SATU LAKON RIBUAN DALANG

Pementasan dengan plot kosong
Cahaya dari belakang;
Fokus; cahaya hilang
Instrumental magis
Ditabuh gejolak alam
Satu lakon masuk di pojok pentas
Obor berjalan sendiri
Hanya sepintas muka
Putih pekat usulan satu dalang
Satu dalang lagi tentang kebaya hitam
"Masuk lampu sorot"
Satu dalang lagi menjerit lirih
Penonton masih tenang
Tabuhan makin berombak
"Seruling main....!!!!!"
Satu dari sekian ribu dalang memerintah
Menari sang lakon se-jadinya
Kemelut di atas panggung
Roboh....
Di tengah pentas
Darah mengalir anyir
Sang lakon terluka
Obor mati
"Bangkit...!!!!"
"Terkaparlah lebih lama!!!!!!"
"Bernyanyilah lirih!!!!!!"
"Meludahlah!!!!"
Satu persatu para dalang berebut pinta
Penonton mulai gusar
Apakah plot selanjutnya
Lakon tiada gerak
Hingga lampu sorot memerah
Lima menit
Sepuluh menit
Lima puluh menit
Nahas
Darah tak ada dalam naskah
Para dalang saling tuding
Sang lakon telah tewas
Kenyataan bukan pementasan
Dari mana darah disebabkan
Para dalang tutup kata
Pementasan selesai
Saatnya melayat ketentuan
Para dalang pergi tanpa doa

Jambesari, 29 Januari 2017

KAMAR 3,5x3,25 m

Seperti goa tapa
Deras cerita disini
Sekitar dua tahun bersemi
Ribuan racikan kopi
Diskusi petaka hingga bahagia
Diskusi politik bangsa hingga bajingan desa
Diskusi karya hingga apresiasinya
Diskusi jenaka hingga keruh alis di dada
Diskusi romansa yang sudah pasti ada
Diskusi struktural hingga kultural
Diskusi intelektual hingga spritual
Diskusi tentang sebuah peradaban
Diskusi tentang sebuah pengalaman
Diskusi tentang kemalaikatan
Bahkan diskusi tentang kesetanan
Disini
Di Kamar 3,5x3,25 m
Kamar hati ke hati
Kamar rindu ke rindu
Sahabat-sahabat
Kerabat-kerabat
Bahkan entah siapa
Si para mungil berdialektika
Kadang sekedar mendengarkan sebuah lagu
Kadang sekedar menghirup asap ber-nikotin
Kadang sekedar celoteh penghilang penat
Hidup penuh hikmah untuk duduk bersama
Disini Kamar 3,5x3,25 m
Kamar bertema "Kawasan Dilarang Diam"
Pojok pinggiran yang kehausan
Ingin bertahan mimpi-mimpi
Kemarilah siapa saja
Jadilah kita bercerita
Tentang apa yang telah lewat
Tentang apa kegaduhan setiap kita
Jangan suka
Duka adalah kopi
Mari rayakan disini
Kaji empati
Kaji ilusi
Kaji imajinasi
Kaji substansi
Meski tiada janji tentang materi
Disini hanya disediakan demokrasi
Tuan rumah yang berterima kasih
Telah kucur ilmu yang anda miliki
Disini
Kamar 3,5x3,25 m
Suatu saat mungkin akan tiada
Goa tapa yang sakral ini
Sedang senyum anda
Mengintip di awal tawassul Fatihah
Saat tuannya sudah tak disini
Kamar 3,5x3,25 m
Dan teori kembali pada nyatanya lagi
Lalu hujan perlahan tak deras
Senja segera lewat
Kamar 3,5x3,25 m
Ini kenang tuan anda
Tentang permaafan kepada semua tamu
Yang mungkin salah jamu
Atau mungkin salah kata yang salah diramu

