TAKUT MENULIS SEPI

Terlalu takut
Karena sulit dirayakan
Menulis sepi adalah menulis takdir
Hanya mampu dibaca mata terbuka
Sebab lainnya
Tanpa mata-pun kita bisa
Terlalu banyak mendefinisikan sepi
Ada yang berdansa bersama angin
Meneriaki setan
Bahkan menuntut Tuhan
Terlalu takut
Karena memang berwajah seram
Siapa tak takut
Bahkan menulispun
Karena itu kulempar batu nisan
Kurayakan sepi
Di pucuk dedaunan malam
Yang disebut kemenangan
Sebab kekalahan telah disandangkan
Bagi yang kesepian
Dan pada suatu rindu
Bibir akan tersenyum
Mengeja yang terlewatkan
Yang ditakuti sekawanan pecundang

30 juni 2016

MENCURIGAI ALAM

Mulai kucurigai gelagat alam
Seakan ada bisikan-bisikan lirih
Hinggap di kupu-kupu dengarku
Masih kuterjemahkan
Pada bahasa manusia yang pikun
Apa yang akan terjadi
Seakan ada angin kemuliaan
Singgah tak jauh dari semediku
Mulai kucurigai tanda –tanda alam
Duduk manis di pelupuk mataku
Masih kutelaah lebih khusuk
Pada pandangan manusia yang rabun
Apa yang akan terjadi
Sepertinya akan terjadi peristiwa sakral
Sebab lirih dan bentuknya sepertinya mantra
Aku mencurigai alam
Tuhan,aku sedang berbaik sangka
Pada-MU penguasa kejadian
Semoga saja curigaku benar
Tentang ayat-ayat alam
Yang membuat kupu-kupuku mekar
Melayang pada tasbih maghrib
Keniscayaan akan ketenangan

Goa Tapa, 29 Juni 2016

MALAM TERLUKA

Darahnya tertetes di kepala
Terkira apa
Lalu kusapu dengan tisu
Putih
Jelas menakutkan

Tak lama
Terasa melintasi pori kepala
Lalu separuh akal hilang
Remang
Jelas tersungkur raga

Sejurus kilat
Datang petir menembus waktu
Lalu di bawah sadar
Seketika
Hati berduka

Lenyap dunia
Gelagat luka malam di mata
Darahnya adalah tanda
Anyir
Bau busuk dari dosa

23 Juni 2016

ASAP

Di aku
Gersang dipikul
Nadi lupa detaknya
Mari menangis bersama
Di aku
Bersama asap
Seakan nikmat
Lalu bagaimana mereka
Samakah gersangnya
Mari haturkan
Meski sekadar asap

22 Juni 2016

MALAM DIJARAH DEWI

Dewi Airlangga (94)

Diam
Tak usah berisik
Baca saja jika ingin kalian baca

Dewi Airlangga
Siapa yang tak tahu
Dia adalah sosok ciptaan puisi
Bertahun-tahun disangka
Dari kabut
Percikan tetes hujan
Hingga mengalir sebagai sungai
Samudera
Lalu lahirlah Dewi Airlangga

Seperti mitos para dewa
Puisi telah mendewakannya
Siapa yang tak tahu
Penciptanya telah dianggap gila
Bagaimana tidak
Nurani telah dijarah
Dirampas hingga tiada isinya

Hahahaha...
Dewi Airlangga
Begitu deras bernostalgia
Malam ini kau jarah lagi
Pada suatu jarum jam
Berdetak hidup
Tak sengaja kubaca kau dalam puisi
Yang lebat
Hujan puisi waktu itu

Diam
Tak usah berisik
Baca saja jika ingin kalian baca

Dewi Airlangga
Ini bukan kembalinya asa
Hanya rindu yang tak sengaja
Dengan lampion kubelakangi
Biarkan redup ini surga
Tak usah berfikir nelangsa
Mitos ini sungguh kebanggaan masa
Bagaimana aku tajam
Melawan romansa

Hahahaha...
Dewi Airlangga
Sepertinya akan panjang diksi ini
Kuselesaikan saja
Takut ada yang curiga
Takut ada yang tak terima
Takut ada jiwamu yang terusik lagi
Sedang aku telah menyelesaikannya
Pada perpisahan senyum
Yang kupaksa terjadi

Selamat pada malam
Kau telah dijarah
Dirampas masa lalu
Di tanah Kaisar Air Mata

Jambesari, 20 Juni 2016

BACALAH PUISIKU, MALAIKAT

Wahai Malaikat;
Yang ku-kapital-kan huruf awalmu
Yang bersemayam diantara dua sepi
Yang memperhatikanku lewat tepi tirai
Yang mungkin ditugaskan mengintai
Yang dicipta lewat gugusan cahaya
Yang lekat pada langkah waktuku
Yang aku yakin kau ada
Bacalah puisiku
Mungkin Tuhan memperbolehkanmu

