TANGANMU DINGIN

Rahasia apalagi di buih tipis ini
Cahaya siang kian silaukan mata

Tanganmu dingin membelai
Sekujur lingkupku kaku

Sudah; Besok saja
Dingin terurai mengalir

28 Mei 2016

MESRA

Tukarkan aku seribu racikan kopi
Yang terakhir kau cicipi
Sebab lainnya
Asal-asalan si barista
Lihat mukanya
Ia ingin kita bermesra
Pada gelas terakhir
Dimuka bibir; aku
Dihujat petir sayang
Malam pertama kita menggigil
Ia kah; hahahaha
Seduh saja
Aroma biarlah lebih dulu
Memancing hasrat bermesra
Pada bola mata
Melototi makna

Bisari, 28 Mei 2016

RAGA, SIAPA KAMU

Siapa, siapa, siapa
Mengamuk bulu-bulu berdiri
Mata pejam
Menanyakan bungkus
Isinya apa hanya perut
Menanyakan, tanya, tanya
Siapa raga
Rongsokan bernyawa
Titipan berjangka
Bubar, bubar, bubar
Tanyakan siang sampai malam
Cermin boleh juga
Biar terlihat pisah resah
Kusam tak sama suram
Bening beda hening
Lucuti raga
Siapa kamu

Bisari, Jum’at,12.50 wib, 27 Mei 2016

DJIWO KUSUMO; WASIAT TAPA*

Anyaman bisu
Berbuah peka pada Djiwo
Kultum mimpi; bisikan sunyi
Gencar mekar; pada halaman sejengkal
Di balik tapa
Kunang-kunang siang
Merpati malam
Terlihat pertikaian seisi Djiwo
Seakan;
Wasiat-wasiat berucap lantang
Ada sepucuk ketetapan lusuh
Tertera nama dipaksa tertanda-tangani
Gemetar;
Lusuhnya masih tak terbaca semua
Ada tanda apa
Kalimat apa
Paragraf apa
Huruf apa
Atau; ada kutipan lara
Sedang dekat meraba Djiwo petapa

Bersambung...

24 Mei 2016

*Puisi Ke-2 dari Antologi Puisi Djiwo Kusumo. Semoga bermanfaat!!!a

SIANG DI SETUMPUK KERTAS

Adzan berkumandang; dhuhur kalau tak salah
Bersila peluh di atas setumpuk kertas
Sesekali terdengar jeritan knalpot seberang pagar
Klakson dengan ritme jempol masing-masing tangan
Kutarik sedikit kopiah hitam ke belakang
Angin;
Hempaslah basah mungil ini dari pintu samping kiri
Sampai kemudian; ditengah harap
Kulucuti selimut kaki
Sentuhan pertama pada lantai putih berdebu tipis
Dingin rasanya sampai pada hati
Di setumpuk kertas
Hadirlah kekhusuk-an
Jangan bertingkah keduniaan
Ada hal yang lebih penting dipungut pelan-pelan
Sebelum dicuri setannya diri

Pojok Sekolahan, 23 Mei 2016

DJIWO KUSUMO; PANGERAN TELANTAR

Dari kerajaan ber-bendera hijau
Seberang Gunung Argopuro
Sebuah bibir lautan berlumpur hitam
Pangeran berasal; mungkin

Sempat mahkota bertengger
Lama-lama ia terjual di pasar
Telantar Djiwo Kusumo
Kesaktiannya dicuri kemelaratan
Ia mengamuk; mencaci

Bagaimana kisah sempurnanya
Belum ada balada-balada tercipta
Pangeran-pun masih merintih
Ingin kembali; tapi dimana

Djiwo Kusumo kebingungan
Ada besitan sapa di hatinya
Bersemedilah; Bersemedilah...
Tak panjang rangkai putar otak
Lalu Djiwo meminang rahim sebuah goa

Bersambung...

