KUPUISIKAN LAGI PUISI-PUISIKU

Sontak... Merinding
Bukan sebab angin lirih pagi ini
Menggigil nadi
Hierarki denyutnya tak lagi kumengerti
Sejenak didiamkan bersama kepala mengatap
Dan sudi jemariku menari
Diatas pentas huruf-huruf digital
Nyala desktop bak lampu latar
Mataku penonton
Kupuisikan lagi puisi-puisi-ku
Judul drama kolosal
Lantun lagu mengarah tepat daun telinga
Sejak malam mulai berlabuh

Lalu mulai
Begitukah aku pada puisi masa itu
Yang keras
Tajam mengurai setiap ronta alam
Yang getir piawai
Menuduh aku dan aku dan aku
Kopi, jalanan, kopiah hitam, tak luput
Kucabik
Dan sebagian mulai kabur pahamku
Dosa, neraka, surga, tak luput Tuhan
Komposisi irama acak
Kupuisikan berulang-ulang

Lalu bagaimana
Tak kunjung kebijaksanaan
Mata hati kian membuta
Seperti ada dinding kamuflase
Dimana aku berlindung pada puisi
Tanpa tahu siapa musuh sejati
Dan apa tujuan gemuruh serang puisi-puisi

O... Gejolak pengulangan
Tadarus rentetan kisah balik
Balik bolak balik bolak
Gonta ganti gonta ganti gonta
Bulu kudukku berdiri
Semudah itukah diri ini terjebak
Lalu seperti keledai
Makan batu pingsan
Dan memakannya lagi

Dari puisi-puisi yang kupuisikan lagi
Semakin jelas nahkoda hati
Berlayar bukan perkara mengikuti arah angin
Ada kalanya melawan
Tak ada harga mati
Jarak terdekat adalah kepastian
Akan ada badai
Bahkan kembali
Mula-mula kita lihat rahim kita lagi
Lalu bagaimana

26 Juli 2016

No comments:

Post a Comment