PETISI SOAL KEKASIH

Maukah ditanda tangani?

Sudah kusebar selembaran maya
Jodohkah kita?
Setujukah mereka?

Merak musim hujan
Petir horizontal menyambar
Ada api langit
Ada lautan di puncak gunung
Petisi itu geger memuncaki warta
Akh sayang...
Rupanya ini bukan soal kita

Dimensi alam ini penuh kompleksitas
Ternyata petisi harus tertanda banyak pena
Belum lagi mistis mistis angka

Saya kira cukup hati
Ternyata dongeng setebal naskah sains fiksi

Kekasih...
Ini soal kamu
Petisi berinterval waktu
Sebab secara biologis
Kini jantungku mulai tak wajar
Apalagi gerak sosial
Kini para mata mengancam
Dimana mana
Bahkan dalam ketaksadaran rapi
Yang kita sebut sebagai mimpi

Bukan mengejar waktu
Aku tak sedang dikejar setan
Hanya dialektika kehidupan
Bertanya lalu dijawab
Sebab begitulah takdir
Meminang ketetapan
Entahlah,.. Bismillah saja...

31 Maret 2016

AKU YANG TERBUANG

Aku bertahan
Aku terbuang
Aku aku aku aku
Pembahasannya aku

Aku adalah serigala masa laluku
Aku adalah pemangsa
Aku terbuang
Aku tak mampu memangsa
Kini aku hanya memangsa aku

Aku menertawakan aku
Aku mempercayakan aku
Aku harus mempertahankan aku
Dari aku yang diincar untuk aku

Aku adalah dibalik aku
Aku merana di penjara sosial
Aku menghianati maunya aku
Aku terlempar dari rudal
Yang kemarin menyerang kebodohan

Aku adalah sebuah nostalgia mapan
Aku menulis masa seorang buangan
Aku menulis peliknya bertahan
Di bawah gelagat kosongnya aku

Aku adalah...
Aku aku aku aku
Aku merintih bertahan
Ini tulisan memorial
Jika sampai pada masa perubahan
Aku hanya ingin bertahan
Dari aku yang terbung
Camkan... Wahai aku...

27 maret 2016

MEMBIARKAN

Biarlah pada semut aku menceritakan, sebab pada merpati telah tiada resah.

Biarlah pada dingin aku merebah, sebab pada hangat telah tiada gelisah.

Biarlah pada jemari ini aku mengorbankan, sebab pada mata telah tiada air mata.

....

23 Maret 2016

BUNG GES

Cerita anyaran
Dari lakon alam
Keduanya nakal
Kedip mata
Diantara beda

Bung Ges
Bung kecelakaan
Ges kejadian
Telah terjadi kecelakaan
Ada dua korban jiwa
Tak luka
Tak ada darah
Ketaksengajaan jumpa
Pada tabrak mata
Sudahlah tatap saja
Biar sama-sama menganggap depan

Hei...
Tolong...tolong...
Bung mematung
Ges mematung
Hei...
Tolong...tolong...
Sekalian saja bakar
Lapisi baja...ya... Baja
Jadikan monomen istana surga
Amin...
Amin Bung
Amin Ges

............

Kemudian
Malam bernyanyi sendiri
Pada mesra
Pada sunyi
Kala Bung menulis puisi ini

22 maret 2016

INGAT CARANYA JATUH CINTA

Setelah empat musim kemarau panjang
Amnesia itu akhirnya selesai

Aku mulai ingat
Bagaimana cara malam tanpa jam
Bagaimana cara siang tanpa pijakan
Melayang

Aku mulai ingat
Matahari yang tak disadar terbitnya
Tak disadar teriknya
Tak disadar terbenamnya

Aku mulai ingat
Semalam aku ditertawakan bulan
Mengintip dari jendelaku
Lalu kututup tirai
Lalu kukata”jangan ikut campur bulan”
Ini urusan manusia lupa raga

Hahahaha...
Apa ini... ini apa
Cara jatuh cinta kah?
Jangan tertawa wahai pembaca
Ini bukan bacaan manusia waras
Jika kau waras..
Dari judul-pun kau tak akan membacanya

Hahahaha...
Maha kuasa pencipta bahagia
Selanjutnya adalah doa
Doakanlah wahai pembaca

Aaamiin...