Ditulis di Kerajaan Fiksi, 23 Mei 2016

MEMANGKU MAAFMU

Pada mata yang runyam diartikan
Telisik fikirku gontai
Hingga menjulur lentik jemarimu
Kuterima bersama pola urakan
Menopengkan gejala romansa berpulang
Tak perlu seribu alasan
Kupangku maafmu
Meski tak kau miliki salahmu
Justru aku...
Korban gejolak keselarasan
Air tak mengalir pada ketinggian
Kecuali disergap langit
Dan jatuh pada keinginan
Maaf, balas untuk maafmu
Yang kupangku pagi itu

Jambesari, 22 Mei 2016

SAPARDI; AKU MENYAPAMU

Sapardi
Aku menyapamu pagi ini
Lewat jalan samanya kita manusia
Samanya kita; begini
Gila yang digila-gilakan
Tenggelam yang ditenggelam-gelamkan
Samudra ini terlalu dalam Sapardi
Beda kelas
Tertinggal aku; disalip keruh mukamu
Disalip tekun aksara yang selalu kau rindukan
Heranku
Perahu Kertas*-mu kini tak karam
Padahal ombak kesusastraan kian sangar...
Di Tanah hitam putih negeri ini
Sapardi
Apa karena kau punya; judulnya...
Ayat-ayat api*
Berkobar percik-percik
Malah sebagian membakar kemejaku
Kulucuti; lalu kubuat pemanas kopi
Biar mataku melotot
Pada Sihir Hujan* saktimu
Hingga akan Hujan Bulan Juni*; Sapardi
Setelah kau buat aku kepanasan
Kau akan buat aku kedinginan
Sesederhana petik sajakmu
Mengalir; menghempas detak waktu
Menyeret sekumpulan angan
Dadaku yang sesak
Kembali ronta kekanak-kanakan
Bak Mata Jendela*
Kulihat hamparan tempat bermain; luas
Dari bilik pojok-ku yang letih
Dan; Sapardi
Aku tergelincir
Jatuh pada pundakmu

21 Mei 2016

Sapardi, bernama lengkap Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang penyair (pujangga) Indonesia yang dikenal melalui puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana tapi tetap dengan keindahannya, serta makna yang luar biasa, sehingga sangat populer baik di kalangan sastrawan ataupun khalayak umum.

Tanda bintang (*) adalah sebagian Judul-judul buku karya beliau.

Salam Kesusastraan Nusantara Bung Sapardi

KIDUNG NISFU SYA’BAN

Heninglah
Belum;

Heninglah
Masih ramai;

Heninglah
Hening;

Mari eja
Alif, alif, alif

Kita adalah alif
Telah tertakdir hidup
Tanpa harakat pun
Telah berawal

Mari eja
Tegak ataukah miring

Ramai; sebentar
Belum hening

Heninglah
Heninglah
Hening...

Sudah sepertiga malam
Bunyi-bunyi mari eja
Gemercik dosa
Lembar ke lembar
Alif masih miring

Malaikat
Bahu kanan kiri
Malaikat di sunyi
Hening; mari eja

Letih berdosa
Apa dosa telah letih
Keranda kapan ditumpangi
Ingat; kapan saja terjadi

Alif, Alif, Alif
Asthagfirullah

Sudi malam beranjak
Bawa merah catatan
Pada Sang; Tuhan...
Maha Pemberi Ampunan

Kidung menepi
Pojok makna merana sendiri
Malaikat sepi
Haturkan sujud hati
Jangan cegat malam ini

Heninglah
Enyahlah penyakit diri
Hening
Kidung bersemi

Alif, Alif, Alif
Mengeja alif barangkali sukar
Hening-pun bila sampai
Nisfu sya’ban
Mengerang rapor tahunan

Tertanda; hening
Alif
Tegaklah
Miring akan ronta

Kembalilah
Hening; ketika...
Lupa alif bermartabat

Heninglah
Hening;
Titik koma

Minggu, 09.00 – 02.20 WIB, 22 Mei 2016

REKAH SEORANG GADIS

Embun; atau mungkin kabut
Selendang pagi melayang ringan
Gembala letih ke trotoar
Bersama empat judul lagu
Pagi; atau mungkin subuh

Gadis; atau mungkin perawan
Percikan doa semalam berderu
Ditunggu layu kemungkinan satu
Ternyata pelik kesengajaan
Pergi; atau mungkin bersemedi

Rekah; atau mungkin sapa bibir
Anggun atau bolehlah tak begitu
Sukma tertunduk diam-diam
Sekelumit dinada kata
Puisi; atau mungkin letup rasa

Gadis; atau mungkin embun
Apalah genjatan perang ketakutan
Ada luka mengemis perban
Sudikah dililitkan seirama doa
Bahagia; atau mungkin .......

