KEPADA REMBULAN YANG PADAM

Aku yang ramai tengah malam
Seperti lalu-lalang perkotaan
Sedang aku menghirup renyah nafas pedesaan
Sepi di mataku
Tapi tidak seisi ragaku

Kepada rembulan yang padam
Kutelisik renungku
Dari pada kosong melalui waktu
Kugoreskan saja jejak semauku
Entah akan berguna atau tidak
Yang jelas aku tak diam
Tak ikut tenang dengan kenyamanan

Kepada rembulan yang padam
Jangan kau ajak aku-pun padam
Sebab bukan harapku tak terang
Aku ingin bersinar seperti mimpi-mimpi-ku
Seperti mimpi-mimpi mereka yang dimuliakan
Yang mereka jejer di galeri masa tua
Dan anak-anak muda berkata
Aku ingin seperti dia

Memang...
Rembulan-pun tahu ketetapan
Bahwa semua sudah ditakdirkan jalan
Dan justru karenanya
Aku yang tak benar-benar tahu ketetapan
Berusaha mengamini dengan peluh malam
Tak akan menjadi penyesalan
Jika semua tak sejalan arus pengharapan
Bukankah sudah cukup
Jejak menawan yang akan terus tergerai
Dalam ingatan memperjuangkan

Dan Rembulan-pun juga tahu
Kehendak Tuhan bukan ke-tidak-niscayaan dari alam
Hukumnya adalah keselarasan
Prosedur balik yang penuh keadilan
Kuyakini itu dan semoga akan terus begitu
Amin, mohon aminkan juga wahai rembulan padam

Jambesari, 01.00 WIB, 31 Juli 2016

PENGAMEN MALAM JUM'AT

“Hancur hati ini
Melihat kau telah pergi
Hancur diri ini
Melihat semua ini”

Kira-kira begitu
Lirik itu manis di bawah gerombolan bintang
Ditambah petikan senar gitar
Pengamen lihai mengajak hati berdendang

Tapi, ini malam jum’at
Maghrib masih tak usai
Dan entahlah
Seperti ada hati yang sepenuhnya tak ikut menyanyi
Dawai yang terganjal

Seperti hujan
Terhalang menghantam kegersangan
Dan entahlah
Ada yang janggal tentang pengamen malam jum’at
Jauh dari tarik ulur mengadili
Kiranya cukuplah mengerti
Kenapa langit bisu
Jangkrik khusuk melantunkan dzikirnya
Burung-burung damai pada sangkar
Dan suara anak kecil itu
Lirih dari alif sampai alif lagi

Dan ada salam sepuh
Kaum kubur menagih dari pintu
Kemana anak-anak-ku
Kemana anak-anak-ku
Temui aku
Temui aku
Berkali-kali mereka rindu
Ingin bertemu para cucu

Akh, sudahlah
Ini malam jum’at
Mungkin para pengamen berfatihah diam-diam
Sedang kita sebenarnya lupa bertamu ruh-ruh moyang

Selagi ingat
Pengamen malam jum’at
Ayo bernyanyi bersama-sama

“Hancur hati ini
Melihat sesepuh pergi
Hancur diri ini
Tak sempat berfatihah lagi”

Malam Jumat, 28 Juli 2016

 #Ojo’LaliTahlil

DI DUNIA BEKU

Dewi Airlangga (96)

Seperti rekayasa genetika
Kau kucipta dalam duniaku sendiri
Di dunia beku
Dunia yang sebenarnya telah kuhentikan
Jangankan angin
Satu Karbon dioksida kupaksa berhenti
Jika saja semua atom patuh
Habislah sudah
Gerakan dalam semua gerakan kuhentikan
Tapi cukup begini saja
Beku sejauh hatiku memandang
Hanya aku dan kamu
Menikmati dunia ciptaanku yang diciptakan Tuhan
Kuajak kau menari
Denting piano dari gelombang rekayasa
Kucipta mengembara pada telinga kita
Kau memejamkan mata
Dan aku menciptakanya dari aku terpejam
Ini dunia beku Dewi
Ayo terus menari
Malam masih panjang
Neuron otakku masih secepat cahaya
Telepatiku memaksamu merasakan
Kemarilah dari nyatamu
Ciptakan aku dari dunia bekumu juga
Dewi...
Jangan kau hiraukan waktu yang jahat
Semampuku
Aku hanya mampu mencumbumu tanpa waktu
Karena dengan waktu
Kau mungkin jahat

27 Juli 2016

PERKENALKAN; NAMAKU KOPI PAGI

Selamat pagi
Pagi selamat
Nama kamu siapa
Namaku kopi pagi
Racikan Ibu menyambut mentari

Perkenalkan
Aku terlahir dari rahim alam
Digantung menawan bergerombolan
Jika tua aku dipersunting matahari
Aku ditelanjangi
Lama kemudian
Aku dihangati bibir-bibir berapi

Seperti permaisuri terbuang
Aku dijual atau bahkan dipasrahkan
Dan itulah aku menunggu
Sampai aku beruntung
Dilamar Ibu kekasihku
Aku dibelai pagi sekali

Perkenalkan
Aku sudah resmi bernama kopi pagi
Sebab aku beruntung
Bercinta diwaktu paling menawan
Romantisnya pangeran baruku
Ikhlas Ibu mertua
Dan Pangarenku menyambut dengan karya

Perkenalkan
Aku kopi pagi
Kini aku sisa separuh nyawa
Separuhnya telah bersetubuh ria
Menjalar hingga nadi pangeranku
Kubuka rekah indah matanya
Kusemangti ia memulai asa
Dan puisi ini adalah anak kesekian
Hasil aku dan pangeranku bercinta

Jambesari, Rabu Pagi, 27 Juli 2016
#BondowosoCoffeeRepublic #visitBondowoso #arabica

KUPUISIKAN LAGI PUISI-PUISIKU

Sontak... Merinding
Bukan sebab angin lirih pagi ini
Menggigil nadi
Hierarki denyutnya tak lagi kumengerti
Sejenak didiamkan bersama kepala mengatap
Dan sudi jemariku menari
Diatas pentas huruf-huruf digital
Nyala desktop bak lampu latar
Mataku penonton
Kupuisikan lagi puisi-puisi-ku
Judul drama kolosal
Lantun lagu mengarah tepat daun telinga
Sejak malam mulai berlabuh

Lalu mulai
Begitukah aku pada puisi masa itu
Yang keras
Tajam mengurai setiap ronta alam
Yang getir piawai
Menuduh aku dan aku dan aku
Kopi, jalanan, kopiah hitam, tak luput
Kucabik
Dan sebagian mulai kabur pahamku
Dosa, neraka, surga, tak luput Tuhan
Komposisi irama acak
Kupuisikan berulang-ulang

Lalu bagaimana
Tak kunjung kebijaksanaan
Mata hati kian membuta
Seperti ada dinding kamuflase
Dimana aku berlindung pada puisi
Tanpa tahu siapa musuh sejati
Dan apa tujuan gemuruh serang puisi-puisi

O... Gejolak pengulangan
Tadarus rentetan kisah balik
Balik bolak balik bolak
Gonta ganti gonta ganti gonta
Bulu kudukku berdiri
Semudah itukah diri ini terjebak
Lalu seperti keledai
Makan batu pingsan
Dan memakannya lagi

Dari puisi-puisi yang kupuisikan lagi
Semakin jelas nahkoda hati
Berlayar bukan perkara mengikuti arah angin
Ada kalanya melawan
Tak ada harga mati
Jarak terdekat adalah kepastian
Akan ada badai
Bahkan kembali
Mula-mula kita lihat rahim kita lagi
Lalu bagaimana

26 Juli 2016

ULAR DI TANGAN; APAKAH

Malam; terjadi
Tangan; bertamu lembut
Seekor ular
Warnanya tak kutahu
Hanya kurasa
Aku; ketakutan
Terhentak
Sadar ketak-sadaran
Enyahlah ular
Pada separuh sadar
Sadar; lenyap ia melingkar
Dan apa akan terjadi
Peka alam
Dua malam
Tak biasa saban malam
Seolah ada akan
Yang entahlah; mungkin
Teatrikal pementasan
Kode skenario
Dan masih tak paham
Ular; tanda aku akan bagaimana
Apakah; O... Tuhan

Jambesari, 25 Juli 2016

SI BEKU MUNGKIN KALAH

Seberapa tinggi dinding ini
Sejengkal tak sampai
Tak sanggup kaki
Betapa lemah
Ternyata masih beku

Seberapa sempit pintu ini
Sejuta gagah masih muat kiranya
Tapi tak sanggup
Betapa lemah
Ternyata gagah itu menipu

Gagah yang beku
Benar-benar terasa pecundang
Nyali anak kecil
Meraja pada istana
Digembala oleh ketakutan

Pecundang!!!
Caci-maki semuanya
Biar semua orang tahu
Biar semua orang tertawa
Ada yang beku

Pecundang!!!
Ini bukan sajak seorang seniman
Ini sajak manusia mati langkah
Ditampar oleh medan dingin
Dan mungkin kalah

23 Juli 2016

TERNYATA TUHAN MERINDUKANKU

Aku yang jauh, mengembara pada padang lumpur, beratap langit menangis yang tak kupaham sebelumnya. Terus, lebat, lebat, lebat, hebat, hingga tak ada burung-burung indah lewat meski sekadar menyapa ratapan mataku yang gelap.

