MENULIS NURUL JADID

Nurul Jadid
Begini saban aku datang dari pelukmu

Bisuku kini tak bisu
Diamku kini tak diam
Putus asaku kini tak putus
Banyak lagi
Seperti gerak reflektor
Berlabuh di tanahmu adalah efek terbalik
Yang mula-mula bisa dibawa pulang
Nostalgia alammu adalah rambu-rambu
Seakan tahu aku harus bagaimana
Tak boleh belok kiri
Dilarang parkir
Atau bahkan sejenak tak boleh melanjutkan langkah

Nurul Jadid
Begini salam hati saban aku berjauh denganmu

Rindu berlapis rindu
Lirik-lirik pengundang masa lalu
Kubisikkan pada ruang
Tawassul bergetar sunyi di bilik hati
Kyai Zaini hingga Kyai Zuhri
Kyai-kyai sepuh hingga yang masih berjuang
Lantun do’a
Barakallah fi ilmi
Bersamakanlah dengan beliau-beliau kelak
Seperti duri pada tangkai
Berharap menawan bersama rekah kemapanan
Bahkan berubah tumpul tak melukai keimanan

Nurul Jadid
Masih banyak yang terbesit
Namun menulisku masih belum gesit
Tak cukup mengurai sakralmu
Tak cukup menggambar kesanmu
Tak cukup menyudahi lukis rupa keanggunanmu

Nurul Jadid Ma’hadi
Di tanahmu babul kalam hingga babul sulasi mujarrot
Di tanahmu chapter beginner hingga hingga chapter advanced
Di tanahmu berteatrikal hinggal dialektikal
Di tanahmu filsafat yunani-inggris-jerman hingga prancis
Di tanahmu GLB hingga E=MC2
Di tanahmu Chairil Anwar hingga Dee bahkan Sutardji
Di tanahmu filosofi kopi hingga menggincu dinding
Di tanahmu aktifis, organisatoris hingga ajaran tak apatis
Di tanahmu berjurnalistik hingga, menulis, menulis, menulis

Menulis Nurul Jadid
Entah apa lagi
Masih banyak lagi
Pada bait ini sulit kuselesaikan puisi
Sebab menyajikan utuhmu tak cukup ruang memori
Ma’hadi
Salam rindu saja kutegaskan
Dari santrimu di salah satu titik bumi

Selasa, 3 Mei 2016, paska harlah ke-67
“ Tawassalna tawassalna bijahi syaikhina Zaini
Arsadana ilal qodir wanuru fil mala dhohir”

No comments:

Post a Comment