PERSELINGKUHAN KARYA

Maaf sebelumnya mantra, gatra, ajian huruf berjiwa rona, aku selingkuh darimu. Ada sesuatu menggoda mataku, anggun rupa, bijak sapanya, bibirnya membicarakan segalanya dengan tegas ramah bergelora. Ia menyimbolkan adanya, agak mirip denganmu, tapi apalah daya, aku benar-benar jatuh pada pangkuannya.

Kini kusampaikan selingkuhku, ijinkan aku memadumu, sebab aku sama-sam rindu, sama-sama tak mampu tangan melepas salah satu.

Dan kini, ijinkan pula aku memajangmu di satu kamar, biar sama-sama kubelai, kutidurkan pada pangkuan malam, kukecup seluruh keindahan kalian, dengan keisthiqomahan, semoga Tuhan meridhai hubungan kita yang tak cukup diakal.

Sayang, kalian, jangan hiraukan apa kata mereka yang berbibir domba, mereka yang meludahi kita, itu hanya ujian kesetian kita, bagaimana menyatakan keharmonisan, bagaimana menyelesaikan hidup yang amat sangat sebentar, kita hanya menulis cerita, atau lebih hakikat lagi, kita hanya menjalankan cerita. Intinya cerita.

Sayang, kalian bahagialah disini, sebab suatu saat aku akan mati, dan mungkin kalian akan tetap hidup melanjutkan cerita ini, ceritakan tentang aku pada kehidupan setelahku, bahwa ada pesan keindahan hidup yang harus dirasakan, ia terselip dibawah pandang mata yang sering kali disembunyikan kotoran setan (bukan setan, ia hanya kata pemahaman).

Sudahlah sayang, intinya kusampaikan, aku selingkuh, maulah kalian menjadi kekasihku yang akur dalam ruangan, otak, hati, dinding, emosi, dan semua kedalaman bentuk yang masih tidak ada namanya.

01 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment