TERNYATA TUHAN MERINDUKANKU

Aku yang jauh, mengembara pada padang lumpur, beratap langit menangis yang tak kupaham sebelumnya. Terus, lebat, lebat, lebat, hebat, hingga tak ada burung-burung indah lewat meski sekadar menyapa ratapan mataku yang gelap.

Hampir sampai pada mulut, lumpur menyetubuhiku, mencoba bergerak perlahan, aku merasakan tangan menggenggam, sekuat hati keyakinan, lawan, lawan, lawan. Hingga tak bisa kubedakan, mana peluh dan mana air mata.

Terus, sibuk sekujur isi raga yang hampir beku, otak mendramatisir, hati mula-mula gusar, gusar, gusar, resah se-resah-nya, aku dipenggal putus asa. Runyam, belum aku paham dimensi ketetapan, kadang pura-pura dibuat tak paham oleh petir yang semaunya sendiri menyambar.

Kuangkat muka, kulihat bagaimana pekat berjalan, disana lalu ada sedikit ruang perbedaan, mulai kutakar, bagaimana kejadian gradasi berombak sesuai detik menyusuri perputaran ketetapan. Ternyata Tuhan merindukanku.

Sudahlah, kupahami Burung-burung lenyap, hujan, hujanlah. Gelap, gelaplah. Aku tak akan lagi menuhankan kenyataan, terkaan takabbur terlalu keji menghantam seluruh hati. Manakala sadar, Tuhan sedang mengingatkanku dan Tuhan merindukanku.

Tuhan, maafkan hamba mengembara terlalu lama, hingga lupa bagaimana membaca, huruf-huruf neraka kini kuhafal, buatlah lupa, agar tak kuikuti petunjuk cepat menuju goa para nista yang lupa tentang Kau sedang merindukan mereka.

19 Juli 2016

No comments:

Post a Comment