DIMENSI ANGIN

Aku duduk
Aku lari pada ujung dunia
Aku bergerak
Aku mendekap di pojok dunia
Aku adalah dimensi angin
Sub satuan keharmonisan sebuah formula
Sedang disadar bedanya
Jika aku dianggap gila
Maka pantas dan aku tak menyalahkan mereka
Aku menjerit
Sepi meraja
Aku diam
Gemuruh semakin mencekam
Aku dimensi angin
Mata mereka bukan mataku
Telingaku bukan telinga mereka
Sebagian memahami
Sebagian meludahi dadaku
Sebagian melempar batu di mukaku
Aku dimensi angin
Aku merana
Saktiku membabi buta
Aku bahagia
Camkanlah
Masih tak henti angin lirih
Menjajah pori-pori
Aku dimensi angin
Bukan soal kesombongan mantra
Ini hanya pengenalan formula
Siapa dan bagaimana
Sebuah prosedural mekanis biologis
Sebab mengaji diri sendiri tak akan usai
Bahkan triluanan catatan pinggir
Dan menulisnya adalah cara kembali
Pada dimensi angin
Dimensi yang tak bersatuan dimensi
Fisika hanya nilai kesepakatan saja
Kadang aku dan mereka lupa
Semua tak harus disepakati
Bukankah kejanggalan fiksi
Mitos, bahkan isu konspirasi galaksi
Aku dan mereka lebih rumit
Aku dimensi angin
Hanya menyadarkan tentang dingin
Selamat mereka-reka abstraksi sebuah puisi
Selamat pagi, Angin!

Angin Pagi Jambesari, 10 Desember 2016

No comments:

Post a Comment