PASCA BANGUN PAGI INI; CATATAN COGITO

Segera kulampiaskan seringai hati pada sekutu diri sendiri,tentang yang dititipkannya do’a pada alam, gambar, catatan, gerak organ, fikiran dan apa saja yang semoga saja lebih mendekakan diri pada Tuhan – meski disebut oleh Hakikater (kosa kata asal untuk menyebut para pencari hakikat) bahwa Tuhan telah dekat pada kita –. Karena cakap sekali perkataan Emha Ainun Nadjib cocok di hati “setiap yang mendekatkan diri pada Tuhan maka itulah kebaikan”.

Pun dikuatkan oleh salah satu tokoh, dengan latar keberagaman keluarganya yang menokohi simpul-simpul perbedaan, Gus Mus menyikapi dengan kebijaksanaan yang kebetulan juga cocok di hati, “intinya jangan pernah berhenti belajar” katanya. Entahlah, mau kusebut aku ini bentukan pemikiran orang atau bagaimana. Yang jelas ada sekian materi hidup yang mula-mula saja “pas” untuk dibungkus pada bekal perjalanan. Bahkan tak lekang waktu bersemedi dalam goa motivasi diri, Bondan amat sering hadir menyapa dengan kalimat senada berulang, seperti reff lagu-lagunya yang notabene seperti pecutan “menuju”, begini kalimat itu “Berangkat dari proses, berproses, menuju proses selanjutnya”.

Berangkat dari latar “bentukan” tadi. Pernah kemarin aku mendiskusikan panjang lebar bersama para pribadi berlatar beda-beda. Perbedaan paling mendasar adalah, semua dari mereka telah menyandang status “menikah” pada Kartu Tanda Penduduk mereka, sedang aku masih tetap tertera pada KTP yang bukan E-KTP, status: belum kawin. Kami mendiskusikan tentang pengalaman yang mengambil tema ketidak-adilan pernyataan yang menganggap bahwa yang belum menikah tak akan tahu apa-apa perihal sesuatu yang terjadi ketika telah menikah. Singkat cerita hasil diskusi, ternyata didapati bahwa semua bentuk pengetahuan harus berupa kesimpulan yang juga berkomposisi pengalaman pribadi, ia justru berangkat dari sekumpulan pengalaman orang lain yang dibungkus rapi pada kerangka berfikir yang progresif, dinamis, objektif. Bukan anggapan-anggapan pribadi yang saat itu justru membawa pada kesimpulan subjektif yang sifatnya palsu.

Nah, kembali pada latar “bentukan”, jika semua ini mampu dikristalkan menjadi sebuah kerangka nalar nakal sebagai makhluk natiq, maka apakah perlu lagi kita diam menyaksikan, hanya memahami batas-batas kita, tanpa melirik sedikit-pun pada sesuatu yang ada diluar batas (Masukkan juga pengalaman paragraf ke-tiga). Jika teringat masa-masa kuliah, kalimat yang pas pada fenomena ini adalah ungkapan spontan sahabatku “semakin orang itu mengerucut pada salah satu ilmu pengetahuan, maka ia akan semakin bodoh”, katanya, silahkan ditafsir sendiri bagaimana pemahaman anda.

Pada paragraf ini aku sedang tertawa. Apa sebenarnya yang kutulis. Apa yang sebenarnya hendak kusampaikan pada catatan ini. Ucapan selamat pagi saja, mungkin. Ajakan berfikir, mungkin. Menggoda “harim-harim” dunia maya, mungkin. Menginginkan perhatian saja, mungkin. Berfikir, pasti.

Salam Cogito dari Pedalaman Babatan Kyai Ronggo.

09-10-2015

No comments:

Post a Comment