Puisi;
Wahai Penguasa aku
Tuhanku yang menakdirkanku
Telah ramai dosaku
Mengantri sepanjang umurku
Ada yang bernanah
Ada yang berdarah
Ada yang bening tapi menjijikkan
Ada yang hitam pekat
Ada yang putih tapi topeng borok iman
Ada yang berkilau dalamnya karat
Dosaku sepanjang jalan
Bahkan duduk manis hingga trotoar
Panjang antrian dosaku
Wahai Pencipta aku
Tuhanku yang meniupkan ruhku
Telah lalai ke-khalifah-an-ku
Lepas tanggung jawabku
Ada kala kuanggap liburan
Ada kala kuanggap jalan-jalan
Ada kala kuanggap karaoke-an
Ada kala kuanggap pementasan lawak-an
Tanggang jawabku dicuri bejatku
Wahai Tuhan
Sang Maha Pengampun
Antrian panjang mohon bubarkan
Karuniai aku tenang
Hingga pada sisimu kelak aku kembali
Mendapatkan kebahagian hakiki
Mohon ampuni kelalaian
Sebab mengurainya tak ada lagi pengharapan
Kecuali ampunan
Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah

Wahai Malaikat;
Bacalah puisiku
Meski Tuhan Sang Maha Mengetahui
Bacalah saja
Dekat ditelingaku
Mungkin aku teringat
Kala aku mengulangi bejat yang kerap merangkak
Diam-diam
Dan aku lalai lagi
Mabuk puisi

Jambesari, Malam Ramadhan ke-13, 02.06 WIB, 18 Juni 2016

MIMPI MENJADI RINDU

Dan hanya pada cermin aku berani mengatakan "Topek, kau tak boleh kalah melawan dirimu, ingatlah bagaimana kau dulu bermimpi menjadi rindu". Sekian.

RAMA DAN SEPULUH

Rama; aku kehujanan
Itu saja yang tak bohong
Jangan tunggu cerita lainnya
Langit menangis
Tak ingin kubuat menangis lagi
Rama; Sepuluh jumpa
Aku tak ingin berdusta

15 Juni 2016

RAMA DAN SEMBILAN

Rama
Kini sedang lebat air langit
Pada senja kesembilan hubungan kita
Yang dipertemukan Tuhan
Untuk mengingat Tuhan

Rama
Kini aku ingin bercanda
Sebab kini aku terjebak
Air langit itu mengelilingiku
Dingin Rama

Candaku
Andai ada kopi
Andai ada sebatang rokok disini
Sebab sepi sekali Rama
Apa yang akan terjadi?

Mungkinkah kita berpisah
Kupilih kopi dari pada kamu Rama
Atau sebatang rokok dari pada kamu
Akh… Rama
Ini hanya andai

Candaku
Tapi benar terbesit tadi Rama
Andai sebatang rokok dan kopi
Anggun diatas meja ini
Mungkin saja kita pisah disini Rama

Hahaha
Rama… Rama…
Semoga kita sejoli abadi
Kau pergi hingga datang lagi
Semoga aku setia sampai mati

Selasa, 14 Juni 2016

RAMA DAN DELAPAN

Rama
Cerita anak kita yang lucu
Kan kuceritakan padamu

;
Setengah hari ini aku delapan
Tubuhku terdampar
Mataku memar
Ditutup hiburan semalam

Tahulah kau maksudku

;
Seperti setengah pertemuan
Dengan anakmu Rama
Hasil pernikahan kita
Waktu dan manusia

Tahulah kau maksudku

;
Sudikah aku dipanggil Ibu
Padahal masa kecil ia terbengkalai
Anak yang malang
Setengah perjalanan ditelantarkan

Tahulah kau maksudku

;
Aku delapan hari ini Rama
Dua lingkaran diatas empuk
Lalu terhentak teringat
Kutemui anak kita di tengah hari

Tahulah kau maksudku

;
Rama
Itu cerita anak kita yang lucu
Aku sudah bertemu lagi

Jambesari, 12.40 WIB, Senin, 13 Juni 2016

RAMA DAN TUJUH

Rama;
Sudah senja ke tujuh
Kau kemarilah
Lebih dekat
Lebih dekat lagi
Lebih dekat
Cengkramlah aku
Jangan kau lepas
Sebab takut aku lari
Melupa parasmu
Rama;
Sudah senja ini
Panggil aku jika berpaling
Sebab kau
Rantaraku

