MENERTAWAKAN TAWA

Bibir yang mana lagi
Tertawa untuk tawanya
Selain kita
Duduk di atas alas sama
Memandang lucunya tawa
Menertawakan
Sampai matahari ke matahari
Bulan ke bulan
Senja ke senja
Saat mereka sama-sama menjauh
Sebagian menganggap tak lucu
Bibir yang tak sama
Manis madu adalah hidangan saban hari
Tapi tidak dengan kita
Datang sunyi
Lampu sorot
Bibir kita menari
Tertawa sepuasnya
Wajah kita tetap sunyi
Ternyata
Kita menertawakan tawa kita sendiri
Hingga datang
Yang benar-benar tak lucu
Saat kita sedang duduk dengan kerendahan
Tangan kita menengadah
Air mata kita gugur membanjiri sajadah
Padahal ini tak lucu
Tetap kita tertawa
Menertawakan tawa kita
Semakin jauh
Karena yang lucu
Ternyata tawa kita sendiri
Berhari-hari
Hingga letih
Dan mungkin sudah saatnya kita sudahi
Tawa kita sudah tak lucu
Mulai belajar tersenyum
Sedang ada perjalanan
Menuju kita
Membawa amanah
Yang tak patut kita tertawai
Mungkin kita
Atau mungkin hanya
Yang menulis sembari tertawa

31 Agustus 2016

PENANTIAN DI UJUNG PAGI

Kenapa pagi ini kau tak datang, padahal sebungkus rokok dan secangkir kopi telah kusiapkan. Bahkan pintuku yang menghadap ke arah barat telah kubuka penuh. Tidak kecewa, tidak, aku tidak kecewa, hanya saja dadaku semakin tak kuat menghabiskan rokok dan kopiku sendirian. Ingatlah, jika sampai matahari terlihat batang hidungnya, maka maafkanlah, sisa rokok akan kubuang, dan kopi kujadikan tinta untuk menulis lanjutan cerita.

29 Agustus 2016

SELAMAT PAGI; MARI MULAI MEMBELAI LANGIT

Meski masih panas geosentris dan heleosentris
Bumi bulat atau datar
Kita masih sama ber-langit membentang
Malam berbintang
Siang bersinar terang
Apalagi langitku
Yang sedang berwajah kemarau

Selamat pagi
Pada langit kita masing-masing
Mari mulai membelai mereka
Dengan telapak tangan kita yang keruh
Yang kasar dikeruk perjuangan
Mari mulai membelai mereka
Dengan empati hati kita yang lusuh
Yang dihujat gesekan bermacam bebatuan
Meski masih dari kejauhan

Selamat pagi
Langit melangit-lah
Kita berjanji mengejar
Meski tak secepat teori cahaya menghajar
Sebab kita bukan atom mungil cerdik sakti
Kita atom kenyataan
Penuh gugusan yang berat melawan
Maka datangilah langit kita masing-masing
Meski perlahan
Belai dari kejauhan-pun tak apa
Sebab rindu akan membawa kita
Pada langit yang menunggu nelangsa

Selamat pagi
Mari mulai membelai langit
Meski hanya dengan sekedar puisi
Dengan sekedar sapa imajinasi
Dengan apapun cara kita
Biar tak amnesia
Dan langit juga tak amnesia

27 Agustus 2016

Melihat Kalian Menari

Dan kulihat kalian menari, aku hanya disini, masih bermandi peluh untuk mementaskan tarianku, sebab aku masih tak tahu, di pentas yang mana, dan di nomor urut berapa?, aku pantas menari ria... Ya... Aku berlatih saja dulu, ditemani segelas dahaga harapan. Dan jika tak sampai kupentaskan, maka kusimpan gerak tarian milikku, kutulis dalam sebuah naskah, dan mungkin ada yang mempelajari tanpa sengaja, bahwa ada kemenangan yang gagal dimenangkan. Dan kulihat lagi kalian menari, mata kalian berbinar-binar, aku turut bahagia, menyaksikan kalian menari dengan kemenangan, sebab aku tahu, di depan mataku peluh kalian riang pada setiap latihan. "Tak ada seniman terlatih, semuanya berlatih" begitu dulu kita berucap.