Hampir sampai pada mulut, lumpur menyetubuhiku, mencoba bergerak perlahan, aku merasakan tangan menggenggam, sekuat hati keyakinan, lawan, lawan, lawan. Hingga tak bisa kubedakan, mana peluh dan mana air mata.

Terus, sibuk sekujur isi raga yang hampir beku, otak mendramatisir, hati mula-mula gusar, gusar, gusar, resah se-resah-nya, aku dipenggal putus asa. Runyam, belum aku paham dimensi ketetapan, kadang pura-pura dibuat tak paham oleh petir yang semaunya sendiri menyambar.

Kuangkat muka, kulihat bagaimana pekat berjalan, disana lalu ada sedikit ruang perbedaan, mulai kutakar, bagaimana kejadian gradasi berombak sesuai detik menyusuri perputaran ketetapan. Ternyata Tuhan merindukanku.

Sudahlah, kupahami Burung-burung lenyap, hujan, hujanlah. Gelap, gelaplah. Aku tak akan lagi menuhankan kenyataan, terkaan takabbur terlalu keji menghantam seluruh hati. Manakala sadar, Tuhan sedang mengingatkanku dan Tuhan merindukanku.

Tuhan, maafkan hamba mengembara terlalu lama, hingga lupa bagaimana membaca, huruf-huruf neraka kini kuhafal, buatlah lupa, agar tak kuikuti petunjuk cepat menuju goa para nista yang lupa tentang Kau sedang merindukan mereka.

19 Juli 2016

BUKAN RUMI

Pagi tanpa
Dan cahaya hanya mitos kaum putus asa
Salah satunya tanpa
Dan mereka kesepian
Aku tanpa
Dan bukan Rumi

Datang cacian bertopeng macam-macam
Menjadi-jadi
Pergi sendirinya
Meludahi
Dipungut hatiku dibuang pada jurang
Dan bukan Rumi
Aku masih diri
Nasib menulis keresahan sepanjang hari

Sebagian yang terlantar
Dan disakunya sepucuk keyakinan
Salah satunya diri
Ingin berjabat tangan dengan dosa
Di masa lampau yang tak damai
Malah terbukit lagi tumpukan
Hitam menjadi pulau
Dan samudera menghantam
Segeralah tenggelam
Dan bukan Rumi
Aku masih diri

Mereka pura-pura mengerti
Tapi sebenarnya tertawa
Sampai kulihat
Mereka pasang kebingungan
Padahal anjing pun tak paham
Aku bukan Rumi
Aku bicara padaku sendiri

Jambesari, 17 Juli 2016

KABAR KEMENANGAN SEORANG PECINTA

Prasasti
Dibuka senja ini
Dari sebuah lisan
Kenengan tentang cerita-cerita
Dan prasasti terbuka misterinya
Lewat cerita lagi
Diirigi hentakan dada
Tuhan...
Seorang pecinta telah kau ijinkan menang
Kegilaan itu telah kusaksikan
Meski hanya rekah bibir
Mengurai
Masa ke masa

Selamat kawan
Tak bisa kulewatkan kabar gembira
Dari rimbun ceritaku
Yang seolah bijaksana
Mari kuabadikan kisahmu
Sebelum maghrib benar-benar tiba
Seorang pecinta telah menang
Kabar angin
Menelusuri keruh hatiku
Yang kebetulan sedang rindu
Kebijakan tulus senyummu

Prasasti
Aku akan tetap memperhatikan
Sebab misteri akan berlanjut
Pertanyaan hingga pertanyaan
Jawaban hanya sekedar dinding
Dibaliknya kembali ruang tanya
Lebih luas
Lebih sempit
Dan jika sempat
Bolehlah aku tulis

Selamat kawan
Kini kau pemenang
Dan pecundang merayakan
Pada sajak bunuh diri
Yang hingga kini
Tak kunjung mati

17 Juli 2016
*Sajak Perayaan untuk Seorang sahabat yang memenangkan kisah cintanya, kisah yang terlalu “kurang ajar” jika hanya disebut kisah cinta biasa.