Suatu Senja di Kamar 3,5x3,25 m, Jambesari, 28 Januari 2017

SENJA; BAWALAH DOSAKU PADA MEREKA

Senja
Tiada debu bernyanyi
Lelap tidur bersama hujan
Kau;
Senja;
Bawalah dosaku pada mereka
Yang kusakiti; mereka
Yang kudholimi; mereka
Yang kufitnah; mereka
Yang kafani; mereka
Yang kukubur; mereka
Yang kuinjak; mereka
Senja;
Bawalah dosaku pada mereka
Godalah mereka
Buat hati; mereka
Memaafkan aku
Tenangkan mereka
Buat hati; mereka
Mengampuni aku
Bahagiakan mereka
Buat hidup; mereka
Lebih indah dari harapan
Lebih bermakna surga
Kau;
Senja;
Bawalah dosaku pada mereka
Ijinkan aku menangisi tanpa air mata
Tentang penyesalan
Masa lalu yang kurang ajar
Masa lalu yang; mereka
Kuludahi sengaja
Bahkan tiadanya sengaja
Kau;
Senja;
Terima kasih sudimu
Membawa dosaku pada mereka
Sampaikan juga salam maafku
Jika tiada maaf; mereka
Kutunggu dendam
Aku ingin terlahir kembali
Setelah petang terjadi

Grujugan Lor, 25 Januari 2016

PERGI TAK DIUNDANG

Ini kehidupan
Ini kehidupan
Sekali lagi
Ini kehidupan
Pergi tak diundang
Harus ikhlas
Dicaci maki, diludahi
Bahkan tak diundang
Pergi pada apa yang di hati
Seperti debu pada samudera
Air tak mengundang
Bahkan ia tenggelam
Baik jika hanya diusir
Pergi tak diundang
Ini kehidupan
Seperti ketika majas mulai tak asik
Makna pergi tak diundang
Menyublim pada untuk apa
Jelas ditertawakan
Bahkan oleh keledai
Bahkan oleh tarian asap di depan muka
Pergi tak diundang
Hanya begini, Saudara
Artikan seperti yang lewat
Di kepala anda
Di apa yang dirasa
Kepergian adalah menuju
Menuju tak harus diundang
Mekar mawar tiada undangan
Ini kehidupan
Beserta artinya
Pergi tak diundang
Mula-mula
Api terlelap
Sejenak terselesaikan
Panas berlalu
Pergi tak diundang
Ini kehidupan

Jambesari Aku Hidup, 24 Januari 2017

ELANG TANPA KAKI

Mata tajam tanpa kedip
Luka hati ditatapnya
Leher terpenggal jatuh membumi
Elang tanpa kaki
Ia melayang sepanjang masa
Selalu mengintai mangsa
Sejajar diatas kemarahan
Diatas keangkuhan
Diatas kepandaian
Diatas kekayaan
Diatas martabat yang hebat
Bahkan diatas kemiskinan
Bahkan diatas kebodohan
Elang tanpa kaki
Ia pembunuh
Sekali mangsa habislah iman
Jika lupa daratan
Maka ia seolah berdiri sebagai Tuhan
Elang tanpa kaki
Melayang
Setiap hati diintai
Sampai kapanpun
Matanya tanpa cakar
Hanya memandang
Si pembunuh berkeliaran
Di langit tanpa batas
Hingga masing-masing hidup tuntas

Jambesari, 14 Januari 2016

22.31 LEBIH

Kudengar sunyi
Sunyi kedengar
Telinga sunyi
Sunyi telinga
Tiada apa
Tak ada suara
Kudengar kekosongan
Tegak antara ber partikel
Dan tiadanya
Apa kudengar
Siapa telinga
Dan jika diam
Sunyi justru beridentitas
Tanpa bintang
Tanpa bulan
Kuhadang angin yang nakal
Pergiku bebas kemana
Lalu aku bertemu sadar
Titik paling penuh pilihan
Di malam
Hampir tengah
22.31 lebih
Dihakimi sunyi

Jambesari, 10 Januari 2016

BERSEMBUNYI DI BALIK SIANG

Datang melamun
Kaca-kaca mengkilat
Di balik siang bersembunyi
Mengintip siapa disana
Letih bermain di halaman
Sedang air hujan kuyup bersama para debu
Siapa!!!
Ternyata siapa menjadi apa
Lalu kuseret
Pada sembunyiku di balik siang
Entah apa
Dan nama bukan lagi sebut
Aku diam memahami