Selepas Pagi Bondowoso, 20 Mei 2016

MEMANAH LANGIT

Ingin kuletuskan balon hitam
Biar kau kedinginan malam ini
Gerimis mungkin; bersama angin kecil

Begitu kau akan rindu
Pada sebuah malam rindang
Kau tersenyum tipis; bersama rintik

Ingin kupanah langit
Satu busur malam ini
Esok satu lagi; bersama hilir mimpi

Ternyata meleset Dewi
Jatuh ke hutan semak ber-ular
Biarlah saja; aku kedinginan sendiri

Jambesari, 19 Mei 2016

MENYURATI LELAH

Kpd. Yth. Saudara Lelah
Di Kediaman

Assalamualaikum, wr.wb.
Kepada Saudara Lelah yang urung disebut perjuangan
Keringat yang semoga tak hanya kau perjual belikan
Pada pasar dunia yang kerap tak mempedulikan kebarokahan
Semesta raga yang bertumpu pada intisari
Dimana maknawi kini menjalar tanpa surgawi
Semoga masih ada goresan nurani
Dimana tak hanya tangan berperih bukti
Dimana tak hanya kaki merintih saban hari
Dimana tak hanya seisi kepala ini
Menggelinding menggugurkan pertukaran kertas berduri
Saudara Lelah yang sedang menyeruput kopi
Ingatlah siapa kau terjadi
Ingatlah apa kau terjadi
Kau peluang dari sekian banyaknya kesempatan
Dari sekian sedikitnya ke-tak-mungkinan
Kurang ajar jika kau abaikan kebanyakan
Pada celah jendela yang menyelinap terik mentari
Lihatlah debu halus berterbangan
Disana banyak ruang kosong untuk berjemur asa
Seperti itulah peluang memerangi kemalasan
Cukup kau rela kepanasan
Sembari berusaha agar tak tertiup angin kepentingan
Sebab jika itu terjadi
Terbawalah kau pada kegelapan yang nyaman
Atau bisa jadi gugur pada lantai kemalasan
Tanpa segalanya
Saudaraku Lelah
Cukup sekian surat dari Sahabatmu di satu titik waktu
Jika kau rindu
Maka kirim kembali surat ini padaku
Salam hangat persahabatan
Assalamualaikum, wr.wb.

19 Mei 2016
Sahabatmu

Ahmad Taufiq

SEBAIT MALAM

Tukar mataku dengan rembulan Tukar hidungku dengan lautan bintang Tukar mulutku dengan langit yang menganga Tukar semuanya dengan malam Perkutut putih kabur Sedang aku sudah sangkar anyarnya Ia masih tak hiraukan Hinggaplah! Kakimu sudah waktunya berpijak Aku siap... 17 Mei 2016 Catat: bukan soal wanita, soal pertanyaan

MEMANGGIL JIWA KEN AROK

Ken
Arok terpendam
Petilasan ujung bumi
Nusantara rimba duka
Bersemi bunga-bunga
Sedang nahas
Aroma tewas
Gejolak jiwa
Mimpi bahtera
Bernahkoda remang
Samudera Antartika
Angin siang
Ken
Arok dibawa kemana
Apa pada mimpi pancasila
Gusur saja norma
Pita tenggorokan pecah
Hanya rintih
Setelah Indonesia apa?
Kediri Singosari Mataram
Belah sejarah
Kita bangsa edan
Identitas bukan lawan
Gugur tempur
Tempur gugur
Ada mata-mata
Masa lalu mengintai kita
Ken
Arok wangsa rajasa
Bangsa raja
Pada dongeng
Raib dikunyah
Dicabik darah merdeka
Jiwa
Ken
Arok datanglah

