
Sukur hingga sampai mengairi
Sawah yang masih seperti semula
Kering tanpa mata air
Yang selalu mengharap hujan mula-mula
Sedang pipit tak mengharap hujan
Takut latar apinya padam
Begitu mimpinya pada sangkar

11 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment