KELANA

Kelana berjalan
Kelana menghujan
Kelana Kelana Kelana
Kelana jiwa
Kelana hati
Maghrib hujan kucur dahaga
Kelana jiwa lalu kembali
kelana hati lalu pada Ilahi
Kelana Kelana Kelana
Merantau datang
Ilahi Ilahi Ilahi
Hujan kelana
Kelana tenggelam
Rintih-rintih dosa
Karat-karat terkelupas
Kelana berpulang
Dari jauh dari masa
Dari do'a dari asa
Kelana Kelana Kelana
Sungging pusaka
Semedi kembali
Ilahi Ilahi Ilahi
Kelana pada puisi
Hati disini
Pulang
Menyeduh suara
Adzan beraroma surga
Kelana Kelana Kelana
Dan diam!!!
Laa Ilaaha Illallah!!!

Jambesari, Jumat, 30 Desember 2016

PERGIKU KEMANA; SOAL BIBIR-BIBIR

Pergiku pergi
Pergi kemana
Pada bibir-bibir yang menari
Berhenti saat kupandang
Bibir-bibir yang menguap dari lumpur hati
Berhenti seperti kupu-kupu hinggap
Di atas bunga lalu pasang muka manis
Pergiku pergi
Pergi kemana
Pada secangkir kopi
Berenang disana
Biar sekalian aku hitam
Pahit tanpa gula
Biar mereka puas
Pergiku pergi
Pergi kemana
Pada maghrib lalu aku berdo’a
Pergiku pergi
Pergi kemana bukan tanda tanya
Hanya pilihan diaksara
Biar bibir-bibir cakap membaca
Lalu bertanda tanya
Pada kemelut ocehan jiwa
Pergiku kemana
Kalian pergi kesini
Hingga baris terakhir masih bertanya
Padahal tak bertanya
Kemana pergiku
Silahkan tambahkan tanda tanya
Jika memaksa
Ini hanya soal bibir-bibir yang menari

Jambesari, 17.17 WIB, 28 Desember 2016

HARI IBU, AKU INGAT PIJAKAN IBU-KU

Aku lenyap...
Hilang dimakan aspal yang rusak itu
Apalagi musim hujan
Lumpur-lumpur gagah meludahiku
Pak Presiden
Aku melapor dari pijakan Ibu
Bosan kulihat seringai para kantoran itu
Seakan tak tahu apa-apa
Hujan lebat uang gedung kementerian
Akh... sudahlah
Mungkin aku berburuk sangka
Tapi...
Ya aku bosan Pak Presiden
Bosan gaya mereka yang berbodoh bersama
Rokok dihimpit
Kopi di meja
Tertawa menelan ludah kampanye
Pak Presiden
Maaf Pak Presiden
Seharusnya ini hari Ibu
Tapi begitu terlintas
Refleksi hari Ibu aku teringat bumi Ibu-ku
Pungli apalagi Pak Presiden
Ramai disini
Hanya kita sama-sama berlagak tak tahu
Kita berlagak dipolitisi
Yang bawah takut
Yang atas lupa janji
Sumpah dinas
Katanya
Di kata-kata saja
Bagaimana ini Pak Presiden
Bermainlah kesini Pak Presiden
Beri aku uang
Beri kami uang
Kami lapar
Kami ingin membunuh para begal
Yang tak membegal di jalan
Maaf
Bukan keseluruhan
Tapi lihatlah
Tangan-tangan kuasa telah sakti
Semua terkendali dengan rapi
Aku ya hanya tersenyum Pak Presiden
Tak punya jurus
Tak punya ajian mapan
Hanya pada tulisan kusakralkan
Tanah nenek moyangku yang dijajah
Pribumi sendiri lupa diri
Mereka tersangka
Bukan cina
Tema metropolitan itu
Bukan...
Pribumi Pak Presiden
Sudahlah Pak Presiden
Demikian curahan hatiku
Di hari Ibu
Aku ingat pijakan Ibu-ku