12 Juni 2016

LINGKARAN

Kanan ke kanan ke kanan
Putar ber putar ber putar
Malam ke malam ke malam
Ganti ber ganti ber ganti
Lingkaran

Ayat ke ayat ke ayat
Lantun ter lantun ter lantun
Juz ke juz ke juz
Peri ter peri ter peri
Lingkaran

Ada lingkaran
Tengahnya buih sedekah
Ada lingkaran mushaf
Tengahnya kemulyaan rindu
Ilahi yaa Ilahi

Ada lingkaran
Bawalah kami
Pada lingkaran kekasih
Lingkaran dibalik lingkaran ini
Ilahi yaa Ilahi

-------

Jambesari, Sebelum hingga sesudah Lingkaranku hatam pertama kali. 10 Juni 2016

Rama dan Lima

Rama
Dan Lima-mu
Aku merasa mengulang bait
Begitu sudah dua kali
Kosong

Rama
Dan hanya berlalu-mu
Aku merasa cepat sekali
Begitu amal-ku
Kosong

Rama
Dan anggun-mu
Aku merasa remang
Begitu ikhlas-ku
Kosong

Rama
Dan aku-mu
Aku merasa sombong
Begitu khusukku
Kosong

Rama
Dan kamu
Aku merasa...
Begitu...
...

Rama
Dan dosa-ku
Tak mungkin dosa-mu
Begitu jiwaku
(Mungkin) kosong

10 Juni 2016

Rama dan Empat

Rama
Empat kali sudah kau datang
Pada perputaran sekali almanak
Kau merayuku lagi
Entah apa yang kau sembunyikan
Dari pandangku
Dibalik badan utuhmu

Rama
Siang ini kita mau kemana
Apa pada telaga
Dimana ikan tawar berkencana
Teratai suci mengitarinya
Dan ada Rindu Ilahi pada genang
Kesana kah, Rama?

Atau aku membawamu
Pada reruntuhan bangunan kuno
Anggapan eksotis
Dinding bertema klasik
Ada bekas api melahap
Semakin ramai disana
Ada anjing-anjing tertawa
Malam pesta di trotoarnya
Bagaimana Rama?

Aku putuskan
Atau kamu yang putuskan
Atau..
Sudahlah...
Bukan kita yang memutuskan

09 Juni 2016

Rama dan Tiga

Rama
Kupanggil namamu lagi
Kali ini aku berpeluh
Sedang kau
Khusuk pada kehangatan
Rama
Tiga arah kau menawan
Timur, atas kemudian arah senja
Sisanya kau melebihi menawan
Hingga pada bintang
Yang akan datang
Kuutus sebuah salam
Hidupkan mataku
Telingaku
Pori tubuhku
Segala kehidupan raga
Hidupkan hatiku
Sukmaku
Ruhku
Entah apa beda
Hidupkanlah segalanya
Pada Laila
Al Qadr puncak kemenawanan
Sebuah titik waktu
Angin seromantis itu
Rama
Ia Laila
Milikmu yang kupinta
Pada penciptamu Rama
Maka Ikhlaskanlah
Amin...

08 Juni 2016

Rama dan Dua

Rama
Aku melihatmu hari ini
Pada terik
Sekujur pagiku hingga tengah siang

Aku menyapamu
Kau hanya menggeraikan
Debu-debu

Rama
Dua sayap kau terlintas
Kau terbang

Jangan bergegas Rama
Pelankan
Aku masih rindu
Senyumlah sesekali padaku
Yang kesepian
Tiada malaikat berteman
Apalagi meminang

Rama
Aku ingin teduh pada dua sayapmu
Musim kemarau sungguh
Aku gerah

Jambesari, Ramadhan Hari Ke-2, 07 Juni 2016

Rama dan Satu

Rama
Satu rindu telah kembali
Kini kurasa lagi
Aroma khasmu
Pada jalan-jalan
Pagimu rama
Nanar senja
Pun begitu malam
Satu rindu benar-benar kembali
Rama
Cumbumu
Hari ini aku tersipu
Hangatlah
Pandang mataku
Rama

06 Juni 2016

SURAT SAHABAT; DI SEBUAH ZAMAN

Kwand, yang disana
Percayalah, keresahan kita bukan karena tak ber Tuhan, justru karena kita bingung bagaimana cara kita ber Tuhan, yang tak hanya sekedar gerakan, yang tak hanya sekedar lantang bacaan.

Kwand, yang disana
Bangunlah, jangan kau anggap tenangmu kemenangan, bukankah itu mati, yang dibungkus rapi kewajaran pejuang, kau ditipu kwand. Ayo buat keresahan lagi, dimana kita sama-sama bermain yang sebenarnya bukan permainan.