00.49 WIB

SIANG DAN RESAH

Ketika kau tak kunjung datang
Kewarasanku hanya tamu
Sesaat
Lalu pergi lagi meninggalkan
Seperti dihukum dimana-mana
Menyambar satu persatu suara
Mereka jahat
Apa aku yang jahat
Siang dan resah
Ke-tak-warasan merana
Duduk di balkon-balkon karya
Kadang diterka debu kemarau
Semakin menghitam
Makin banyak debu lekat
Di mukaku
Dan kau tak kunjung datang
Kadang dimangsa terik
Panas hingga ubun kepala
Gugur satu persatu rambutku
Dan kau tak kunjung datang
Siang dan resah
Bukti aku benar-benar tak waras
Resahku ditemani setan
Sesekali keyakinan dimaki sendiri
Bagaimana
Dan kau tak menjawab ada dimana
Mampuku
Hanya bagaimana
Dan dimana adalah lemahku
Yang mengundang siang dan resah
Hingga benar-benar
Resah sekujur langkah
Kaki bak terbang
Sapa sesekali tak terdengar
Aku sering menghilang
Diculik kehampaan

21 08 2016

AYO BANGUN, BUNG!!!

Foto diambil oleh Frans Mendoer
*Sajak untuk kado kemerdekaan Bung Karno terkapar Serupa pagi ini ia masih di tempat tidur Meriang Panas Ayo bangun, Bung!!! Bangun Bung!!! Bangsa kita segerakanlah ditanda merdeka “Sebentar lagi Tunggu Jam 10 kita proklamirkan Malaria masih menghantamku Aku istirahat dulu” Bung Karno menggigil Ia benar-benar sakit Dokter kesayangannya Tiba dengan suntikan Bung Karno masih terkapar Lemah Tiang bendera baru saja Berdiri dengan bambu yang tak mapan Sebab beberapa malam Para pelopor kesana kemari Sibuk hingga banyak dini hari Bahkan ada yang mencaci Proklamasi kita proklamasi bangun tidur Mereka kurang ajar Mereka tak membaca detik-detik kemerdekaan Para pelopor dijajal sebagai mesin Hingga bagaimana mata lelap tanpa sadar Bacalah Proklamasiku proklamasi perjuangan Lihatlah Jam 10 itu Lihat Bung Karno Ia telah bangun Lihat raut wajahnya Tampakkah kalian lihat kesakitan Lihatlah Pandai beliau sembunyikan Nestapa raganya yang sedang letih Berdiri gagah Bung Karno bangun Menanda kemerdekaan “Perjuanganku lebih mudah Karena mengusir penjajah Perjuangmu akan lebih sulit Karena melawan bangsa endiri” Bangunlah Bangun Bung Karno berani bangun dari kesakitan Kita bangun dari ke-taksadaran Kita masih dijajah Dijajah para penghianat-penghianat Penghianat di gedung-gedung megah Penghianat-penghianat ber-plat merah Penghianat-penghianat penjual tanah negeri Penghianat-penghianat peretak pertiwi Bangunlah Bangun Indonesia-ku Bangun dari kesakitan Bangun dari tempat tidurmu Bangun dari kenyamananmu Ingat kata Pak Jokowi Penerus Bung Karno hari ini “Kita menghadapi persaingan global Kita harus berani keluar dari zona nyaman” Maka bangunlah Dari sakit Indonesia hari ini Bangunlah Rebutlah kemerdekaan yang bukan sekedar proklamasi Yang bukan sekedar tanda Merdeka Merdeka Merdeka Gugur, tempur Gugur, tempur Gugur, tempur Nasionalisme janganlah sekedar generasi pelopor Alirkan darah Bangunlah dari tempat tidur Lawan kesakitan Merdekalah Merdekalah Merdekalah Indonesia Raya ----- Bung Topek Atas nama bangsa Indonesia Dirgahayu Republik Indonesia HUT RI Ke-71 Kerja nyata ----- 17 Agustus 2016