TARIAN AIR LANGIT

Dewi Airlangga (95)

Ada pentas berlatar sutra
Aku adalah penontonnya

Berkali-kali satu adegan berulang
Tarian air langit
Basah mengenai mukaku
Di baris depan
Dicampakkan
Seolah hanya kursi manis
Dengan kayu jati
Diwarna sebagian keemasan
Sedang aku tiada dimata

Ada pentas berlatar sutra
Aku adalah penontonnya

Tarian air langit
Tarian reinkarnasi dari rindu
Tanpa rona bedak borjuis
Apalagi gerak magis
Cukup pada pentas itu
Lalu kedip mataku mati
Dikubur perlahan
Berulang-ulang
Tanpa kau sadar

16 Juli 2016

SEBUAH DRAMA KLISE

Dibawa pada ramai
Tanggal satu persatu air mata hitam
Kemudian
Terbuka konde setan
Tergerai jutaan kemaksiatan
Kemudian
Nadi getir
Ada irama ketakutan
Kemudian
Terbuka mata setelah banyak tabir
Terucap magis takbir
Kemudian
Pulang pada iman
Mengutuk kesesatan badai
Yang mengamuk
Dikudeta
Beginikah kemanusiaan
Bolak-balik bertikai
Pada musuh berbendera sama
Medan perang beda aroma
Kemudian
Bagaimana
Pada sebuah sebut
Sebuah drama klise

16 Juli 2016

SELAMAT JALAN LAGI SAHABAT

Seperti biasa
Aku tak mampu menampakkan mataku
Takut kau tahu
Perih melihat langkahmu
Pergi menerobos angin
Menerobos waktu dari aku
Yang masih menahan sejarahmu

Dua kali sudah
Perpisahan di depan rumahku
Hari ini jauh berbeda
Sebab langkahmu sendirian
Apalagi seharian kita lewati hujan
Sajian kopi
Hingga sudut administrasi pertiwi
Hahay...

Sudahlah sahabatku
Kau pergi lagi
Pergi lagi
Aku menahan kepergianmu lagi
Pada jeruji puisi ini
Dimana kita pernah dipenjara bersama
Di tempat yang sama
Yakni kata

Selamat jalan lagi sahabat
Hati hati di jalan
Sebab jalan kita telah berbeda
Aku tak tahu sepelik apa jalanmu
Seindah apa jalanmu
Paling tidak
Kabarkan jalan kita selanjutnya
Mungkin satu diantara kita menunjukkan jalan
Jika kelak kita tersesat dari tujuan

Tapi semoga saja tak hujan lagi
Aku khawatir kau kedinginan
Meski kau sebut jaketmu jaket anti badai
Namanya juga khawatir
Takut ada nestapa lebih berat dari badai
Ini hanya do’a
Kubuka misteri diksi
Takut kau tak mengerti

Dan apalagi
Masih banyak keromantisan ini
Hanya saja tanganku sudah tak lihai
Menyeret kenyataan pada bait mapan
Begini saja
Selebihnya aku nikmati sendiri
Betapa -dingin ini- cerita abadi
Yang akan kubaca lagi
Meski kau telah pergi
Berkali-kali
Dan akan kuucapkan selamat jalan
Lagi dan lagi
Tanpa jabat tangan
Karena aku yakin
Kita akan bertemu lagi

Selamat Jalan
Sampaikan salamku pada belahan bumi
Yang akan kau pijaki

Jambesari, 14 Juli 2016

SELAMAT SORE, SUBUH!

Sebulan lebih senja berubah dingin
Entah ada apa dengan kedua mata ini
Setiap malam tak kunjung pulang
Meski dipanggil kesunyian

Selamat sore, subuh!
Begitu permainan gatra dalam arti
Ditanya para segerombolan lisan
Kapan siang dan kapan malam
Dijawab konsekuensi keadaan

Lucu meski tak melucu
Ada saja yang digerayangi
Sebelum terucap selamat sore
Kadang fiksi terbaca nyaring
Mengitari jalanan saraf kepala ini
Kadang elegi tersirat keras
Menggilas empuknya hati
Kadang naluri semenanjung raga
Menggertak sepenglihatan mata
Hingga subuh!

