KEPADA REMBULAN YANG PADAM

Aku yang ramai tengah malam
Seperti lalu-lalang perkotaan
Sedang aku menghirup renyah nafas pedesaan
Sepi di mataku
Tapi tidak seisi ragaku

Kepada rembulan yang padam
Kutelisik renungku
Dari pada kosong melalui waktu
Kugoreskan saja jejak semauku
Entah akan berguna atau tidak
Yang jelas aku tak diam
Tak ikut tenang dengan kenyamanan

Kepada rembulan yang padam
Jangan kau ajak aku-pun padam
Sebab bukan harapku tak terang
Aku ingin bersinar seperti mimpi-mimpi-ku
Seperti mimpi-mimpi mereka yang dimuliakan
Yang mereka jejer di galeri masa tua
Dan anak-anak muda berkata
Aku ingin seperti dia

Memang...
Rembulan-pun tahu ketetapan
Bahwa semua sudah ditakdirkan jalan
Dan justru karenanya
Aku yang tak benar-benar tahu ketetapan
Berusaha mengamini dengan peluh malam
Tak akan menjadi penyesalan
Jika semua tak sejalan arus pengharapan
Bukankah sudah cukup
Jejak menawan yang akan terus tergerai
Dalam ingatan memperjuangkan

Dan Rembulan-pun juga tahu
Kehendak Tuhan bukan ke-tidak-niscayaan dari alam
Hukumnya adalah keselarasan
Prosedur balik yang penuh keadilan
Kuyakini itu dan semoga akan terus begitu
Amin, mohon aminkan juga wahai rembulan padam

Jambesari, 01.00 WIB, 31 Juli 2016

No comments:

Post a Comment