Jambesari, 16 Mei 2016

RUH NAKAL

Pengap
Kepala bising
Dada mengayun pelan
Angin;
Yang ditiduri terik
Senja berlabuh
Peluh kucur perlahan
Sementara gersang
Panen yang mana
Jangan sombong;
Yang halus
Mengancam iman
Bukankah telanjang
Bahkan tanpa raga
Terbang;
Yang disudahi kekal
Pada Sang Tunggal
Puncak segala perjalanan
Bercumbu;
Sehabis masa tanah ibu
Berladang
Di musim kilat
Selamat tinggal
Tamat
Berubahlah judul
Aktor ber-ruh sama
Semoga;
Melihat Tuhan
Hamba yang nakal
Ruh di sajak rindu

Senja di Jambesari, 15 Mei 2016

HIDUP DI JALANAN MENUJU PULANG

Bibir ini tak cakap merayu
Pada makhluk Tuhan yang dipertanyakan
Mata ini tak lihai berkedip
Pada tatapan yang dirahasiakan
Telinga ini tak terlatih sebagai kenyamanan
Pada lisan yang dioles pewarna
Otak ini tak diisi drama pemikat
Pada perasaan yang diundang bercengkrama
Hati ini tak cukup mampu memanggil
Pada hati yang ditakdirkan bersanding
Apalagi menetapkan takdir
Siapalah diri ini yang hanya bersila tunggu
Memejamkan mata megikuti irama nyata
Menyibukkan bibir memanjatkan dzikir
Membijakkan telingga mendengarkan bisikan tanda
Mengajak otak mengarungi waktu bersila tunggu
Membelai hati memulaskannya pada keyakinan
Di semenanjung asa yang penuh cibiran
Amat sia-sia tak menggubrisnya dengan makna
Pada aksara-aksara nisan ketetapan
Akan dibacakan oleh sejagat mata berbeda
Di waktu yang mungkin
Saat mereka tak sengaja mengenali jiwa ilalang
Hidup di jalanan menuju pulang

Jambesari, Sabtu, 14 Mei 2016

MELEPAS PAGI DI KENING KOTA

Ada cina ber-anjing tanpa rantai; wuh
Ada perawan ber-hijab tanpa pasangan; heh
Ada pe-sepeda ber-seragam mengayun santai; hem
Ada tukang sapu jalanan khusuk memungut sesampahan; jos
Ada tukang parkir sibuk meniup peluit; wit
Ada pasangan sepuh berlari dengan keromantisan; asik
Ada tentara pensiunan gagah dengan peluh bermandikan; wow
Ada sekuriti-sekuriti dikawal atasan sembari bernyanyi lantang; yo
Ada banyak lagi di kening kota
Pagi ini berdansa dengan terbitnya matahari

Ada sukma-sukma dengan beragam keadaan
Melenyapkan kekosongan
Melenyapkan metabolisme yang belum kelar
Mengais buih-buih kelanjutan bernafas
Atau hanya sekedar memperhatikan kebijakan alam berhajat
Di kening kota
Pada gugurnya dedaunan tanpa campur tangan angin
Saat terik masih belum melahap keramaian

Seperti pesta tanpa hidangan
Meminum minuman sesuka mata
Mencicipi embun yang sebentar lagi habis dikunyah knalpot kota
Menggigil menulis perpisahan pagi di kening kota
Berkompetesi dengan karpet aspal
Seakan semua berdandan sambil menghadap kamera
Paparazzi tuntutan memaksa otak
Habis sudah pagi
Dibawa pada rimba yang entah dimana

13 Mei 2016

MENGADILI SEJARAH


*Sumbangsih sajak pemberitaan tentang G30S PKI yang semakin runyam menguak fakta kebenarannya.