Selamat sore, subuh!
Sekarang pun begini
Hingga kukecup fenomena ini
Pada ladang mashur
Semoga tumbuh celoteh hikmah
Esok mungkin terjadi lagi

Segera melewati senja
Dan aku pamit dengan penat mata
Bangunkan aku tengah malam
Sebab ada perjanjian
Aku hamba Tuhan

12 Juli 2016

FITRI KUMALA SARI

Hari aku ditemani
Yang cantik jelita
Cakap lisannya
Indah dipandang
Fitri Kumala Sari namanya

Ia lahir dari rahim Ramadhan
Kemudian melahirkan kasih sayang
Hari ini aku bersamanya
Dibelai sekujur aku
Luar biasa hangatnya
Satu persatu anak-anaknya lahir
Termasuk aku
Menyuarakan cinta
Penuh permaafan

Fitri Kumala Sari
Adalah asal muasal permulaan ulang
Bak kumala jatuh dari langit
Kemudian bersari cahaya
Cantik
Dibawa kedamaian
Penuh surgawi

Sesuai yang kunamai
Meski semua tak menamai
Bagiku ia Fitri Kumala Sari
Cintaku saat ini
Rinduku saat ini
Sandaranku saat ini
Sembari kupuisikan
Lalu ia mengecupku lagi
Penuh kasih sayang

Fitri Kumala Sari
Jangan cepat kau pergi
Sebab anak-anakmu masih sibuk
Menyalami saudara-saudaranya di bumi
Kau dekap saja kami
Pada dadamu yang rekah
Cukup menampung berjuta berkah

01 Syawal 1437/06 Juni 2016

Minal Aidzin Wal Faizin
Mohon Maaf Lahir dan batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri

SURAT UNTUK PEMBIDIK ALAM

Senda Rahardika Prasasti
Begitu kira-kira nama lengkapnya

Satu lagi objek mataku tertuju asa
Seorang di masa lalu yang berkabar
Bukan tentang permainan diksi
Ini lebih pada penghormatan mimpi
Dimana pencapaian patut dihargai
Bukan uang
Tapi soal bagaimanan hidup berurutan
Hierarki yang mapan
Dari awal hingga bagaimana terinduksi
Menjadi kupu-kupu muda penuh inspirasi
Luar biasa
Aku menggelengkan kepala

Dan tiba-tiba saja
Lirih bagaimana aku mendengar suaranya
Sempat kita bersuka sama
Berduka sama
Berdialektika (kata populer dulu) sama
Sang Pembidik Alam
Begitu sebutku sekarang
Ia melayang menikmati Nusantara
Di cakarnya ada lensa-lensa menawan
Entahlah,sekarang ia lebih sakti
Dan kusebut undangan hati

Senda Rahardika Prasasti
Kusurati dari bilik sepiku yang berapi
Kusulut penghargaan sebaik mungkin menjadi
Dan pada ratapan perjuangan
Semoga bidikannya tepat sasaran
Sebab dunianya kini berantara
Salah bidik korbannya adalah pembaca

Teman...
Begitu saja surat penghormatan
Dari yang telah membaca beritamu
Di layar berlabel nasional
Patut bangga aku layangkan
Namamu kini bukan kesia-sia-an
Kau telah membuktikan pencapaian
Dan aku ditikam untuk segera balas dendam

Hahaha...
Salam Hormat
Selamat berkarya

03 Juli 2016

CC: Senda Hardika Prasasti

BAIKNYA MEROKOK SAJA

Sudah waktunya tenggelam
Pada suatu interval yang lurus
Hanya ada aku
Di bawah atap masa yang terlewatkan
Hanya ada aku
Dan baiknya merokok saja

Sudah waktunya karam
Pada suatu ombak yang gontai
Hanya ada aku
Di bawah ruang yang dikosongkan
Hanya ada aku
Dan baiknya merokok saja

Memang sudah waktunya
Karam lalu tenggelam
Bernafas semampunya aku
Tak ingin beranjak ke permukaan
Sebab akan ada pedang berterbangan
Lebih baik mati merokok di dalamnya
Sebab akan terlihat bodohku yang sebenarnya

2 Juli 2016

SEBELUM TIDUR PAGI

Maafkan aku kabur
Meninggakan gundah matahari
Yang pelik menyongsong sinar
Meninggalkan sedihnya embun
Yang risau meninggalkan petang
Mereka tak sengaja bermusuhan
Tapi itulah keindahan
Begitupun kita pada segala ketetapan
Aku yang kabur
Mula-mula begitu terfikirkan
Sebelum tidur pagi
Kabur, entah kemana

01 Juni 2016