KOPI POJOK BUNGURASIH

Di pojok ini banyak kisah klise
Kisah kaum muda tempo dulu
Sengaja kusinggahi kembali
Meski bukan tujuan utama
Kurebahkan lagi penatku disini
Akh, puisiku mulai tak asik
Tak se asik puisi yang dulu
Disini puisi gahar pernah diramu
Pojok Bungurasih
Segelas kopi penanda reuni
Perdamaian antara waktu
Sekarang dan masa lalu
Aku hidup mempersunting keadaan
Yang pelik penuh perbedaan
Kuseduh tengah malam ini
Sembari kuundang sebagian masa laluku
Mereka akan datang
Menjemputku disini
Di pojok Bungurasih
Kala kopi masih terasa hangatnya

Bungurasih, 00.20 WIB, 30 Oktober 2016

SURAT UNTUK KEKASIHKU

Aku tak jemu
Memandangmu adalah teduh
Kekasihku
Hari ini
Bahkan selepas bangunku
Masih hatiku memandangmu
Aku benar-benar dibuat bercinta
Bahkan menuju Tuhan
Kekasihku
Tak ingin kesebut namamu
Biar tak ada menganggapku kurang ajar
Lebih-lebih mereka meniruku
Menyebutmu kekasih
Kekasihku
Dari rindu keimanan
Aku ingin bersamamu
Kelak bawalah aku bersamamu
Kekasihku
Aku benar-benar menikmati rindu
Bertemu di titik keramaian
Aku tak ingin berhenti
Di sisimu yang penuh kebarokahan
Kekasihku
Maafkan aku
Aku benar-benar jatuh cinta
Atas nama Tuhan cintailah aku
Aku ingin selalu bersamamu
Hingga perjalanan terakhir
Sebab aku nista
Tak cukup berjalan sendirian
Kekasihku
Maaf aku kurang ajar
Tapi apalah daya
Ini cinta yang benar-benar kusukuri
Masih bergetar hati
Kala memandang kesalehanmu

26 Oktober 2016
Untuk Kekasihku Yang Kumuliakan

PERAWAN (VI)

Bunga
Akh... bunga lagi

Biduan
Akh... sebutan klise

Merpati
Akh... Sebutan kurang ajar

Perawan
Begitu saja sebutan

Naluri sebatang insan
Bingung memastikan yang pasti

Hujan hingga kemarau
Hidup seakan mulai basi

Perawan bersembunyi
Entah dibalik bumi bagian mana

Sedari kumakan puisi
Hingga lapar lagi

Trotoar hingga ruang pertemuan
Belum gugur kehalalan bercinta

Perawan
Kapan mekar di kebun jiwaku

Mulai tandus ragaku
Peluh mulai tak nyaman mengucur

Perawan
Kini kutulis sebutanmu lagi

Dua baris per bait
Kau-pun paham maksudnya

Sebaris adalah aku
Sebaris lagi adalah kamu

Tiga baris empat baris dan seterusnya
Kita selesaikan bersama

Pada bilik beraroma melati
Sepenuh kita bersama

Perawan
Ini suratku untuk masa depan

Mungkin tidak mungkin ia
Sekarang aku memanggilmu

Mungkin saja kau ada
Atau aku keburu pergi

Lihatlah angka waktu itu
Tiada janji kita harus pergi

Perawan
Dimana-pun langit melihatmu malam ini

Aku layu
Mata-ku dicuri segerombolan

Demi dzikir do’a
Kupanggil dengan puisi ini

Tentang yang tak dapat diubah
Yang sudah ditetapkan

Perawan
Aku merindumu yang tak kukenal

Jambesari, 26 Oktober 2016

TULISAN KECOAK

Semalam ia berkeliaran
Kecoak melihatnya
Di pundaknya segerombolan semut
Ia manusia
Letih
Kusam
Matanya datang dari langit
Tatapannya petir langit yang tak hujan
Kecoak melihatnya
Lalu menulisnya
Begini tulisan kecoak

:
Aku tak heran
Jika kelak kau raja
Jika kelak kau penguasa
Jika kelak kau bijaksana
Jika kelak kau sakti
Jika kelak kau mata hati
Melihat pada rahasia-rahasia

Aku tak heran
Aku menyaksikan kilatan
Kau bengis melahap kemalasan
Kau injak-injak mata pengecut
Mulut-mulut penjilat
Kaki-kaki tukang serimpung
Aku tak heran
Jika kelak kau cerminan sikap
Sebab kau belajar pada jalanan
Jika kelak kau cerminan sufistik
Sebab kau belajar keluhuran

Aku tak heran sebagai kecoak
Bauku busuk
Tapi tak sebusuk caraku memandang
Kenyataanmu adalah rindu
Aku yang mengintai bukan kesengajaan
Aku pelajari kisahmu
Tengah malam
:

Begitu pagi
Kutemukan tulisan kecoak
Di dekat lemari
Samping kiri
Tanpa nama terang
Tanpa tanda tangan

Jambesari, 24 10 2016

INSIDE ME

I need to go away...
Inside of my art, Then I die...
Everyone say, fucking life...
I say, I'm being artist...
What's real...
It's question for me...
I need to go way...
You will not find...
Till you got inside of me...
My lovely art
Bye-bye...