Hari ini semakin gencar
Genjer-genjer semakin ramai diputar
Entah sebagai bentuk kegagahan
Atau hanya sensasi kaum labil yang haus perhatian
Atau benar-benar kebangkitan

Semakin gencar
Bendera merah ber-palu arit berkibar
Terjadi pencopotan dimana-mana
Entah sebagai dalih kebebasan ekspresi
Atau hanya meramaikan media pagi

Sempat diberitakan
Turis-pun diringkus di pulau dewata
Sebab ia tak paham akar sejarah Indonesia
Palu arit ia bentangkan perkasa
Hingga berkecamuklah aduan warga

Hari semakin gencar
Kian banyak acara “kamuflase” dibubarkan
Pagelaran sastra
Pagelaran sinema
Bahkan pagelaran akademis
Entahlah yang benar bagaimana

Mengadili sejarah
Skenario semakin runyam
Rupanya sang korban 65 menuntut keadilan
Meminta pembersihan nama baik oleh pemerintahan
Tuntutan perminta-maafan
Penyiksaan di masa lalu; para korban menggerutu

Tak cukup begitu
Pembenaran pelanggaran HAM menggebu
Korban pembuangan ke pulau Bulu
Rupanya semakin lantang menyiarkan pilu
Bahkan hingga sekarang
Terlantar sebagai identitas yang dikucilkan

Seribu cara kebijaksanaan terlontar
Dari penulis beken hingga presiden
Kebijakan konstitusional
Kebijakan sosial
Kini berbondong-bondong memikirkan
Mengadili masa lalu
Mengadili sejarah bangsa yang ber-abu

Perlukah atau benarkah
Membongkar kuburan masal menakutkan
Demi menyingkap “rahasia” kenegaraan
Tak ada buku sejarah resmi tragedi pertiwi ini
Seperti kuburan tanpa nisan
Tapi tanahnya semakin menjulang
Seperti mayat berumur 50 tahunan
Tapi aromanya bak sehari silam

Mengadili sejarah
Seperti otopsi yang berkali-kali
Dokternya ganti-ganti
Ruangannya tetap saja tanah pribumi
Dari reformasi kini Jokowi
Sebenarnya apa yang nyatanya terjadi
Sejarah basa basi

Jambesari, 11 Mei 2016

SURAT CINTA; ANGGAP SAJA BEGITU

Saya rasa kamu paham, bagaimana mungkin puisi-puisiku hilang hanya sebab kau korban takdir yang tak dipastikan. Kau ada di dalamnya "sayang", bersemayam pada nadi puisiku yang telah menyumbangkan hidupku. Suatu saat pada acara reuni alam kegembiaran akan kuceritakan pada sahabat sahabat takdirku, bahwa kau pernah menjalar di sekujur jiwaku. Kejam memang, tapi saya rasa kamu paham, kekejaman ini justru ujian kenaikan kelas yang kau katakan. Salam rindu dari jendelaku yang melamun seisi rumah dukamu.

Lenoly pinguin

MENCEMBURUI TAKDIR

Begitulah gelagat hati yang karat akan imam, mungkin saya, mencemburui takdir, seakan ketetapan Tuhan hanya candaan kiri yang arah nilainya tergenang dengan keruh air kecemburuan.

Ini seperti tulisan penodaan diri sendiri, sebab tak dipungkiri, aungan distorsi keimanan kian menjadi-jadi. Petaka memang, hingga kupandang sepenggal ikhtiar, mencoba melucuti karat sebisa hamba laknat yang makin sekarat.

Hari-hari seperti menuju akan kekosongan penuh, dimana tak terdengar lagi hikmah debu bergeser sejajar arah tiupan angin; kejatuhan dedaunan yang sedikit menyentuh ranting; bahkan kerikil dari tangan anak kecil yang memecahkan kaca jendela sebab ketepel.

Oh Tuhan, ini kegelisahan siang di bawah tekanan keharmonisan keinginan dan waktu. Seperti terbuang pada rimba, bedanya hanya suara Simbadda dengan lagu-lagu kebosanan, secangkir kopi dan kertas digital tempat kutulis pasang-surut-nya cerita.

