TENTANG KERESAHAN

Gerimis di raut wajahku
Ribuan sayap di atas kepala
Dirajam kakiku
Aku mendesah
Resah bangkit meludahiku
Bagaimana melawan
Lalu aku kebingungan
Bahkan burung elang hinggap
Sejengkal di mataku
Matanya
Ada bahasa kucoba terjemahkan
Mati, aku ingin dibunuh
Kutatap lebih sangar
Kubuka rahang
Ia kabur tanpa permisi
Datang sepucuk surat
Dari langit ia jatuh
Bagaiman kubaca
Terbuka-pun ia tidak
Kucoba mengundang angin
Buatlah kegaduhan
Gaduh, hingga tornado
Surat lenyap
Lalu gugur lagi dengan sobekan
Hancur
Tiada kata kumengerti
Keresahan
Rumus dialektikal kehidupan
Permata hitam
Aku salah paham
Ini bukan soal ketak-pahaman
Jauh lebih sesak
Ada banyak komposisi elegi
Fiksi, distorsi, caci maki
Bahkan disfungsi aku
Lupa mengamini
Lalai meratapi
Bagaimana resah tanpa teori
Bahkan angin mendung
Hujan tak tentu datangnya
Selesai
Aku kembali pada awan

Jambesari, Bondowoso, 03.30 WIB, 17 November 2016

PISAH RANJANG

Semalam
Kita pisah ranjang
Entahlah
Bosanku
Setanku
Aku malas bercinta
Pun kamu
Kita sama-sama

Semalam
Kita pisah ranjang
Kita sama-sama lupa bermunajat
Lupa cara romantis
Lupa cara memanggil
Tentang mesra yang pernah kita pelajari
Di ranjang masing-masing
Kita pisah ranjang

Semalam
Kekasihku
Kita pisah ranjang
Entahlah
Mungkin kita sama-sama kebingungan
Dan saat itu pula
Kita lupa cara bercinta
Kita tak bercinta
Dikuasai setan
Dikuasai kesombongan
Dikuasai... Benar-benar dikuasai

Semalam
Kekasihku
Atau mungkin aku salah
Aku yang tak bercinta
Justru kau bercinta dengan khusuknya
Memuaskan hatimu yang kesepian
Di ranjangmu yang tak kutahu
Ketika kita pisah ranjang
Begini kupuisikan
Jika kelak se-ranjang
Kita bercinta bersama-sama
Seperti bercintanya se-per-tiga malam
Yang tenang menghadap kekuasaan Tuhan

Kekasihku
Kita pisah ranjang
Di ranjang masing-masing
Semalam
Dan entah sampai malam yang mana lagi
Aku hanya menulis kesunyian ini
Di ranjang-ku yang tak bertepi

14 November 2016

SURAT CINTA UNTUK CAK NUN DAN BANG RENDRA



Cak.. Bang..
Selepas hujan mendarat
Kutulis surat cinta ini
Surat cinta dari yang mengasihi kalian
Mencintai kalian, merindukan kalian

Selepas kucorat-coret wajah kalian
Maaf cak.. maaf Bang..
Sebab dengan apalagi kuejawantahkan rinduku
Aku hanya sebangsamu yang tak menawan
Yang tak seanggun ilmu kalian menyejukkan

Cak.. Bang..
Cak yang sempat kupandang
Bang yang hanya kubelai aksaramu
Ajarkan terus saudaramu ini
Bagaimana kebijaksanaan bertahta dalam hati
Bagaimana cara ber-Tuhan yang romantis
Bagaimana cara berbangsa yang substansi
Bagaimana cara..
Ya cara kalian teduh meneduhkan
Keikhlasan, kesantunan
Dan apalagi samudera kearifan

Cak.. Bang..
Bukan kalian sempurna
Tidak, kalian tak sempurna
Hanya jatuh cintaku kucur tiba-tiba saja
Teladan yang kalian tampakkan
Mungkin kesalehan
Ah, sudahlah
Mataku bukan parameter kebenaran
Tapi setahuku kalian adalah kebenaran
Bentuk kebijaksanaan yang larut
Larut bersama puisi-puisi
Larut bersama orasi-orasi

Cak.. Bang..
Maaf surat cinta yang acakan ini
Sebab aku memang tak romantis
Tak selihai kalian menyajikan kebahagian
Ke-bersukuran, keilmuan
Dan mungkin ke-sufistik-an

Cak.. Bang..
Mungkin begini saja surat cinta ini
Aku takut mereka curiga
Curiga kalau aku sebanarnya tak dikenal kalian
Aku hanya bercinta dengan alam setangkai
Dimana saat ini kita disatukan oleh aku
Aku yang menyamar dalam metafisika
Bertemu kalian, Cak.. Bang..

07 November 2016

JANGAN PANGGIL AKU LAGI

Aku memanggil, kau pura-pura tuli
Aku pergi, kau teriak dengan nada keintimanmu
Aku harus bagaimana, sedang aku lupa jalan kembali
Karena baiknya aku tersesat melanjutkan perjalanan
Dari pada kembali hanya untuk mengundi kebahagian
Karena yakinku...
Se-parah apapun tersesatku, masa depan itu kepastian
Bukan perjudian
Jadi jangan panggil aku lagi malam ini
Aku masih tersesat
Dan jika bisa dan itu maumu
Tak usahlah memanggil
Bunuh aku di masa depan
Karena itu adalah pengecualian
Hingga aku benar-benar kau kuasai
Sepenuh kenyataan, bahkan lebih dari definisi kehidupan

03 November 2016