MENCEMBURUI TAKDIR

Begitulah gelagat hati yang karat akan imam, mungkin saya, mencemburui takdir, seakan ketetapan Tuhan hanya candaan kiri yang arah nilainya tergenang dengan keruh air kecemburuan.

Ini seperti tulisan penodaan diri sendiri, sebab tak dipungkiri, aungan distorsi keimanan kian menjadi-jadi. Petaka memang, hingga kupandang sepenggal ikhtiar, mencoba melucuti karat sebisa hamba laknat yang makin sekarat.

Hari-hari seperti menuju akan kekosongan penuh, dimana tak terdengar lagi hikmah debu bergeser sejajar arah tiupan angin; kejatuhan dedaunan yang sedikit menyentuh ranting; bahkan kerikil dari tangan anak kecil yang memecahkan kaca jendela sebab ketepel.

Oh Tuhan, ini kegelisahan siang di bawah tekanan keharmonisan keinginan dan waktu. Seperti terbuang pada rimba, bedanya hanya suara Simbadda dengan lagu-lagu kebosanan, secangkir kopi dan kertas digital tempat kutulis pasang-surut-nya cerita.

Sim salabin, mauku yang begitu, dulu se-sederhana itu anggapanku, ternyata takdir-Mu masih kupertanyakan, apakah sebenarnya hikmah dibalik segala “yang kuanggap” keterpurukan. Sungguh, ini bukan drama kaum sufi pada klimaks pengukuhannya. Ini pertahanan.

Ini rindu, Tuhan, belailah hambamu ini, pada sepekat apapun hati, kembalikanlah pada jalur keimanan. Ibadahku yang lusuh, rapikanlah dengan keimanan; dzikirku yang keruh, jernihkanlah dengan keimanan; kecemburuanku yang kerap berlabuh, sembuhkanlah dengan keimanan.

Tersemat perpisahan, kupejamkan sedikit kelopak mata, lalu adzan ashar berkumandang, semoga indikasi pencerahan. Pada seseduh kopi, lalu inilah takdir dahaga setelah mengingat Ilahi. Laa Ilaaha Illallah, Walaahawlaa walaa quwwata illa billah...

10 Mei 2016

No comments:

Post a Comment