Sim salabin, mauku yang begitu, dulu se-sederhana itu anggapanku, ternyata takdir-Mu masih kupertanyakan, apakah sebenarnya hikmah dibalik segala “yang kuanggap” keterpurukan. Sungguh, ini bukan drama kaum sufi pada klimaks pengukuhannya. Ini pertahanan.

Ini rindu, Tuhan, belailah hambamu ini, pada sepekat apapun hati, kembalikanlah pada jalur keimanan. Ibadahku yang lusuh, rapikanlah dengan keimanan; dzikirku yang keruh, jernihkanlah dengan keimanan; kecemburuanku yang kerap berlabuh, sembuhkanlah dengan keimanan.

Tersemat perpisahan, kupejamkan sedikit kelopak mata, lalu adzan ashar berkumandang, semoga indikasi pencerahan. Pada seseduh kopi, lalu inilah takdir dahaga setelah mengingat Ilahi. Laa Ilaaha Illallah, Walaahawlaa walaa quwwata illa billah...

10 Mei 2016

SAKRALISASI POLITIK HATI

Super-posisi angan raya
Turbulensi hebat kerap terjadi disini
Korbannya jutaan dilema
Bak politik seret sana seret sini
Sakralnya kerap diacuhkan hierarki
Setelah begini harusnya begitu
Tak boleh begini lalu begini
Padahal ia mega-sistem operasional
Di dalamnya algoritma mapan
Sedang virus trojan pemalsu segalanya menyerang
Sudah seperti percaturan waktu
Kombinasi peluang kerap diabaikan
Dan berlanjutlah...
Terpuruk nilai supranatural
Terbelenggu kaidah-kaidah rasional
Nahkoda bukan lagi keyakinan
Justru nostalgia empirisme babi buta
Hilang sub kasta etika
Dinamika teoritis justru dikukuhkan menjadi raja
Lalu bagaimana nasib kerajaan dwi mulia
Raga jiwa terombang-ambing oleh politiknya
Tanpa sakralisasi
Tanpa fundemental independensial
Hingga petang di musim kematian
Semoga saja tidak

Pasca turbulensi, Jambesari, Senin, 09 Mei 2016

BUKAN DEK YUYUN*

Dek Yuyun

Dek Yuyun...
Maaf Dek Yuyun, ini bukan kamu
Ini hanya cerita melankolisnya negeri ini
Cerita kepala berita sepekan ini
Bengkulu amat tak asing lagi
Kini semua tahu bengkulumu yang sunyi
Sebab rerimbunan pohon rindang tempat kau merintih
Difoto – dipajang dimana-mana

Dek Yuyun...
Maaf, ini bukan tentang kamu
Ini hanya cerita pramuka yang miris
Sebelummu Salam Pramuka** dibikin najis
Kali ini pramukamu dilucuti para iblis
Makin sangar setapak ini
Dimana pertiwi mengadili tragedi
Sekolahan kah?
Masyarakat kah?
Keluarga kah?
Pemerintah kah?
Atau ... pasrah?

Dek Yuyun...
Maaf Dek Yuyun, ini bukan kamu
Ini hanya kisah pilu setelah Angeline*** itu
Dia adekmu di bumi pertiwi juga
Tapi kamu, kakak yang lebih malang nasibnya
Dimangsa 14 binatang muda yang hilang akal
Disidang saja cengengesan
Seperti tak menyesali cakaran
Begitu kabar
Apa tak kurang ajar...
Wajarlah kebiri diwacanakan
Meski keadilan tetap berkiblat undang undang dasar

Dek Yuyun...
Maaf Dek Yuyun, ini bukan kamu
Ini hanya cerita nestapa dari cerita tetangga
Kuceritakan lagi lewat dawai aksara
Mungkin ada yang tergugah
Lalu berfikir tentang bagaimana melangkah
Sebab generasi ini sudah diambang lelah
Begitu Dek Yuyun...
Sekali lagi, maaf Dek Yuyun, ini bukan kamu
Ini hanya ceritamu yang telah berpulang
Kini hanya doa mampu terperikan
Semoga Kau dalam kebahagian sejati
Disana, di dunia menuju abadi

