SURAT ANAK BUAH ANGIN PADA PARA PENGATUR ANGIN

Kepada para pengatur angin, pada segenap poros yang kau kuasai, tapi tak benar-benar kau kuasai. Bawalah aku, pada lelah tangan, lelah kaki, menunjuk inginku, melangkahi setapakku. Usap peluhku wahai para pengatur angin, jangan biarkan ia gugur tanpa keikhlasan, jangan biarkan ia amis yang sia-sia, jangan biarkan ia najis dengan debu-debu yang kalian bawa, apalagi sampai kau tak hiraukan sama sekali, maka jangan harap peluhku berlinang lagi. Bukan! Bukan!, ini bukan suara getir anak manja yang merengek, meminta-minta keharmonisan arah terjang yang selalu sesuai harapan, ini hanya bisikan kompas anak gembalaan masa lalu yang ingin kalian sadar, ada gemetar asa, ada percikan api di hutan kemarau yang hampir kebakaran, mohon angin paham, kapan menghembuskan asa, kapan berhenti mengoyak kesetanan. Takut kebakaran, hutan tak akan lagi rindang, meski musim hujan kembali datang.

Salam Hormat
Anak Buah Angin

21 Oktober 2015

No comments:

Post a Comment