20 Maret 2016

SURAT TERBUKA PADA CALON ISTRIKU

Sayang
Disana yang bersembunyi dibalik kelakar alam
Sayang
Disana yang menunggu kepastian pinangan
Sayang
Disana yang berdoa diam-diam
Ini surat terbuka untukmu
Dari pangeran melankolis yang kebanjiran tangis
Dari serpihan tunggal yang berhukum kesengajaan alam
Dari nafas yang masih kebetulan piawai merekam harapan

Sayang
Jika kau merasa kekosongan, maka tenanglah
Aku punya sejuta kejutan yang kelak kupersembahkan
Jika kau merasa wanita hampa, maka tenanglah
Aku punya sejuta rasa yang kelak kupertontonkan
Jika kau merasa bukan siapa-siapa, maka tenanglah
Aku punya aku yang kelak kujadikan engkau merasa

Sayang
Ini bukan kesombongan teka-tekiku
Ini pucuk melati di musim kemarau
Ini hujatan pada keegoisan
Yang mula-mula menginginkan kesempurnaan
Sayang
Sekali lagi, ini bukan kesombongan
Sejagat makna tak cukup digatra sederhana
Pun engkau, luapan perasaan yang menihilkan nyata
Dari itu sayang
Maka tersebutlah surat terbuka
Sebab mata kini telah lelah
Menangisi cerdikmu bermain reka

Sayang
Dengan rinduku yang penuh abstraksi
Di bumi bagian mana selanjutnya terjadi
Maka bacalah ini
Kau akan tersenyum magis
Semagis kesengajaan alam yang ditakdirkan Tuhan
Begitu saja, Sayang
Salam rindu dari masa lalu

Rabu, 15 Maret 2016

KEPADA SERDADU MATA

Kepada serdadu mata
Yang telah melahapku pada durjana
Mempersuntingku pada setan-setan halus
Dibawah meja-meja kepuasan
Terima kasih telah mengutukku edan
Sebab itu penyebabnya
Kemudian aku paham
"Leng ileng, ileng, ileng tresno kuoso"
Mantra mantra kembali sakral
"be, ngumbe, ngumbe lakon"
Mantra mantra digdaya
Kepada akal kepada jiwa
Mempermainkan perjalanan
Sebagai insan
Kepada serdadu mata
Semoga tak sia-sia

15 03 2016

KOPI SUBUH

Pekat pekat pekat
Diraciklah pekat
Panas panas panas
Direbuslah panas
Biar mengkilat mata
Biar tak sakit perut paduka
Paduka pangeran subuh
Paduka kopi diseduh
Paduka paduka paduka
Mahluk mulia jangan lupa Penciptanya
Tak malukah
Kabarnya
Yang tak bersuarapun bersujud padaNya
Tak butuh kopi
Lalu paduka
Disini istimewanya
Sadarlah paduka paduka
Kopi subuh Bismillah...

15 Maret 2016

WANITA CANTIK SISA SISA

Ia tak salah
Hanya pada cakar
Ada kuku melukai mawar
Bisa binasa
Bisa pula memerah sebab sayang
Dipangku petuah arjuna
Pada kiblat bersujudlah bersama
Wanita cantik sisa sisa
Tak semua salah jalan
Sebab esok
Tak cukup mampu akal menerka
Pada nyata
Berbaiklah sangka
Semoga dosa dipenjara di dunia
Begitu saja
Pada wanita di pinggir jalan
Bersiul rupa
Menggoda mata pendosa

11 maret 2016

SURAT PADA SORE

Pada sore yang sedikit muram. Dari sini kusurati, rebahkanlah jinggamu pada sayap sayap burung yang sedang berpulang. Disana kau akan merasakan, bahwa sebenarnya, kau hanya butuh terbang, bukan diam memangku dagu, mempersilahkan malam hanya dengan kekosongan. Bukan demikian... Jika kau malu menumpang pada burung, maka cukup hadapkanlah jiwamu pada ufuk barat, lalu bersujudlah atas nama hamba Tuhan. Tuhan, (harapan dalam hati), mohon kabulkan, Amin!