Jambesari, 07 Mei 2016

*Sajak ini merupakan sumbangsih dukungan keadilan untuk Almh. Yuyun, korban pembunuhan dan pemerkosaan oleh 14 pemuda di Bengkulu.
**Salam Pramuka sempat menjadi key word paling sering dicari di Google beberapa pekan yang lalu. Isinya adalah video mesum remaja yang mengenakan seragam pramuka. Dan mendapatkan banyak respon negatif dari banyak pengamat dunia remaja dan dunia pendidikan Indonesia.
***Angeline merupakan korban kekerasan anak dibawah umur yang terjadi beberapa bulan.

#nyalauntukyuyun

PESUGIHAN ASMARA


Di depan lilin
Dupa di samping telinga
Kocar kacir bunga tujuh rupa
Petang bumi raga kosong
Jiwa melong-long
Mengendus keluar
Memanjat pagar
Menyelinap tanpa getar
"Asmara bala
Bara rasa
Rasa Asmara;
Bebas lepas
Lepas merampas
Rampas nahas"
Aji pesugihan
Mulut merajut
Hingga tengah malam
Lalu terkapar
Pagi pulang urakan
Pada gelagat nelangsa
Asmara berpenjaga
Pelik disangka
Dicuri-pun bagaimana

07 Mei 2016

MERPATI BERDURI

Kecup keningku
Lukai sesukamu
Merpatiku
Kau akan pergi bukan
Sebab aku mati jalan
Pada dustaku
Silahkan tusukkan durimu
Rela perih asal kau terbang indah lagi
Bukankah langitmu masih luas
Dan pasti ada percik air tragedi
Dimana hari ini
Kelak menjadi pelangi
Kita akan sama sama melihatnya
Wahai merpati fiksi
Pada analogi ini
Bukan lagi soal mencaci maki
Memahami bukan pula empati
Kenyataan ini hanya teori
Selebihnya kita adalah inti
Bermuara pada hati
Lalu merebahkan substansi
Pada ketetapan Ilahi
Bukankah kau yakin itu
Pelajaran sakral
Di langit kekhusuk-an

Jambesari, 04 Mei 2016

SAJAK SURAT; JALAN BEBATUAN KORBAN PERPOLITIKAN

Begitu judul di atas
Garis bawah bukan di metropolitan
Ini cerita pinggiran
Di tempat kosong pencitraan
Sebab media bukan konsumsi rakyatnya
Paling santer ya waktu pilkada saja

Jalan bebatuan
Bukan sebab tiada aspal
Justru ini mantan jalan yang sempat dimapankan
Entah sejak kapan
Para dewan tak pernah melirik jalan ini lagi
Padahal jalur utama pinggiran pertiwi
Lebih lagi lembaga pendidikan membentang disini
Benar-benar luput tinjauan
Atau bahkan pura-pura tak ditinjau

Pak dewan
Pak pemerintahan
Ini sajak surat kabar
Kali saja kau dengar

Kata cerita dari mulut para penikmat kerikil desa
Jalan ini korban perpolitikan saja
Entah bagaimana plot ceritanya
Orang atas amat banyak kong-kalikong-nya
Tak sanggup dipaham rakyat jelata

Pak dewan
Pak kepala desa (mungkin)
Pak camat (mungkin)
Pak bupati (mungkin)
Pak gubernur (mungkin)
Pak presiden (mungkin)
Entah bagaimana alur birokrasi Indonesia Raya ini mengadu
Pada siapa?
Atau mungkin kami diam saja
Menikmati bebatuan saban hari
Padahal pemerintahan kami sanggup memperbaiki jalan ini

Pak dewan
Pak pemerintahan (pasti)
Apakah kami harus iuran sendiri
Demi jalan yang dikorbankan perpolitikan
Perang dewan atasan yang korbannya justru rakyat gembalaan
Ya.. gembalaan
Kami digembala demokrasi yang basi
Demokrasi berduri dengki
Demokrasi berlabel nasi
Demokrasi yang lebih mesra dari puisi
Padahal isinya penodaan pertiwi

Pak dewan
Pak pemerintahan (ingat! pasti)
Ini bukan sajak pemberontakan
Ini sajak permohonan
Ini sajak dari penikmat bebatuan di sepanjang jalan
Sebut saja masalah sepele kenegaraan
Tak se parah reklamasi jakarta
Tak se parah hambalang
Tapi jika sepela saja kalian acuhkan
Bagaimana mungkin tawa negeri ini terselesaikan
Semakin lucu bukan?