Kwand, yang disana, di sebuah zaman
Ini dari rindumu yang pergi ke tanah susuan, salam lentera aksara.

05 Juni 2016

KOBRA SEMALAM

Pertanda apa
Berdiri mataku
Sepertiga petang

Kobra semalam
Bermerah muda cantik
Sebagian diselimuti dedaunan

Ingat betul
Kepalanya berdiri mekar
Indah pandang

Bukan takut
Justru kusergap setengah leher
Warnanya telah merayu

Benar saja
Bisanya berbalik tangan
Dan entahlah...

Hanya terlihat gigitan
Dimana kesakitan
Hanya mataku runyam...

Hampir buta
Padahal tangan mangsanya
Pertanda apa...

Terhentak sampai disana
Subuh berkumandang
Kutanyakan lagi

Pertanda apa
Pada kejadian ke-tak-sadaran
Di dunia penuh tirai

Hampir Tengah Kamar, 04.55 WIB, 04 Juni 2016

PETAKA

Reka rela
Petaka angka
Detak tak reka
Lara laga
Kala petaka
Selamat wahai jaka

Tanah Tapa, 3 Juni 2016

MENGECUP JUMAT PETANG

Kesini sayang
Maghrib yang manis
Pipi yang merona mega
Bibir rekah diatas gulita
Dengan bintang intip derasnya doa

Kesini sayang
Ruhmu yang menawan
Peluk dadaku yang gersang
Belai keningku yang kusut
Lalu biarkan kau kukecup

Kesini sayang
Dengar bisikku pada Tuhan
Kau telinga semesta
Katanya kau waktu istimewa
Lalu terimalah kecup bibirku

Sayang
Tentram lirih bumi
Bersama untaian aksara hati
Menghantar puluhan pengharapan
Di sisimu yang tenang berpuisi

2 juni 2016

Malam jumatan dulu Bung Andika Dika

TARIAN DI NEGERI KUNANG-KUNANG

Mari menari
Di Negeri Kunang-kunang

Kanan ke kiri
Kiri ke kanan
Kiri... kiri... lupa ke kanan
Kanan... kanan... lupa ke kanan
Hahahaha...
Ini tarian di negeri kunang-kunang

Cahaya perut
Cantik pada petang
Kalau siang lupakan saja
Kalau kenyang menari saja
Lapar baru menggerutu
“Kunang-kunang... Kunang-kunang”
Andai Penggagas Pancasila ada; katanya
Piye!!! Sek penak jamanku toh; katanya
Gitu aja kok repot; katanya

Mari menari lagi
Di negeri kunang-kunang

Kanan ke kiri
Kiri ke kanan
Kiri... kiri... lupa ke kanan
Kanan... Kanan... lupa ke kanan
Hahahahaha ...
Mari tertawa lagi sambil menari
Di negeri kunang-kunang ini

Makin ramai kunang-kunang
Apalagi malam ini
Petarung-petarung pecundang
Malah pejuang diadu pahlawan
Kepala diadu dengan perut
Di negeri kunang-kunang

Pak kepala yang tak berkumis
Yang dikira serangga
Tenang saja semoga kau sakti berbijaksana
Kau imam tarian negeri kunang-kunang
Banyak lupa gerakan kanan
Kau ikuti saja hati

Mari menari lagi
Menari... menari
Kelak yakinilah pak kepala
Ini negeri kunang-kunang
Akan ada yang menggerutu
“Kunang-kunang... Kunang-kunang”
Kerja... kerja... kerja... ; katamu
Hahahaha...
Aku pamit menari juga pak kepala
Di negeri kunang-kunang

Jambesari, sebuah desa di negeri kunang-kunang, 2 Juni 2016

KESENGSARAAN YANG SALAH

Aku dihakimi salah
Mata itu menyerang
Luka sekujur aku
Kesengsaraan yang tak tertebus
Pada matahari yang kesekian
Salah terus menerus mencabik
Jantungku hampir keluar
Mulutku hampir robek
Telingaku hampir tak ber-gendang
Kesengsaraan yang salah
Yang salah adalah aku
Aku adalah yang salah
Terus hakimi aku
Biar sekarat
Sudilah kau pandang
Bukan perkara mudah memakan dosa
Panas itu menyengat
Hampir mati kerongkonganku
Kau malah hakimi aku
Salahku maafkan aku
Biar tak kurus otakku
Biar tak putus hatiku
Takut aku lurus
Dan kau korban rakus
Kuamuk kau pada sebuah zaman
Dimana rindu tak akan pulang

01 Juni 2016