APAKAH TELAH HAMPIR SEMBUH


Dewi Airlangga (88)

Tak tahu sakit yang mana
Kini ketakutan kutitipkan pada segenap alam
Kubuang pada aliran sungai
Pada kejatuhan hujan
Bahkan pada samudra selatan

Tak tahu sakit yang mana
Perih perlahan mulai padam
Bukan berarti tak berbekas
Sepertinya ia keabadian ingat
Pada kelanjutan nafas memahat

Tak tahu sakit yang mana
Apakah telah hampir sembuh
Sepertinya rekah senyum mulai kenyataan
Bukan kepura-puraan sejak kala
Kecelakaan kisah di romansa penuh luka
Semoga saja ia

Tak tahu sakit yang mana
Kini aku membuka mata tentang nyata
Darah mulai habis
Padahal gemuruh surga telah mampir di telinga
Aku tak mau lama-lama
Aku mau sembuh, sayang

30 Desember 2015

SENGAJA JADI SETAN


Dewi Airlangga (87)

Sementara cerita
Kemarin aku mengajak setan
Bersama hujan lebat tanah hutan
Karena perih teramat
Panas pada tiap-tiap keringat
Aku mandi, sayang
Benar saja
Sementara dingin aku bahagia
Sumringah hati setelah lama sekarat
Kaki demi kaki melangkah
Pada batu-batu licin
Genangan air langit yang turun bergerombol
Setan-pun meneriakkan bahagia kepadaku
Pepohonan berbasah basahan
Aku dengar celoteh salah satu mereka
Dewi Airlangga Dewi Airlangga Dewi Airlangga
Katanya
Aku tak hiraukan
Kuludahi mereka satu persatu
Hingga pada air bumi yang gugur
Kenapa wajahmu bertubi-tubi menyambar ingat
Aku mencoba lupa
Kuajak setan berdansa
Malah aku sadar tentang dosa
Senyummu justru menasehati dalam bayang makna
Dewiku sayang
Kini dengan kenyataan apa kau kutukar
Apa harus aku membunuh ingatan
Dengan kebohongan yang kuasah saban pertemuan

28 Desember 2015

KEPADA NASIB HATI

Dewi Airlangga (86)

Kepada nasib hati
Kepada yang mungkin karena dosa
Kepada yang mungkin karena karma
Kepada yang mungkin karena karunia
Kepada yang mungkin karena atas bawahnya alam sadar
Kepada yang mungkin karena cakrawala hikmah
Kepada nasib hati
Tangisan yang sudah berkali-kali
Menangisi tangisan dari tangisan-tangisan
Keterpurukan yang sudah berkali-kali
Terpuruk dari keterpurukan
Hingga bagaimana air mata mencari jalan lagi
Disela-sela menghirup api
Kadang menjelma air
Kau datang menghentikan kebakaran
Nasib hati tak terbakar
Malah semakin runyam
Dibunuh diri pada bunga-bunga
Hingga matinya seakan kehormatan
Sadar setengah sadar
Tak sadar setengah tak sadar
Nasib dipertanyakan berulang-ulang
Bahkan kepada uban-uban
Jawabannya adalah lisan
Dari rekah bibir anggunmu, sayang
Justru engganmu tertafsir harapan
Nasib apakah ini, sayang
Kepada nasib hati
Tolong rebahkan jawaban pada pundakku
Aku siap seberat apapun itu
Karena panjang jalan
Teramat lama aku pada rindang pepohonan ini
Ada yang harus kujemput disana
Dibalik nasib setelah nasib dinasibkan begini, sayang

18 Desember 2015
Bumi Tapa Kaisar Air Mata



TELAH MELAMAR

Dewi Airlangga (85)

Telah melamar
Dengan membawa ombak kejujuran
Buih-buih dari hentakan bebatuan
Pasir halus yang pasang surut
Hingga diinjak
Kembali lagi pada mulut samudera

Telah melamar
Dengan sekumpulan kabut silam
Sebab telah menjadi air pada sebuah cangkang
Diminum dan teranugerahkan keberaniaan
Keyakinan yang menafikan segala pertimbangan
Hingga lupa
Angin tak reda sehabis hujan
Kau masih mengamuk

Telah melamar
Tapi bagaimana air mata tak diam
Nelangsa masih berkelanjutan
Terlempar dari takdir harapan
Lagi dan lagi
Skenario ini aku terjungkal
Jatuh pada tebing
Herannya...
Kenapa tak mati saja

Telah melamar
Mencoba membuka mata seluas dan selicik ular memangsa
Malah laparku hilang begitu saja
Layaknya derita
Lapar yang tak mampu makan
Sedang hidangan
Berjejer menggoda pasrah
Aku, ayolah aku
Lalu hujan deras berdansa dengan petir


12 Desember 2015

KEKASIHKU AKU


Kekasihku aku
Pada semusim kita
Di rumah beratap cinta
Apakah kita pernah saling menyalahkan
Kau yang nakal
Aku yang nakal
Kita sama pura-pura tak terjadi apa-apa

Kekasihku aku
Pertemuan kita aku tak paham
Apalagi perpisahan kita
Katanya kita dipisahkan dunia
Kau membusuk lalu aku
Semoga kau tak busuk

Kekasihku aku
Maafkan aku imammu
Sempat kusuruh kau aniaya
Sempat kusuruh kau dusta
Sempat kusuruh kau nista
Sempat pada kesempatan
Semua dosa yang disadarkan
Maafkan aku kekasihku
Yang tak sadar
Mungkin tumpukan yang disadarkan

Kekasihku aku
Ronamu sepertinya sudah karat
Sampai disini lagi-lagi maaf
Kau telah kugoreskan pada sekarat
Pada najis-najis busukmu kelak

Kekasihku aku
Taharah batin aku merunduk
Ingin kusucikan kamu
Pada telaga harapan
Pada sungai doa
Pada yang aku usahakan
Semoga aku tak berengsek lagi
Semoga aku tak bajingan lagi
Semoga aku tak egois lagi

Kekasihku aku
Takut-takut
Perpisahan itu tiba-tiba
Lalu bagaimana buru-buru berangkat
Sedang kotoran sedang menempel hitam
Pada sekujur tubuh
Bahkan organ bagian dalam
Aku bertanggung jawab bukan
Maka kekasihku aku
Mari jangan nakal
Romantiskan dengan kejujuran
Belaian keikhlasan
Pada bilik cinta mari kita bercinta
Memohon cinta pada Sang Maha Cinta

01 Desember 2015