Pak dewan
Pak pemerintahan
Hormat rakyat pinggiran
Salam perjuangan
Semoga amal kalian diterima disisi Tuhan

Ditanda-tangani

Rakyat Pinggiran

Jambesari, Jambesari Darus Sholah, Bondowoso. 03 Mei 2016


MENULIS NURUL JADID

Nurul Jadid
Begini saban aku datang dari pelukmu

Bisuku kini tak bisu
Diamku kini tak diam
Putus asaku kini tak putus
Banyak lagi
Seperti gerak reflektor
Berlabuh di tanahmu adalah efek terbalik
Yang mula-mula bisa dibawa pulang
Nostalgia alammu adalah rambu-rambu
Seakan tahu aku harus bagaimana
Tak boleh belok kiri
Dilarang parkir
Atau bahkan sejenak tak boleh melanjutkan langkah

Nurul Jadid
Begini salam hati saban aku berjauh denganmu

Rindu berlapis rindu
Lirik-lirik pengundang masa lalu
Kubisikkan pada ruang
Tawassul bergetar sunyi di bilik hati
Kyai Zaini hingga Kyai Zuhri
Kyai-kyai sepuh hingga yang masih berjuang
Lantun do’a
Barakallah fi ilmi
Bersamakanlah dengan beliau-beliau kelak
Seperti duri pada tangkai
Berharap menawan bersama rekah kemapanan
Bahkan berubah tumpul tak melukai keimanan

Nurul Jadid
Masih banyak yang terbesit
Namun menulisku masih belum gesit
Tak cukup mengurai sakralmu
Tak cukup menggambar kesanmu
Tak cukup menyudahi lukis rupa keanggunanmu

Nurul Jadid Ma’hadi
Di tanahmu babul kalam hingga babul sulasi mujarrot
Di tanahmu chapter beginner hingga hingga chapter advanced
Di tanahmu berteatrikal hinggal dialektikal
Di tanahmu filsafat yunani-inggris-jerman hingga prancis
Di tanahmu GLB hingga E=MC2
Di tanahmu Chairil Anwar hingga Dee bahkan Sutardji
Di tanahmu filosofi kopi hingga menggincu dinding
Di tanahmu aktifis, organisatoris hingga ajaran tak apatis
Di tanahmu berjurnalistik hingga, menulis, menulis, menulis

Menulis Nurul Jadid
Entah apa lagi
Masih banyak lagi
Pada bait ini sulit kuselesaikan puisi
Sebab menyajikan utuhmu tak cukup ruang memori
Ma’hadi
Salam rindu saja kutegaskan
Dari santrimu di salah satu titik bumi

Selasa, 3 Mei 2016, paska harlah ke-67
“ Tawassalna tawassalna bijahi syaikhina Zaini
Arsadana ilal qodir wanuru fil mala dhohir”

MACAPAT RINDU

Semesta dengar
Alam yang terbuka liar
Angin malam dari bawah pintu
Suara mistis meraba telinga
Datang segerombolan metafisika
Di bawah sadar yang terasa
Mengaung serigala
Pertanda gulita mencekam
Cahaya ditikam
Runtuh rindu pada dada
Celurit nyata tak sanggup memenggal
Diciumlah saja
Rindu di air yang jatuh dari mata
Kekasih....
Siapapun dan apapun rupamu
Rindu dalam macapatku
Bacalah suatu ketika
Dimana ikan koi menghiasi dinding kita
Setelah balada

Jambesari, 02 Mei 2016