23 10 2016

MERPATI HITAM TENGAH MALAM

Sudah tengah malam,
Merpati hitam hinggap,
Di kepalaku dengan cakar,
Tak luka aku berdosa,
Terkapar, kepada siapa resah ini,
Pergilah merpati hitam,
Malamku jangan kau kecam,
Pedih raga berduka,
Kenapa sesal adalah akhir,
Kenapa bukan permulaan,
Air mata gugurlah,
Rayakan kekecewaan,
Aku mati, dikuasai merpati,
Lemah dadaku,

Sekitar 00.00 WIB, 20 Oktober 2016

LUPA UNTUK GILA

Siang aku melihat rembulan
Malam aku melihat mentari
Mungki aku gila
Atau memang semua tipu daya
Ketika embun jatuh
Padahal aku kepanasan
Poriku kaget tanpa kata
Langit jatuh tepat di atasku
Mungkin aku gila
Atau memang semua canda rasa
Aku melihat pada dinding
Roboh tanpa kusentuh
Aku melihat pada bumi
Ia meninggalkanku
Mungkin aku gila
Aku menatap mataku sendiri
Siapa kebenaran kita
Lalu ia lari ke dalam cermin
Gelap seketika ruangan
Mungkin aku gila
Atau mungkin lebih gila kalian
Siang disangka terang
Malam disangka kegelapan
Atau mungkin kalian
Tak punya kita
Hingga lupa untuk gila

Pojok Al-Imam, 20 Oktober 2016

TAKDIR YANG MEMINTA

Ada langit di balik langit
Ada hujan di balik hujan
Ada harapan di balik harapan
Ada tujuan di balik tujuan

Takdir yang meminta
Aku hanya belum tahu di baliknya
Kala lupa
Di balik lupa aku lupa
Takdir yang meminta

Jangan lelap
Dengarkan lirik lagu itu
Ia merayap pada gendang telinga
Kemudian hati terundang bernyanyi
Takdir, takdir, ingatlah takdir
Ia telah meminta

Terperangkap pagi ini
Aku dipenjara pada tawa
Pura-pura mengartikan
Dan sudahlah
Aku pergi
Pada beku

Ada latar di balik latar
Ada pandang di balik pandang
Ada maksud di balik maksud
Ada puisi di balik puisi

Takdir yang meminta
Aku hanya tak mengerti
Dan kadang lupa
Bahkan pura-pura tak mengerti
Lalu kutebus dosa
Mungkin dengan puisi

Ada bait di balik bait
Ada diksi di balik diksi
Ada gatra di balik gatra
Juga takdir yang meminta

17 Oktober 2016
*Terinspirasi dari sebuah lirik lagu ketika didengarkan bersama dengan Herby AL Bukhori & Eenk Ingindcintai

HUJAN TANPA AIR

Hujan, pura-puralah datang padaku, meski kau tak menggugurkan air ketulusan dari langit. Pura-puralah saja, selanjutnya biarlah menjadi tugasku, dengan belaian ikhlasku menjalankan takdir, akan kubuat kau lebat dengan air suci yang gugur dari kebersamaan. Hujan, tanpa air, hujanlah!

15 10 2016

AWAL-AN

Awal-an kemarin
Kita adalah kata kerja
Berjalan, merangkak
Tertatih atau gesit
Akhir-an
Kita sama-sama tak tahu
Kan seperti apa
I yang dikenai
Atau Kan dan I sama tiada
Kita bagaimana
Akhir-an kita tak ada yang tahu
Awal-an
Kita disimbolkan
Hijriyah berputar
Masuklah pada kata kerja
Apa kita akan
Pilih apa-saja
Sebab dzikir jalan bercabang
Hanya bagaimana
Sebelum akhir-an
Kita tak sia-sia
Meski hakikat
Kita tak pernah begitu adanya
Ambil kata lain
Mungkin seperti tiada

01 Oktober 2016
01 Muharram 1438