Jambesari, 22 Desember 2016

ADZAN MAGHRIB, AKU INGIN MENULIS

Mata yang terlantar
Terbuang pada remang
Pada dosa di depan sana
Adzan maghrib
Aku ingin menulis
Di sisimu
Awal langit dibuka lebar
Kuperkenalkan dosa-dosaku
Dosa yang kadang kubanggakan
Hatiku kegelisahan
Sebab kotoran makin karat
Itupun najis
Sampai terkadang
Busuk dagingku berbau mematikan
Adzan maghrib
Aku telah menulis
Sedikit aku pulas
Di sisimu
Lalu aku pergi pada ketenangan

Jambesari, Bondowoso, 20 Desember 2016

ANDAI BUNG KARNO BERKATA KEPADAKU

Andai
Ingat...
Ini andai
Jangan salah paham
Ini andai
Jangan dikira benar
Ini andai
Ingat...
Ini andai
Andai
Camkanlah
Andai

Andai Begini
Andai Bung Karno berkata kepadaku
“Bung Topek!!!
Kenapa kau tak hidup saja sewaktu
Denganku”

Kujawab begini
“aku takut Bung,
Takut kau tahu  bangsatnya diriku
Pada negeri yang runyam ini.
Lihatlah aku Bung!!!
Masih menatap egois
Lupa habbul wathon
Masih pribumi berkepentingan sendiri
Pancasilamu yang kau baca bergetar
Telah kulenyapkan sakralnya.
Lihatlah aku Bung!!!
Fatihah kerap lupa teruntuk kepahlawanan
Yang ditangisi hanya soal pakan
Bukan tergerusnya moral ketimuran.
Di negeri sejuta mimpi
Aku justru sibuk dengan mimpiku sendiri
Dan kau masih ingin sewaktu denganku
Hidup bersama antek-antek pelupa
Lupa persatuan
Lupa pada rahim Ibu Pertiwi
Seakan melarang beranak lagi
Entahlah, Bung!!!
Jangan berharap hidup denganku
Biar tak kucur darah matamu
Meski belum kulihat sejarahmu
Tentang tangisan
Sebab kau pandai menyembunyikan
Bung!!!
Jangan berharap lagi hidup denganku
Biarlah aku hidup tanpamu
Menulis saja yang terjadi
Baca saja puisi-puisiku
Diam-diam
Jangan sampai ada yang tahu
Aku takut dikira gila
Sebab saat ini nasionalis dianggap derita
Candu sejarah katanya
Sudah Bung!!!
Ini rokokku sisa dua batang
Satu untukmu
Satu untukku
Mari nikmati bersama
Pada pertemuan dua waktu yang bisu
Kopiku masih hangat
Kopimu sekan dihilangkan aromanya
Dari negeri lupa ingatan
Minum saja kopiku
Mari kepulkan rokok kita bersama-sama
Biar aku ingat lagi
Bagaimana asap putih melangit perlahan
Melewati ketenangan.
Aku tak sopan bukan
Maka janganlah hidup sewaktu
Denganku yang bajingan.”

Ingat
Andai
Jangan menganggap benar
Camkanlah
Ini hanya andai
Andai saja
Jangan salah sangka
Andai

17 Desember 2016

CINTAKU MASIH DANGKAL

Yaa Sayyidi Yaa Muhammad Masih dangkal cintaku Masih tak getar hati ini menyambutmu Yaa Sayyidi Yaa Muhammad Masih gersang imanku Masih tak mampu teteskan air mata hati padamu Yaa Sayyidi Yaa Muhammad Maafkan umatmu yang congkak ini Masih tak mendadakan namamu Masih tak mendadakan akhlakmu Masih tak mendadakan ajaranmu Masih tak membalas cintamu Yaa Sayyidi Yaa Muhammad Cintaku masih dangkal Masih kotor hati ini memelukmu Masih anyir dosa sekujur jiwa Maafkan umatmu yang tak tahu diri ini Yaa Sayyidi Yaa Muhammad Seperti puisi yang kebingungan Yang entah bagaimana kucur Keihklasan tiap baitnya Tak kunjung kucur deras Begitu-pun cintaku Yaa Sayyidi Yaa Muhammad Maafkan umatmu yang dangkal Yang tak hiraukan teladan Yang selalu lupa daratan Maafkan wahai nabiku Maafkan wahai rosulku Maafkan wahai kekasihku Maafkan cinta yang dangkal Masih mengharap syafaatmu Masih mengharap kasih sayangmu Masih mengharap cintamu Yaa Sayyidi Yaa Muhammad Cintaku masih dangkal Tapi cintamu Wahai nabiku Rosulku, kekasihku Aku umatmu malu kepadamu Masih dangkal Masih sangat dangkal Cintaku bahkan sukar dirasakan Maafkan umatmu ini Yaa Sayyidi Yaa Muhammad Shollu alaika Yaa Habibi Jambesari, Senin, 12 Desember 2016

KUNANG-KUNANG SUBUH, KEMANAKAH?

