INI BUKAN HANYA SOAL TEORI; JAUH LEBIH KOMPLEKS

Ini (apa saja tafsir pembaca) bukan hanya soal teori, tak se-sederhana algoritma percabangan, tak se-sederhana silogisme-nya Aristoteles. Ini jauh lebih kompleks, ada nilai-nilai abstraksi yang kadang mula-mula tak terhingga. Sebut saja begini, teorinya secara umum kita akan mudah mencari X dalam persamaan 4X-5X=2016, lalu bagaimana jika X bukan nilai pasti yang “terbaik” untuk persamaan tersebut, artinya, ada nilai yang disembunyikan yang pada nilai “sama dengannya” mula-mula boleh diubah sebab nilai tersebut adalah kedinamisan (hak kenyataan) yang boleh jadi seharusnya lebih baik bernilai 2017 atau seterusnya.

Memang runyam menjelaskan tentang kompleks yang tak bersinergi dengan teori. “Ini” adalah sebuah kejutan fenomenal yang acapkali lebih pahit dari kopi. Lebih manis dari madu asli. Lebih dan lebih  yang terdapat kontradiksi akut didalamnya. “Ini” adalah soal ketentuan yang otak tak bisa menakar lebih rinci, se-detail apapun kita menghitung maka tetap akan terjadi nalar post-rekonstruksi ide (anggap saja istilah ini sejalan dengan pembahasan post-modernisme).

Pada dasarnya ini adalah buah pikir sederhana yang dirunyamkan. Mencoba menjelaskan “ini”, atau lebih tepatnya mencurahkan isi hati pada para pembaca tentang “ini”ku yang semakin hari semakin menggerus emosi. Penjelasan ini hanya sebagai bentuk “survive” dari sekelumit persoalan tentang “ini” yang berhasil membuyarkan banyak fiksi, puisi, nilai kreatifitas, bahkan kekhusuk-an pada Ilahi (semoga diampuni).

Semakin jelas bukan, apa yang saya maksud dengan “ini”. Jemari ini tak berani menyebut secara lantang tentang “ini”, ada rasa kerdil dalam diri ketika mencoba menyebutnya sebagai persoalan vital yang berhasil memupuskan hasil pengalaman (bisa dibaca mengaji) bertahun-tahun lamanya, entah itu pengalaman nalar, spiritual, bahkan pengalaman fiskal.

Pembaca yang mulai paham (andai ada yang membaca), sekali lagi saya sampaikan “ini” bukan hanya soal teori, ada nilai kompleksitas yang harus dijamah sedemikian cara hingga kita mampu membawanya pada ke-tidak-sesatan pemahaman (ayahku menyebut mursal). “Ini” adalah pelajaran baru, dimana ukuran berhasilnya bukan ketika kita meraihnya yang semau kita, justru bagaimana kita memahami pola kebijaksanaan alam (Tuhan yang menetapkan ini melalui hukum kesengajaan, didalamnya ada usaha kita), dan yakinilah “semua adalah yang terbaik”.

27 April 2016

Catat: “Ini” akan saya perjelas jika sudah waktunya. J

No comments:

Post a Comment