04 Januari 2017

TAHUN BARU SANG PENYAIR

Adalah menghitung kata
Menghitung makna
Menghitung syair
Menghitung kematian tafsir
Menghitung kejujuran
Menghitung kemunafikan
Menghitung bagaimana syair berdiri
Menghitung kebijakan luka
Menghitung air mata kebersukuran
Menghitung dosa yang disyairkan
Menghitung bencana dari kebohongan
Menghitung syair yang lahir
Adalah tahun baru sang penyair
Bagaimana kematian
Bagaimana kehampaan
Bagaimana kebahagian
Bagaimana keegoisan
Bagaimana amarah
Bagaimana semuanya disyairkan
Bagaimana semuanya dibijaksanakan
Adalah titik waktu
Jiwa diajak berletih dalam semedi
Tubuh diajak berpeluh dalam menghujat
Hingga petang terang
Hingga terang petang
Siapa penyair dalam syair-nya
Masihkah kesombongan
Masihkah kepentingan
Masihkah popularitas berkedok gatra
Sang penyair bersyair
Sang penyair kesepian menyepi
Menepi pada trotoar waktu
Sengaja bisu hingga hati mengelana
Di bawah jendela
Senja dihantarkan para malaikat
Dan penyair masih luka
Ternyata syair-syair-nya masih sebagian berdosa
Hingga bagaimana cara menghapus
Syair yang tertulis tak boleh dikikis
Sebab melakukannya adalah bunuh diri
Dan lebih keji dari menghamili
Begitu cara penyair
Menghormati hasil peras nurani
Hingga semoga syair bersaksi
Kelak penyair diadili
Mungkin setelah tahun baru ini
Atau mungkin bertahun baru lagi
Lalu yang namanya mati
Penyair tak ber-syair lagi

01 Januari 2017, SELAMAT TAHUN BARU PARA PENYAIR, SELAMAT MENEMPUH JALAN ROMANTIS MENUJU KEBERTAUHIDAN.

TAHUN ANYAR

Tahun anyar
Anyir jalanan
Knalpot-knalpot makin gahar
Selatan ke utara
Utara ke selatan
Muda makin muda
Tua makin muda
Bayi ikutan muda
Muda-mudi pahamlah kita
Anyar-anyir berkumandang
Semalam bulan diserang petasan
Bulan menangis kesakitan
Tahun anyar
Anyir jiwa
Merayakan dosa-dosa
Atau mungkin merayakan kebersukuran
Tahun anyar
Merintihlah pada aspal-aspal
Pada keramaian di tempat-tempat wisata
Tanyakan untuk apa
Pada diri yang bersemedi dalam bangkai
Bukan salah menyalahkan
Hatimu hatiku
Hati-hati menelisik hati berbeda
Mungkin hatimu pura-pura
Mungkin hatimu pada dasarnya menangis
Bukan ukuran pesta pora
Sebab jaman sekarang
Setan dan malaikat sulit dibedakan
Ini hanya ajakan
Bahkan kepada aku
Yang lupa untuk apa aku merayakan
Tahun anyar
Anyir peluh pagiku
Dalam kamar yang menyaksikan
Tentang perayaan megah
Kultus mendekat kepada kematian
Tahun anyar
Anyir pekaku
Membijaki teka-teki hati
Tentang mereka yang bersimfoni
Di momentum simbolisasi umur bumi
Setelah pagi beranjak mati
Tahun anyar
Anyir puisiku
Diludahi langit yang menghitam
Begitu saban anyar
Semoga kita tak salah tujuan
Sebab mengingat mati
Adalah bentuk pengokohan keimanan
Selamat Tahun Anyar
Anyir dosa jangan dilupakan
Rayakanlah penuh renungan
Hingga senja bahkan malam dilahap doa
Semoga tak banyak korban laka
Tak banyak korban durjana
Amiiinnn......

Jambesari, Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia, 01 JANUARI 2017