Kemanakah
Mungkin sepanjang jalan telah perkotaan
Kunang-kunang subuh, kemanakah
Apa sudah mati semua
Diracun tangan-tangan elitis-borjouis
Atau dimangsa ke-tak-sengajaan ekosistem alam
Kunang-kunang
Mekar antara gelap gulita
Semasa kecil aku pernah bercinta dengan mereka
Subuh di ibu sungai
Suara dedanuan runtuh perlahan
Ikan-ikan di bawah bulan
Kunang-kunang menggoda sesekali
Sekarang, entah kemana kalian
Sudahkah kalian punah
Kala merdu politikus bernyanyi
Kala pancasila mulai remang di-hati-kan
Kunang-kunang
Sepanjang jalan semak-belukar-nya pertiwi
Dimanakah kalian bersemedi
Tak inginkah jalan-jalan lagi
Menyapa subuh negeri ini
Atau kalian telah benar-benar tiada nyawa menari
Kunang-kunang subuh, kemanakah?
Aku merindukan kalian
Mungil-mungil menawan
Apalagi kini musim hujan
Jalan-jalan setapak licin diseberang
Aku butuh kalian
Mengantarkan pada teduh pandang
Sebab mata kini diprovokasi jutaan kesilauan
Lampion-lampion nista penjajah kemerdekaan
Yang semakin rapi
Semakin eksotis berbalut perjuangan
Berbalut seragam pemerintahan
Hampir tak diduga kebanyakan nasionalis ekstrimis
Bahkan bunuh diri
Kita dicap pemberontak pinggiran
Kaum sandal jepit yang kehilangan kunang-kunang
Kemanakah?
Kunang-kunang subuh
Hampir terbit lagi matahari
Tak ingin dijadikan kuli lagi
Apalagi di negeri sendiri
Kunang-kunang subuh
Sejenak saja sapa kaum kami
Biar elok pertiwi pagi ini

Jambesari,11 Desember 2016

DIMENSI ANGIN

Aku duduk
Aku lari pada ujung dunia
Aku bergerak
Aku mendekap di pojok dunia
Aku adalah dimensi angin
Sub satuan keharmonisan sebuah formula
Sedang disadar bedanya
Jika aku dianggap gila
Maka pantas dan aku tak menyalahkan mereka
Aku menjerit
Sepi meraja
Aku diam
Gemuruh semakin mencekam
Aku dimensi angin
Mata mereka bukan mataku
Telingaku bukan telinga mereka
Sebagian memahami
Sebagian meludahi dadaku
Sebagian melempar batu di mukaku
Aku dimensi angin
Aku merana
Saktiku membabi buta
Aku bahagia
Camkanlah
Masih tak henti angin lirih
Menjajah pori-pori
Aku dimensi angin
Bukan soal kesombongan mantra
Ini hanya pengenalan formula
Siapa dan bagaimana
Sebuah prosedural mekanis biologis
Sebab mengaji diri sendiri tak akan usai
Bahkan triluanan catatan pinggir
Dan menulisnya adalah cara kembali
Pada dimensi angin
Dimensi yang tak bersatuan dimensi
Fisika hanya nilai kesepakatan saja
Kadang aku dan mereka lupa
Semua tak harus disepakati
Bukankah kejanggalan fiksi
Mitos, bahkan isu konspirasi galaksi
Aku dan mereka lebih rumit
Aku dimensi angin
Hanya menyadarkan tentang dingin
Selamat mereka-reka abstraksi sebuah puisi
Selamat pagi, Angin!

Angin Pagi Jambesari, 10 Desember 2016