DI SAMPING TIANG LISTRIK

Berdiri
Seakan entah apa
Tak ada seakan pantas
Aku memandang
Renyah mereka mengaji
Bersalawat pagi
Dengan sedikit hangat mentari
Menerobos antara dadaunan
Antara pagar yang agak tinggi
Setiap hari begini
Dan di samping tiang listrik
Episodeku yang kesekian
Di belakang mereka
Lisan yang memanjatkan pujian
Hingga usai
Seperti yang lalu-lalu
Kemudian amin
Di akhir fatihah

29 09 2016

TIDURKU, PADAHAL MATA TERBUKA

Ini tulisan ujung keputus-asa-an
Aku tertidur
Saat mata masih terbuka
Awalnya aku malu menceritakan
Tapi puisiku merintih
Mengajakku menulis kejujuran
Tentang yang sempat putus-asa
Di sebuah jalan
Dimana seakan buntu
Padahal banyak sekali
Hanya karena kabut
Hati yang buta
Bahkan Tuhan sengaja ditinggalkan
Berkali-kali
Semoga diampuni dosa
Yang bersembunyi diam-diam
Dibawah air mata
Ketika aku tertidur
Beranjak kupinang semua sadarku
Meski tak-sepenuhnya sadar
Aku bangun perlahan
Mencoba berdiri
Melangkah meski goyah
Tanpa angin
Apalagi gempa
Tanpa apa-apa
Mungkin ada tongkat
Kuangkat mukaku
Menatap langit yang kosong itu
Tanpa apa-apa
Mungkin sedang terbuka
Maghrib aku berdo’a
Tuhan, aku hambamu
Berilah iman didadaku
Yang lama hanyut
Tenggelam dalam tidur
Yang nyenyak dalam ke-tak-bersukuran

28 September 2016

PETANGNYA HATI

Mungkin dosa;
Yang jelas hati terasa semakin petang;
Bahkan ketika sujud;
Kemana aku lari;
Aku menggantung;
Berusaha tak mati;
Sebab dosa;
Belum ditimang;
Biar lelap;
Dan aku bermain seperti anak kecil;
Tak terfikirkan lainnya;
Tuhan;
Hidupkan hatiku;
Aku ingin bermain;
Amin;
Ria bersua dengan-Mu;
Sampai senjaku yang terakhir;

19 09 2016

BISMILLAH

Naik tangga
Terik siang
Dan kita bertemu
Doa-doa-ku
Semoga kita mesra
Esok kita berjumpa
Kalian sudah tumbuh indah
Bunga yang mahal
Terhormat sholehahnya
Amin...
Bismillah

08 September 2016