BACALAH PUISIKU, MALAIKAT

Wahai Malaikat;
Yang ku-kapital-kan huruf awalmu
Yang bersemayam diantara dua sepi
Yang memperhatikanku lewat tepi tirai
Yang mungkin ditugaskan mengintai
Yang dicipta lewat gugusan cahaya
Yang lekat pada langkah waktuku
Yang aku yakin kau ada
Bacalah puisiku
Mungkin Tuhan memperbolehkanmu

Puisi;
Wahai Penguasa aku
Tuhanku yang menakdirkanku
Telah ramai dosaku
Mengantri sepanjang umurku
Ada yang bernanah
Ada yang berdarah
Ada yang bening tapi menjijikkan
Ada yang hitam pekat
Ada yang putih tapi topeng borok iman
Ada yang berkilau dalamnya karat
Dosaku sepanjang jalan
Bahkan duduk manis hingga trotoar
Panjang antrian dosaku
Wahai Pencipta aku
Tuhanku yang meniupkan ruhku
Telah lalai ke-khalifah-an-ku
Lepas tanggung jawabku
Ada kala kuanggap liburan
Ada kala kuanggap jalan-jalan
Ada kala kuanggap karaoke-an
Ada kala kuanggap pementasan lawak-an
Tanggang jawabku dicuri bejatku
Wahai Tuhan
Sang Maha Pengampun
Antrian panjang mohon bubarkan
Karuniai aku tenang
Hingga pada sisimu kelak aku kembali
Mendapatkan kebahagian hakiki
Mohon ampuni kelalaian
Sebab mengurainya tak ada lagi pengharapan
Kecuali ampunan
Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah

Wahai Malaikat;
Bacalah puisiku
Meski Tuhan Sang Maha Mengetahui
Bacalah saja
Dekat ditelingaku
Mungkin aku teringat
Kala aku mengulangi bejat yang kerap merangkak
Diam-diam
Dan aku lalai lagi
Mabuk puisi

Jambesari, Malam Ramadhan ke-13, 02.06 WIB, 18 Juni 2016

No comments:

Post a Comment