HABISKAN!!! HABISKAN!!!

Ada yang menghabiskan kopi
Ada yang menghabiskan imajinasi
Ada yang menghabiskan rindu
Ada yang menghabiskan lagu
Ada yang menghabiskan senja
Ada yang menghabiskan luka
Pertanyaannya
Sadarkah untuk yang sedang dihabiskan
Karena rembulan sebentar lagi padam
Apakah telah siap bintang runtuh dengan anak-anak pertanyaan
Atau hanya korban angin ditampar
Hidup tiada kaki merestui tujuan
Lebih baik mati dikafani elegi
Resah jadilah bukti penghabisan
Di nadi menari ruh ketetapan

Jambesari, 28 Pebruari 2016

MALAM TELAH BUTA

Ia malam
Ia telah buta
Ia tak melihat apa-apa
Hanya desir di telinganya
Bagaimana sunyi berbicara soal sesal
Bagaimana sepi berbisik tentang dosa
Ia malam
Ia telah buta
Ia tak melihat apa-apa
Hanya gerah di kakinya
Bagaimana kesesatan soal melangkah
Bagaimana kembali dengan keistiqomahan
Ia malam
Ia telah buta
Ia tak melihat apa-apa
Hanya rintih-rintih dan rintih di bibirnya
Bagaimana menebus yang tak tertebus
Bagaimana memperbaiki yang telah tiada
Ia malam
Ia telah buta
Ia tak melihat apa-apa
Hanya berusaha merapikan kenyataan di tangannya
Bagaimana dosa diampuni Tuhannya
Bagaimana sesal benar-benar tak terulang
Sebab kini...
Ia ingin rasanya kembali
Memandang yang dipunya hati

Malam di Jambesari, 25 Pebruari 2017

KALIAN MENCAKAR-KU

Mencakar aku
Kalian kuku-kuku
Dikira aku kupu-kupu
Bukan lugu
Kalian belum tahu
Jiwaku bukan malaikat ayu
Hatiku bukan melodi merdu
Jangan lanjutkan benci didayu
Sebab kepulangan sabarku tiada tugu
Kalian masuk wilayahku
Air mata kugeraikan sayu
Di atas sajadah sujudku
Semoga badai lisan reda menggebu
Tangis mulai menggerutu
Apa salah takdir membawaku
Kalian dalam puisi rindu
Maafkan sayatan pedang bengisku
Aku hanya kesengajaan alam berlalu
Kalian mencakar-ku
Aku suka luka-luka berduka rayu
Biar aku merasa hidup mengadu
Tuhan menungguku

Grujugan Lor, 18 Pebruari 2016

SEBUAH SURAT; BANGGAKU

Teruntuk engkau
Engkau yang sempat dibesarkan bersamaku
Engkau yang sempat se-cerita-pendek bersamaku
Engkau yang sempat sewarna bersamaku
Engkau yang sempat sebumi bersamaku
Teruntuk engkau
Engkau yang luar biasa bermesra rasa
Engkau yang luar biasa berderai peluh karya
Engkau yang luar biasa memaparkan senyum asa
Engkau yang luar biasa menata tangga
Teruntuk engkau
Sebuah surat berjudul "Banggaku"
Dari pojok kutulis sembari mendayu lagu
Kau puisi yang masih menawan digubah bagiku
Sebab mengingatmu adalah pecut gairahku
Teruntuk engkau
Diam-diam aku bangga jalan nadi yang kau tuliskan
Menjadi lembaran buku sejarah yang kau abadikan
Biarlah serpihan kisah menjadi ketenangan
Pernah berguru pada karyamu adalah kebanggaan
Teruntuk engkau
Di angkasa yang kau sebutkan adalah senyumku
Kubayangkan kau menari bersama peluh-peluh lusuhmu
Yang menggunung dari kisah-kisah masa lalu
Selamat kepada engkau tentang pencapaian indahmu
Teruntuk engkau
Tersenyumlah pada bumi dari yang tinggi
Biarkan pepohonan yang rindang itu menunduk
Biarkan bunga-bunga mekar menghadap langit
Dan aku menulismu bersama mereka yang bangga

Teruntuk Engkau, Jambesari, 15 Pebruari 2016

YAA NABI, YAA ROSULULLAH, MAAFKAN!!!

Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Sedemikian rindukah mereka kepadaMu
Sedemikian cintakah mereka kepadaMu
Yaa Nabi
Senja ini kudengar
Riwayat seorang sahabatMu
Tangisnya
Rindunya
PadaMu Yaa Nabi
Deras air matanya
MengenangMu Yaa Nabi
Sedang aku
Dimana hati ini
Tiada getir
Tiada kasih
Tiada cinta
PadaMu Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Umatmu yang satu ini
Semakin menjauh dariMu Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Dimana hati ini
Sudahkah teramat kotor
Hingga sulit sekali merinduMu Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Dimana ruh ini
Apakah sudah terbang pada pekat
Buta pada tauladanMu Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Yaa Nabi
Yaa Nabi
Maafkan umatmu yang gersang
Masih tak mampu menghadirkanMu
Dalam langkah-langkah Yaa Nabi
Dalam dzikir-dzikir Yaa Rosulullah
Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Masih berharap syafaatMu
Masih berharap didekapMu
Masih berharap disayangiMu
Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Yaa Nabi
Yaa Nabi
Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Aku ingin merinduMu
Aku ingin mencintaiMu
Yaa Nabi
Dengan syafa'atMu
Sentuhlah hati yang mati ini
Aku ingin dikasihiMu
DisayangiMu
Dijadikan umatMu
Yaa Nabi
Yaa Rosulullah
Bisafa'atika, Yaa Rosulullah
Al-fatihah...
Amin.....

4 Pebruari 2017

TENGAHNYA MALAM

Di tengahnya malam
Entah apa paduka
Anak zaman termenung
Sehabis gerai hujan
Setelahnya lelah akal
Ia lalu bersemedi pada diam
Dengarlah suara kodok
Berisik air sungai
Kepul rokok yang masih tertawa
Di tengahnya malam
Apa terjadi
Telah terjadi apa
Kembali terlintas Tuhan
Tarian sadar
Nalar bertingkai
Pergi dan besok bersama hujan
Tentang kejadian
(titik untuk puisi ini)

Grujugan Lor, Ponpes Al Imam, 00.25 wib, 01 Pebruari 2017