SAJAK SURAT; JALAN BEBATUAN KORBAN PERPOLITIKAN

Begitu judul di atas
Garis bawah bukan di metropolitan
Ini cerita pinggiran
Di tempat kosong pencitraan
Sebab media bukan konsumsi rakyatnya
Paling santer ya waktu pilkada saja

Jalan bebatuan
Bukan sebab tiada aspal
Justru ini mantan jalan yang sempat dimapankan
Entah sejak kapan
Para dewan tak pernah melirik jalan ini lagi
Padahal jalur utama pinggiran pertiwi
Lebih lagi lembaga pendidikan membentang disini
Benar-benar luput tinjauan
Atau bahkan pura-pura tak ditinjau

Pak dewan
Pak pemerintahan
Ini sajak surat kabar
Kali saja kau dengar

Kata cerita dari mulut para penikmat kerikil desa
Jalan ini korban perpolitikan saja
Entah bagaimana plot ceritanya
Orang atas amat banyak kong-kalikong-nya
Tak sanggup dipaham rakyat jelata

Pak dewan
Pak kepala desa (mungkin)
Pak camat (mungkin)
Pak bupati (mungkin)
Pak gubernur (mungkin)
Pak presiden (mungkin)
Entah bagaimana alur birokrasi Indonesia Raya ini mengadu
Pada siapa?
Atau mungkin kami diam saja
Menikmati bebatuan saban hari
Padahal pemerintahan kami sanggup memperbaiki jalan ini

Pak dewan
Pak pemerintahan (pasti)
Apakah kami harus iuran sendiri
Demi jalan yang dikorbankan perpolitikan
Perang dewan atasan yang korbannya justru rakyat gembalaan
Ya.. gembalaan
Kami digembala demokrasi yang basi
Demokrasi berduri dengki
Demokrasi berlabel nasi
Demokrasi yang lebih mesra dari puisi
Padahal isinya penodaan pertiwi

Pak dewan
Pak pemerintahan (ingat! pasti)
Ini bukan sajak pemberontakan
Ini sajak permohonan
Ini sajak dari penikmat bebatuan di sepanjang jalan
Sebut saja masalah sepele kenegaraan
Tak se parah reklamasi jakarta
Tak se parah hambalang
Tapi jika sepela saja kalian acuhkan
Bagaimana mungkin tawa negeri ini terselesaikan
Semakin lucu bukan?

Pak dewan
Pak pemerintahan
Hormat rakyat pinggiran
Salam perjuangan
Semoga amal kalian diterima disisi Tuhan

Ditanda-tangani

Rakyat Pinggiran

Jambesari, Jambesari Darus Sholah, Bondowoso. 03 Mei 2016


No comments:

Post a Comment