SELAMAT ULANG TAHUN AKU; INGATLAH KEMATIAN

Ini kado untukmu
Dari otak yang kebetulan lahir denganmu
Dari hati yang kebetulan lahir denganmu
Ini kado untukmu
Penyambung kekompakan kita
Kita ajak jemari menari
Kita ajak mata menatap
Kita ajak telingan dengan instrumen pendukung
Kita ajak mulut menambah kekhusuk-an
Dengan sesekali menyeduh kopi
Mengepulkan aroma tembakau
Kita ajak kekompakan kita
Membingkai kado untukmu
Di ulang tahunmu
Selamat ulang tahun Aku
Selamat telah bersama kita
Yang semakin tua
Semakin pendek interval kesempatan kita
Kesempatan memperbaiki
Kesempatan menemukan manusia yang benar
Manusia yang seutuhnya manusia
Sebab kita masih binatang;
Manusia yang benar-benar ber-Tuhan
Sebab kadang kita lupa ber-Tuhan;
Manusia yang seutuhnya hidup
Sebab kadang kita tak merasakan hidup;
Selamat ulang tahun Aku
Kita sama-sama tak tahu
Kapan kita berpisah
Kapan kita dimakan tanah
Kapan kita yang lain menghadap Tuhan
Kita adalah kekompakan pelbagai dimensi
Kita penanggung jawab
Sebab kita hamba dan kholifah
Sudahkah kita benar-benar menjalankan peran
Padahal jika hitungan normal
Kita sudah separuh jalan
Seperti analogi para sesepuh
Jika kita hanya singgah di jalan sembari memesan kopi
Maka kopi kita sudah sisa separuh gelas
Bagaimana kalau kemudian tumpah
Sebab kita tak bisa menduganya
Sudah siapkah kita berjalan
Pada hakikat sesungguhnya kehidupan
Selamat ulang tahun Aku
Sepertinya kita sudah sama-sama paham
Hanya bagaimana tetap belajar
Menjaga keimanan
Semoga panjang umur Aku
Semoga diberikan umur barokah
Jika kopi habis pada waktu normal
Semoga husnul khotimah
Jika kopi tumpah
Semoga husnul khotimah
Dengan jika-jika yang lain yang tidak kita tahu
Sebab ada yang Maha Mengetahui
Semoga kita husnul khotimah
Di penghujung angka umur kita
Entah kapan???

Tanah Lahir, 16 Agustus 2016

DISADARKAN ROKOK; AKU WARAS

Dan ketika matahari melewati atas kepala, ketika itu mulai datang laksana-laksana dalam dunia dalamku, seperti angin yang kudatangkan, keanggunan sapa yang kudatangkan, sesuap harapan yang kudatangkan, bahkan matahari kusuruh turun, menjadi laksanaku yang kuniatkan berbeda. Hingga yang aku sadar anggapan sebagian mereka, menganggap aku ketakwarasan, padahal disinilah aku benar-benar hidup, ketika aku lupa tentang tertabraknya mata oleh silau nyata. Lalu, aku bisu... terhentak dan sadar, ternyata aku benar-benar waras, masih tak kulupa rasa sebatang rokok yang nelangsa, tanpa cukai pada bungkusnya. Inilah nyata!!!