Separagraf itu saja, lalu aku tersenyum pada gerimis, suara gemerincik diatas atap, rindang alam.

09 03 2016

KEPADA HATI YANG SUNTUK

Bukan... Bukan...
Bukan sebab lelah
Sebab amat sering diam
Dimanja hidangan bertisu
Sebelahnya panggang gurami
Lengkap saos Itali
Hanya raga sibuk berdasi
Tangan tangan gonta ganti
Hidangan apa lagi
Secarik kertas pada saku
Nominal cetakan mesin
Ada angka sisa
Esok tambah lagi
Kaki masih tak nyilu
Hati biarkan saja diam
... ... ... ... ...
Sebab itu suntuk
Lalu memarahi lupa
Tatkala ingat menyertai sadar
Makin seperti bajingan
Bahkan membunuh diri
Dosa...

07 Maret 2016

DI BAWAH CIKAL BAKAL

Pagi
Tanpa jendela
Di bawah cikal bakal
Aku duduk
Memungut saksi
Ada sepatu lusuh
Ada sepatu berlumpur
Ada tinta pada kemeja
Ada tinta pada bangku
Ada di bawah cikal bakal

Aroma aspal sudah debu
Aroma mata sudah persawahan
Jeritan knalpot sudah biasa
Gondrong gondrong merah
Rantai rantai pada leher
Sesekali rombongan kuli
Di bawah cikal bakal
Aku menyurati Ilahi
Wahai kuasa hati
Jadikan bakal indah
Menyertai mereka pada kelak nanti

Di bawah cikal bakal
Merpati sudah tak biasa lagi
Hanya langit berombak awan
Di ufuk timur kini kupandang
Semoga tak hujan
Sebab cikal bakal masih berjuang
Amin...

Lantai Dua MA Al Imam, 07 Maret 2016

PUISI LARA

Lara... ini kamu
Di pelupuk mata kau tinggal
Jangan keman mana
Tak usah keluar
Disana runyam
Kau akan disiksa persaksian

Lara... aku tuanmu
Memungutmu dari nasib
Kau hidup dari bukan sebatang kara
Kau kelengkapan kisah
Bertumpuk pada bening

Lara... ini puisi dari tuanmu
Upaya penyelamatan
Diluar sana kau akan dimangsa
Diamlah saja... Lara
Bertapalah saja
Sebut saja dzikir-dzikir Tuhan
Suatu saat kau-pun pasti keluar
Janjiku dalam kebebasan
Saat tak ada lagi pemangsa
Wahai Lara...

Lara... ini kamu dan aku tuanmu
Aku merasakanmu
Dan kau-pun merasakanku
Berpeluk hangat saja
Tak akan ada yang tahu
Kecuali kau keluar kamar
Tapi jangan
Lara... sabarlah

03 Maret 2016

SALAM KUPU-KUPU, SELAMAT PAGI ALAM SEMESTA

Kupu kupu, semalam kau singgah ke goa tapaku, kukira kau kedinginan lantaran hujan lebat menghantam halaman. Lalu kupersilahkan kau bermalam, pada kain halus yang menggantung pada jendela. Kini salahku, lupa kubukakan pintu hingga matahari searah tombak siap menerkam, nahas, kau telah tiada, meninggalkan jejak sayap sayapmu yang cokelat berlukiskan pola alam yang bijaksana.

Salam kupu kupu, selamat pagi alam semesta.

03 03 2016