PERAWAN (VI)

Bunga
Akh... bunga lagi

Biduan
Akh... sebutan klise

Merpati
Akh... Sebutan kurang ajar

Perawan
Begitu saja sebutan

Naluri sebatang insan
Bingung memastikan yang pasti

Hujan hingga kemarau
Hidup seakan mulai basi

Perawan bersembunyi
Entah dibalik bumi bagian mana

Sedari kumakan puisi
Hingga lapar lagi

Trotoar hingga ruang pertemuan
Belum gugur kehalalan bercinta

Perawan
Kapan mekar di kebun jiwaku

Mulai tandus ragaku
Peluh mulai tak nyaman mengucur

Perawan
Kini kutulis sebutanmu lagi

Dua baris per bait
Kau-pun paham maksudnya

Sebaris adalah aku
Sebaris lagi adalah kamu

Tiga baris empat baris dan seterusnya
Kita selesaikan bersama

Pada bilik beraroma melati
Sepenuh kita bersama

Perawan
Ini suratku untuk masa depan

Mungkin tidak mungkin ia
Sekarang aku memanggilmu

Mungkin saja kau ada
Atau aku keburu pergi

Lihatlah angka waktu itu
Tiada janji kita harus pergi

Perawan
Dimana-pun langit melihatmu malam ini

Aku layu
Mata-ku dicuri segerombolan

Demi dzikir do’a
Kupanggil dengan puisi ini

Tentang yang tak dapat diubah
Yang sudah ditetapkan

Perawan
Aku merindumu yang tak kukenal

Jambesari, 26 Oktober 2016

No comments:

Post a Comment