σΎ°€
15 Agustus 2016

API MULUTKU KAMBUH; MAAFKANLAH

Maafkanlah anakku
Api mulutku kambuh
Sebab hatiku bernoda lusuh
Maafkanlah anakku
Aku masih belajar diriku
Api ini penyakitku
Dan kusadar itu
Tapi beginilah aku
Manusia sejuta kekerdilan
Masih terus menelaah kehidupan
Utamanya aku, aku, aku
Kajian yang tak pernah berlalu
Sembuh, kambuh, sembuh
Kambuh lagi
Bahkan lebih nista
Api mulutku berkibar
Sejenak dengan kesombongan
Maafkanlah
Sekali lagi maafkanlah anakku
Kau dari rahim tak kukenal
Dilahirkan secara kebetulan
Dan aku seolah ayahmu
Yang terjebak status sosial
Dan kini kau terima api dari mulutku
Maafkanlah
Semoga kau tak terbakar
Terimalah jabat tanganku
Mungkin ia air
Dan api akan padam

13 Agustus 2016

WAJAHKU YANG KUMUH

Lihatlah
Wajahku yang kumuh
Jangan kau risih
Jangan kau pikir aku tak sadar
Lihatlah
Wajahku yang kumuh
Ini karena wudhu yang jarang
Noda batin menampakkan
Lihatlah
Wajahku penuh dosa
Tak tentram kau pandang
Tak nyaman kau perhatikan
Lihatlah
Tapi jangan kau pikir aku mengumbar
Sebab dosa tak patut diumbar
Ini hanya tentang kumuh
Yang seharusnya kujelaskan
Biar kau tak menanyakan
Bila wajahmu turut ikut kumuh
Bahkan dengan kemapanan
Bak nyata pangeran atau permaisurinya
Dalam epos ramayana
Atau melebihi Twilight Saga
Dalam pemeran versi layar lebarnya
Lihatlah
Wajahku yang kumuh
Aku menghafal
Kau menghafal
Biar kita sama hafal
Dan cepat kembali pada cermin
Kita kenapa
Dan cermin kenapa
Berjujurlah
Jangan membunuh dosa
Padahal ia hidup sebagai raja
Di wajah kita
Ber-istana kumuh

13 Agustus 2016

DATANG DARI ALAM KUBUR

Baru saja
Sehabis kusiram ragaku yang kusam
Debu menjilati pori
Peluh berjuang keluar
Telah bersih
Lalu aku berangkat ke alam kubur
Leluhurku yang mengundang
Ada kakek, nenek, para pembabat
Para sepuh yang mendahuluiku
Tinggal di alam kubur
Guru-guruku yang mengundang
Satu huruf, dua huruf, hingga jutaan huruf
Beliau yang menuntun
Guru dari para guru
Guru dari para guru-nya para guru
Hingga meski tak kuhafal
Sambung ilmu Sayyidina Muhammad nabiku
Dan aku telah datang dari alam kubur
Bukan tinggal
Masih belum dipanggil untuk tinggal
Hanya melihat beliau-beliau
Sowan penghormatan
Dengan fatihah-fatihah yang dikhususkan
Takbir, tahlil, hingga ayat Al Qur’an
Bekal aku menghampiri beliau-beliau
Dan sudahlah
Ini bukan laporan kebaikan
Hanya peringatan bagi diri sendiri
Takut malam jumat selanjutnya lupa jati diri
Dari apa dan siapa menyandarkan diri
Begitu setelah pulang
Dari alam kubur
Yang sekedar kumaksudkan peringatan

Jambesari, Malam Jumat, 18.33 wib, 11 Agustus 2016

DAN KETIKA KAU TAMPAKKAN CANTIKMU

Sedikit hati gusar
Segusar judul hingga panjang
Kenapa akhirnya

Lekuk yang tak sempat kubayangkan
Hanya suara tulismu
Kerap berteriak kala kubaca
Kenapa akhirnya

Runtuh cantikmu dari langit biru
Dan sesal bukan soal
Rusak nalar sangkaku
Bibirmu teramat jahat
Kenapa akhirnya

Matamu tajam membawa parang
Mati suciku sebab cantikmu
O.. Wanita
Aku bukan suci
Bajingan-pun pada dasarnya hati

Begitulah kerudungmu gontai
Maafkan aku datang dengan kegaduhan
Sebab aku tak mau
Kau tenang dalam badai
Sebentar lagi

Aku pria
Dan aku tahu bagaimana
Buas dada kita
Bahkan kelaparan setiap detiknya
Hingga semoga baik

