KISAH MAHASISWI KEBIDANAN


Bait awal begini
Seorang wanita mapan dikenal sejak ingusan
Dari darah terpandang
Silam ia adalah tandingan; aku ingat
Habis syair Aqidatul Awwam
Bolak balik mungkin saja sejak dulu ia hafal

Bait selanjutnya begini
Kami dipertemukan pada takdir yang kesekian
Dibawa oleh sekelumit masalah teknologi kekinian
Entah hanya drama atau kebetulan saja
Cukup; tak perlu mempertanyakan

Bait inti begini
Entah apa yang sedang ia rasakan
Beban apa aku tak paham
Hanya pada matanya perlu penafsiran panjang
Sepertinya luka
Sepertinya ada rahasia dibalik rahasia
Ia menggerutu lalu kabur
Ia mengeluh lalu pura-pura senyum
Sepertinya;
Aku pura-pura saja santai
Pura-pura; berlagak menasehati
Pura-pura; berlagak paham
“Kamu mau di posisiku?”
Ungkap ia pada tengah laga pembicaraan
Sepertinya; klimaks
Tak cukup akal menerka
Kubilang saja mau
Lalu kabur lagi
Kemana-mana sejarah kata itu melanglang buana
Sampai ditangkap maghrib
Percikan cahaya lampu pada bola matanya
Akh, silau aku hampir buta

Bait penutupnya begini
Meluncurlah kawan
Aku dibelakang memperhatikan
Pada pertigaan itu tak usah kau ucapkan sampai jumpa
Biarlah hati saling mendoakan sesama kita
Hidup memang imajinasi
Dan kita menciptakan fiksi masing-masing
Meluncurlah kawan
Seperti kata
“kau lewat timur aku lewat barat
Aku malas diantar”

Bait selanjutnya begini
Kulanjutkan lagi nanti

30 November 2015

DZIKIR WIND OF CHANGE

Siul Wind of Change
Scorpions lantang menggema kamar
Dari Simbadda sekitar empat tahun silam
Ada wayang menempel hadap belakang
Aku hanya korban
Yang sengaja dikorbankan
Yang sengaja dikobarkan
Dengan sendiriku sendiri
Dengan mauku
Wind of Change
Pada angin sepoi pagi
Siang nanti aku harus menjadi angin darat
Mengamuk hingga samudera
Jangan menggertak wahai alam preman
Jangan angkat pistol wahai bandit kemalasan
Aku tak takut
Aku masih ada setumpuk nyali melawan
Meski hampir senjata-senjataku dicuri penipu
Di-tak-sadarkan aku lalu kemana saktiku
Wind of Change
Bangkit melenyapkan kabut
Dedaunan kering terjatuhlah
Kubakar kalian
Biar gerombolan api mengundang angin
Lalu pada ruang-ruang kosong
Aku menerobos masuk
Meliuk antara atom-atom
Antara partikel-partikel
Antara ketiadaan kimia-fisika
Aku ingin tanpa batas
Berubah arah semauku
Berkelana semauku
Sampai anginku bersujud satu
Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin, Haqqul Yaqin

28 November 2015

HEI YANG DISINI

Hei yang disini
Yang menanyakan celoteh kata anak kelaparan
Yang menanyakan bisikan awan anak kesepian
Yang menanyakan gatra-gatra anak kurus makna
Yang menanyakan kemana kalimat lenyap

Hei kalian disini
Jangan tunggu jangan memaksa anak ingusan menganga
Ia bukan paksaan bencana
Ia datang kapan hati menginginkannya

Pada emosi yang kalian undang
Anak tak mau untuk kalian
Ini untuk jiwa pribadi yang gusar, berjalan, bahkan diam
Disela-sela hujan
Panas yang menyengat
Kenapa untuk kalian memoles bangkai supaya mengkilat
Sungguh rugi mata memandang sepintas
Sajadah jauh lebih luas dari bumi yang acap kali berkhianat

Hei yang disini
Ini hanya pentas permainan
Lakon apa kita
Kita menjadi siapa
Lalu apakah berhenti tanpa tanya
Mati mungkin selanjutnya
Lalu kenapa tak berjalan menukik pada jurang
Menyelamatkan hati yang kerap senang terjungkal
Kelam, pada tangan diisaratkan
Sapu jagat dihaturkan

27 November 2015

O.. GUSTI

O.. Gusti
Malam ini aku kedinginan
Selimuti aku Gusti
Malam ini aku kesepian
Temani aku Gusti
O.. Gusti
Lama aku melupakanmu
Hati sibuk menghitung angka
Otak sibuk memikirkan dunia
O.. Gusti
Maafkan kesombongan
Jiwaku yang mulai nakal
Diajak mabuk kepayang oleh nominal
O.. Gusti
Sampai dimana ketakutan
Aku tak tahu
Malah semakin berani durhaka
O.. Gusti
Pada sujud kata
Terimalah hamba
Kedinginan dan kesepian
Dengan mata malam
Geram menjadi setan
Mohon ampuni Gusti
O.. Gusti
Getir imam dimakan rayap
Mohon lindungan jangan rapuh
Takut roboh O.. Gusti
Tak ingin mati begitu
Mohon kokohkanlah
Meski badai sekalipun
O.. Gusti
O.. Gusti
O.. Gusti
Lubuk hati
Mohon indahkan O.. Gusti
Amin!


1.23 WIB, 27 November 2015

KABUT YANG MENGINGATKAN

Dewi Arlangga (84)

Sudah sekian musim
Tertakluk hati ini pada seorang Dewi
Putri mahkota dari kerajaan romansa
Bukan terjajah atau terjarah
Diambil kuasa hati meminang yang lainnya
Tertakluk

Sudah sekian kali
Mencoba kabur dari istana
Tapi entahlah
Ada kekuatan memasung kaki
Belum lagi
Seperti tak ada pintu keluar yang tak terkunci

Dan kemarin
Hampir lari memanjat atap
Tiba-tiba kabut tebal memeluk erat
Kemudian bersuara anggun
“Jangan, jangan lari
Jangan tinggalkan Dewi
Tinggallah dulu disini
Paling tidak sampai dewi menentukan keputusan hati”

Singkat aku terjatuh
Pada lantai mengkilat
Marmer yang semakin melumpuhkan
Dan akhirnya beginilah
Aku tulis beragam simbol ukiran
Pengingat hati yang ditakluk keenakan
Setengah tak sadar


19 November 2015

MUSIM TANAM KATA

Sudah datang musim
Pada pangkuan bumi
Pada pangkuan tanah yang basah
Pada selir-selir hati memaknai saban langkah
Jejak manusia di setapak peran dari Sang Kuasa

Sudah datang musim
Pada rintik nadi
Pada bintik emosi
Pada titik-titik pemaknaan yang terjadi
Takdir manusia di sehelai daun terbawa air terjun

Sudah datang musim
Musim tanam kata
Pada ladang gersang sebelumnya
Pada lumpur berbatu yang tak subur
Waktunya mengumpul batu
Membangun rumah pada lagu

Dan pada musim kata
Mendengar lagu yang sambil lalu
Garap ladang menyanyi lugu
Rumah segera menjadi istana
Dan pipit-pipit mulai suka bersiul manja
Akh, indahnya

Dan pada musim kata
Ingin diguyur hujan berkali-kali
Biar sampai kedinginan
Sampai gemetar se-gemetar-gemetarnya
Berharap goncangan meruntuhkan langit di angkasa
Yang masih diselimuti awan tanya


12 November 2015