SUATU CERITA DI POJOK RUANG

Setahun lebih beberapa hari aku disini
Mulai kuhafal arah-arah angin
Arah-arah cahaya masuk
Arah-arah suara mengetuk
Arah-arah kedipan keringat
Arah-arah arahan pengarah
Waalaah...

Cerita begini
Kini pada lampu kuning
Kejutan apalagi memanggil
Sepintas aku pasrah
Episode apa lagi ini
Adakah akan lepas dari pojok ruang
Atau,
Ini hanya runyam naskah
Dimana perpanjangan drama akan semakin getir

Dibisik-dibisik
Tak mau menulis
Akhirnya menulis
Mulai kusumbat
Dimana aku tak bisa lagi kemana-mana
Menurut mereka aku harus bagaimana
Aku... ya terbang saja
Di pojok ruang
Aku merindukanmu
Suatu saat pengabdian
Andai benar
Adalah soal, naskahnya berantakan
Ceritaku

29 Pebruari 2016

CATATAN TENTANG BATU

Jika badai menghempas pasir lalu apalah namanya. Tapi jika badai menghempas kuatnya sepotong batu yang kuat, kokoh, disanalah keluar-biasaan sepotong batu, entah batu apakah itu, hitam, putih, mulia, atau hanya batu apung yang justru dengan kelemahannya mampu menahan badai.

22 02 2016

SEKILAS TENTANG RINDU

Lalu, di bawah hujan aku melirik, pada dagu wajahmu yang menunduk. Lalu, seperempat pandang, langit seolah memelankan tangisannya. Disaat inilah, aku terjatuh, dan kau justru lenyap, kabur, pada rindu.

19 02 2016

MENANYAKAN MALAS

Entah siapa malas itu
Sudah kuseduh kopi
Tapi tak sepucuk surat-pun memberitahu
Sudah kuputar lagu-lagu pancingan
Si malas tak nongol juga

Entah siapa malas itu
Seakan ia borgol tanganku
Kaki dipasung
Mata diam-diam bingung
Kemana memandang keinginan
Otak kemana-mana hingga dimana-mana
Tak usai satu rangkai
Rangkai lain cerita
Begitu hati
Tanya-tanya bertanya
Apa hendak dibuat
Dicipta
Di.... oh.... siapa engkau sebenarnya malas...

Datang hujan menggebu-gebu
Runtuh permadani langit
Kuusap perlahan rona hati
Kucubiti raga
Sadarlah-sadarlah
Datang sukma-sukma masa lalu
Kedinginan
Kusegerakan selimut
Kutidurkan pada aksara-aksara tanya
Meski malas tak kunjung ada jawab
Kusibukkan saja menjamu
Hingga bisu
Tak kudengar kecuali hentakan
Tak kulihat kecuali nostalgia
Memasang serpihan demi serpihan
Mungkin malas dijawab disana

Kuseduh kopi lagi
Hei malas...
Siapa sebenarnya
Kutodongkan pistol
Padahal ia tak dimata
Dan kurasa ia telah kabur
Esok kutunggu
Biar segera kukenal
Wahai malas...

16 02 2016

TERJEBAK HUJAN

Seperti itulah hidup
Terjebak hujan
Karena dingin
Karena basah
Karena indah
Karena terjebak
Nikmatilah
Kenapa apa kita
Apa kenapa kita
Terjebak di bawah gelantungan
Dari langit apa

14 02 2016

INGIN MEMBUNUHMU


Dewi Airlangga (93)

Tapi dengan apa
.... dengan kematianku yang lalu
Tapi dengan apa
.... dengan tajam puisi-puisiku yang lalu
Tapi dengan apa
.... yang kukira puisilah sebabnya
Kucoba berhenti, tapi tetap, sayang
.... yang kukira kesepianlah sebabnya
Kucoba ramai se-ramai-ramainya, tapi tetap
Tapi dengan apa
.... cara membunuhmu
.... cara bagaimana selesai
Tapi dengan apa
.... atau aku bunuh diri
.... meminjam nafas yang lain
.... sedang kamu bercinta disana
.... aku dikubur padahal hidup
Tapi dengan apa
.... Jalan meyakinkanmu
.... Bukankah inti para pecinta telah kutawarkan
.... Oh, sayang...
Sedemikian sukarkah narasi ini
Hingga membuat titik-pun...
Bukan main peliknya
koma... (,)

13-02-2016