Kenapa akhirnya
Aku menulis
Sebab kau pantas ditulis
Sebagai nada isi
Lagu gatraku yang cepat basi

11 Agustus 2016

KETIKA SEMUA PAGI DIAM

Hanya kita yang bertikai
Kau menyalahkanku
Aku menyalahkanmu
Saat semua pagi masih diam

Hanya kita yang salih jarah
Kau menjarah nyataku
Aku menjarah tiadamu
Saat semua pagi masih diam

Hanya kita yang saling hantam
Kau menghantam dadaku
Aku menghantam kakimu
Saat semua pagi masih diam

Kemudian kita teriak
Hampir tiada yang mendengar
Padahal ada banyak pasang mata
Untungnya semua pagi masih diam

Kemudian kita saling caci
Kau mencaciku yang pecundang
Aku mencacimu yang penakut
Kita sama-sama punya kelemahan

Kemudian kita tertawa
Akur sebentar setelah beranak
Anak kita lahir dari pertengkaran
Saat semua pagi masih diam

Jambesari Pagi, Senin, 08 Agustus 2016

DATANG DARI KESUNYIAN

Ingin tinggal disini
Selama mungkin
Mungkin dengan peluh
Dengan mata yang kejam
Datang dari kesunyian
Setiap sudut perjalanan
Adalah aku di masa silam
Ingin tinggal disini
Tapi bagaimana mungkin
Aku adalah lembaran ketetap
Diperintah berkarya dalam keterbatasan
Aku adalah makhluk ketentuan
Dimana mata harus melihat
Dimana telinga harus mendengar
Dimana tangan harus menggenggam
Dimana kaki harus melangkah
Dan aku yang sering hilaf
Gagal mengaji kenyataan
Datang dari kesunyian
Tak harus menyesal
Apalagi lupa cara hati berterima kasih
Tuhan maha pengasih
Maha mengetahui
Sepantas apakah kita berada
Apakah ramai
Apakah gaduh
Apakah sepi
Apakah sunyi
Di padang mata
Kita tak mampu menatap oase
Jangan sampai menyalahkan
Datang dari sunyi
Akan kembali

Alun alun Probolinggo, 04 08 2016

SALAM PANTURA

Pantura Paiton

Lari dari matahari
Kuterka wajah kabut
Dingin membelai
Mukaku kerut
Lalu hangat
Pantai mulai kulihat
Ramai jalan ini
Mesin-mesin raksasa
Deru tak ada henti
Asap yang dulu bersaudara
Kini hidungku agak risau
Sebab lama tak menyapa

Pantura
Pagi ini aku melamun
Di bahumu yang berkerikil
Kopi racikan sahabatmu
Tak lupa kupesan rokok berkelas
Mumpung ada uang kertas
Lalu kuperhatikan kerutmu
Kau masih diam
Diinjak kesibukan petualang

Pantura
Permisi aku katakan
Sehari ini niatku membelaimu
Sampai senja
Atau mungkin malam
Atau mungkin pagi selanjutnya
Dan jika boleh
Ijinkan aku mengkaji sekujurmu
Yang masih tak dipertanyakan
Oleh siapa-siapa

Pantura, Paiton, 04 Agustus 2016

SELAMAT JALAN GURU TEATER

Bang Sohib, Senior Teater Kala

Jika baris lagumu mendayu
Telingaku tenang
Gerak heroik mula mula hadir
Dan aku khusuk berpentas
Masih jelas wahai Guru
Ketika tanganmu lihai menabuh gendang
Diiringi suara sakral
Latar aku membacakan sajak-sajak acakan
Dan sudahlah
Kini sapaan akrabmu yang ramah
Senyummu yang masih kuingat
Tak akan bernyata lagi
Selamat jalan Guru Teater
Kan kuingat jasamu
Aku bersaksi akan kebaikanmu
Salam seni budaya Guru
Selamat jalan
Selamat kembali ke sisi-NYA
Alfatihah...

03 08 2016
Selamat jalan Bang Sohib