PENIPU MENJAWAB; SAYANG

Kau pikir aku sudah waras. Sedemikian gampang-kah kau sebut aku penipu. Bukankah kau sudah mengambil banyak dari keperawanan pengalamanku. Ayolah "kamu", rekah senyummu adalah peduliku, aku yang lemah, dengan puisi ini aku mampu menyapamu. Ayolah bertasbih saja sayang, seperti janji kita di penghujung jalan. Bukankah kamu yang mengajarkan, tentang menerima ketetapan Tuhan. Setapak yang kulalui, kanan kiriku bara api. Kepatuhan ini bukan soal drama fiksi, ini soal kenyataan aku yang tak terlahir dari batu suci. Jambesari, 30 April 2016

No comments:

Post a Comment