SAUDARAKU PERGI KE BALI; PEDALAMAN BAGAIMANA LAGI

Pagi ini
Mungkin harus menangis meski tanpa air mata
Kupendam saja pada ucapan bibirku yang kusam
Mata seorang saudara yang, entahlah
Aku belum paham

Mula-mula dari jendela
“Aku mau berangkat”
Dengan kopiah putih
Ber-tas kain parasit yang diselempangkan
Kaos putihnya yang kuhafal
Nada sedihnya yang kupaham
Tatapan sederhananya yang, entahlah
Aku belum paham

“Ke Bali”
Jelas aku dibantai
Hati gerumuh
Pedalaman runtuh
Sebab ia kehilangan lapak
Tanah sebagai bahan bata telah habis
Memaksa
Ia harus merantau lagi
Ke Bali
Begini di desa yang mirip pertiwi

Pedalaman
Bagaimana nasib dirantai
Tak berani melarikan pada seolah-olah kesalahan
Entahlah, bagaimana pedalaman dimaknai
Tak cukup sampai menggerutu
Bagaimana, kini sudah ke Bali

Berat
Sebab ia saudara yang sering berkopi segelas
Lepas mata saling tangkap
Kini ia benar-benar pergi
Selamat jalan saudara hati
Pada karya yang pernah dipinangkan
Aku akan mendoakan
Alam akan mendoakan
Semoga Tuhan melindungi perjalanan
Semoga Tuhan mengkabul yang hendak ia capai

06 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment